Kesulitan Merekonstruksi Wujud utuh Peradaban Sunda Kuno dan Sriwijaya

Kesulitan Merekonstruksi Wujud utuh Peradaban Sunda Kuno dan Sriwijaya
Ilustrasi : Relief di Candi Sukuh : menggambarkan aktivitas pande besi di masa Jawa kuno




Oleh: M. Arief Wibowo

Dari peradaban-peradaban kuno Nusantara yang saya pelajari, yang paling mudah direkonstruksi bentuk utuhnya menurut saya adalah Jawa Kuno. Tinggal memerlukan ketekunan saja untuk mempelajari ratusan data yang tersedia, berupa ratusan candi, ribuan panel relief pada candi-candi yang menggambarkan kehidupan di Jawa Kuno, ratusan arca, ratusan prasasti, dan puluhan kakawin kuno.

Karena saya tertarik pada peradaban kuno secara umum dan saya meyakini bahwa peradaban-peradaban kuno Nusantara harus dipelajari dalam satu konteks kawasan yang saling terkait, ketika mempelajari Jawa Kuno, saya juga mempelajari Sunda Kuno, Sriwijaya, Bali Kuno, dan juga mengunjungi kota-kota kuno di Asia Tenggara daratan yang sezaman.

Merekonstruksi peradaban Sunda Kuno lebih sulit dari Jawa Kuno. Tempat-tempat ibadah Sunda Kuno umumnya berupa megalith yang tidak memiliki relief-relief yang menunjukkan potret kehidupan di Sunda Kuno. Ada segelintir “candi” dari masa Sunda Kuno, tapi tak ada yang menunjukkan relief kehidupan Sunda Kuno pula. Naskah-naskah Sunda Kuno jumlahnya hanya sekitar dua puluhan jika dibandingkan dengan Jawa Kuno yang jumlahnya berkali-kali lipat. Itu pun biasanya berisi tentang keagamaan dan moralitas.

Gambaran-gambaran tentang kehidupan di Sunda Kuno hanya bisa sedikit kita dapati melalui keterangan tokoh-tokoh kuno seperti Bujangga Manik ataupun pelaut Portugis Tome Pires yang pernah mengunjungi tatar Sunda di masa akhir Pajajaran. Tidak ada arca-arca ataupun artefak-artefak yang menunjukkan bagaimana para raja, ratu, ataupun bangsawan Sunda Kuno dulu berbusana.

Salah satu alat untuk memahami Sunda Kuno adalah kita harus kuat dalam memahami kehidupan masyarakat-masyarakat tradisional Sunda di pedalaman yang saat ini masih kuat memegang tradisinya, seperti di Kanekes, Kampung Kuta, Kampung Naga, Ciburuy, dan lain-lain. Kampung-kampung inilah yang akhirnya saya datangi untuk pelajari lebih lanjut tentang tradisi Sunda.

Bagaimana dengan Sriwijaya? Wah, ini tidak lebih mudah, bila tidak dapat disebut lebih sulit, dari merekonstruksi wujud peradaban Sunda Kuno.

Jumlah data tentang Sriwijaya sama minimnya dengan Sunda Kuno. Tak seperti Sunda Kuno yang bangunan-bangunan ibadahnya berupa megalith, Sriwijaya memiliki candi-candi. Tapi mereka pun tidak memiliki relief-relief yang menunjukkan kehidupan di masa kerajaan Sriwijaya.

Dibandingkan Sunda Kuno yang masih memiliki naskah-naskah kuno yang sampai ke kita, saya belum pernah mengetahui satu pun naskah masa Sriwijaya yang selamat dan sampai ke kita. Informasi tentang Sriwijaya umumnya kita ketahui dari prasasti-prasasti tentang Sriwijaya dan keterangan-keterangan asing sezaman yang pernah memiliki interaksi dengan kerajaan Sriwijaya. Ada beberapa naskah Buddhisme yang disusun bhiksu-bhiksu kuno asing yang pernah belajar di Sriwijaya, seperti Atisha, tapi itu tidak menceritakan soal Sriwijaya.

Salah satu alat bantu yang harus didalami untuk memahami kerajaan Sriwijaya ataupun kerajaan-kerajaan kuno lainnya di Sriwijaya kelihatannya adalah folklore / cerita-cerita rakyat dan tradisi-tradisi turun temurun yang masih dilakukan di masyarakat-masyarakat Sumatera. Di sana tampaknya budaya tutur/lisan masih lebih kuat dari budaya tulisan.

Sebagai seorang keturunan Jawa-Sunda yang beristrikan seorang wanita dari negeri asal kerajaan Sriwijaya, saya masih bergairah untuk mempelajari semua kekayaan budaya Nusantara itu.

M. Arief Wibowo
Arsitek pengkaji peradaban kuno,
Penulis buku “Peradaban Jawa Kuno: Sebuah Gambaran Utuh”










banner 468x60