CABE, Catetan Babe (98): Stop Megalomania, Nekochin Mengancam

CABE, Catetan Babe (98): Stop Megalomania, Nekochin Mengancam
Ridwan Saidi, Budayawan Betawi, Sejarawan, Politisi Senior




Oleh : Ridwan Saidi, Budayawan

 

Neo Kolonialisme dan Imperialisme atau Nekolim diksi politik yang sangat ampuh untuk menggalang massa kiri. Kedubes USA dan Inggris hampir tiap hari didemo tahun2 1962-1965.

Jakarta dibanjiri poster dan spanduk yang dibuat Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra/PKI). Teks spanduk: Hei Nekolim, ini dadaku, mana dadamu.

Tiap hari dikumandangkan kampanye anti Nekolim yang sejatinya cerminkan pribadi megalomania.

Beras sudah tak terbeli rakyat. Dan berganti bulgur. Celana sehari dipakai sehari dijemur. Tapi Indonesia memaksakan diri menjadi pemimpin New Emerging Forces alias Nefo.




Dalam kondisi keuangan yang babak belur masih memaksakan diri menyelenggarakan Pesta Olahraga Ganefo.

Tidak ada bekasnya kecuali jadi nama gang di kelurahan Senayan: Gg Ganefo I – IX.

Perilaku megalomania tak berubah walau sekarang sudah era Neokochin Neo Kolonialisme China. Nekochin pinjami uang, separoh wilayah negara si penghutang dirampas kalau tak mampu bayar.

Ini terjadi pada sebuah negara Caucasia yang bertetangga dengan China. Berita terakhir Nekochin claim Natuna utara dan minta Indonesia stop pengeboran migas.

Nekochin jajakan pinjaman tanpa jaminan negara ke Afrika, Malaysia, Indonesia. PM Najib Razak Malaysia jatuh karena hutang dengan Nekochin.

Pemerintah Indonesia besemangat. Kita akan meroket maju. Mandalika menaikkan nama Indonesia. Dengan balap Mobil Jakarta sepantar New York.

Indonesia negara yang diperhitungkan kalau IKN selesai.

Tiap hari kita dikasih omongan macam begini.

Lantas saya sulit membedakan, hidup dalam suasana anti Nekolim, dan hidup di era Nekochin. (RSaidi)

EDITOR : REYNA







banner 468x60