Novel Muhammad Najib, “SAFARI”(Seri-31): Pulang -(TAMAT)

Novel Muhammad Najib, “SAFARI”(Seri-31): Pulang -(TAMAT)
Dr Muhammad Najib, Duta Besar RI untuk Kerajaan Spanyol dan UNWTO

', layer: '

IKLAN BUKU PAK DUBES

'} ];




Tulisan berseri ini diambil dari Novel “SAFARI” karya Dr Muhammad Najib. Bagi yang berminat dapat mencari bukunya di Google Play Books Store, lihat linknya dibawah tulisan ini. Atau pesan langsung bukunya pada redaksi zonasatunews.com dengan nomor kontak WA: 081216664689

Novel “SAFARI” ini merupakan fiksi murni yang diangkat dari kisah nyata yang dialami sejumlah mahasiswa yang kuliah di luar negri dikombinasi dengan pengalaman pribadi penulisnya. Seorang mahasiswa yang memiliki semangat tinggi untuk menuntut ilmu di negara maju, ditopang oleh idealisme berusaha memahami rahasia kemajuan negara lain yang diharapkan akan berguna bagi bangsa dan negaranya saat kembali ke tanah air. 

Karya: Muhammad Najib
Dubes RI Untuk Kerajaan Spanyol dan UNWTO


Cover Novel “SAFARI” karya Dr Muhammad Najib. Bagi yang berminat dapat mencari bukunya di Google Play Books Store. Ikuti linknya dibawah. 

SERI-31

Rasa percaya diri dan semangat baru mendominasi perasaanku sekembali dari tanah suci. Semoga Allah menerima ibadah umrohku. Aku membuka-buka kembali buku-buku yang terkait langsung dengan desertasiku. Mengecek sekali lagi draft disertasi yang harus segera
diperbanyak dan dikirim ke para calon dosen penguji, lalu menyiapkan materi presentasi dalam bentuk power point.

Suatu hari sebelum hari-H, Aku shalat malam, membaca ayat-ayat khusus, lalu berdoa memohon kepada Allah: Ya Rahman, ya Rahim. Ya Allah, Tuhan yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Kami hambaMu yang rindu akan kasih dan sayang-Mu. Ya Aziz, ya Kawi. Ya Allah yang Maha Perkasa dan Maha Kuat. Kami lemah tanpa kekuatan-Mu. Karena itu, berilah Kami secuil kekuatan-Mu, agar Kami mampu menghadapi berbagai rintangan duniawi menuju cahaya-Mu. Ya Khabir, ya Alim. Ya Allah, Tuhan yang Maha Mengetahui dan Menguasai Semua Ilmu. Berikanlah sekelumit pengetahuan dan ilmu-Mu agar Kami dapat mengerti dan mampu mengamKlkan perintah Mu. Ya Gafur, ya Latif. Ya Allah yang Maha Pengampun dan Maha Halus. Ampunilah semua kesalahan dan kehilafan kami.

Aku memasuki ruang sidang dengan perasaan tenang sekali. Aku mulai menjelaskan bagian-bagian penting dari disertasi yang kutulis dengan menggunakan power point yang dipancarkan ke layar melalui on focus. Semua pertanyaan Aku jawab dengan lugas. Empat orang dosen penguji tampaknya sangat puas dengan karyaku.

Wisuda akan diadakan beberapa hari lagi, orang tua atau sanak saudara dari teman-teman yang akan diwisuda sudah mulai berdatangan. Aku menghadiri beberapa undangan makan malam dari sejumlah teman. Ada
yang menyebutnya sebagai syukuran dan ada pula yang menyebutnya pesta kelulusan. Di antara mereka juga ada yang memanfaatkannya sekaligus untuk rekreasi keluarga.

Mereka semua bergembira-ria, menyongsong hari wisuda yang merupakan hari yang dinantikan selama bertahuntahun. Hanya Aku yang akan menyongsongnya seorang diri. Meskipun punya tabungan, tapi jelas tidak memadai untuk membiayai kedua orang tuaku yang tinggal di Bali
untuk datang ke Jerman.

Hari yang kunantikan akhirnya tiba juga. Aku memilih kemeja putih, dasi merah, dengan jas hitam yang terbaik yang kumiliki. Pagi itu Aku merasa bahagia sekali, sebahagia memasuki Hari Raya Idul Fitri saat Aku masih kecil dulu.

Semua orang yang kulihat seolah tersenyum. Bunga-bunga di taman pun seolah mekar untuk menyambutku. Temanteman menyalami dan memberikan ucapan selamat saat Aku memasuki gerbang kampus. Aku mengenakan toga kemudian duduk berbaris dengan para wisudawan lainnya di tempat yang agak tinggi, terpisah dengan para undangan.

Prosesi wisuda dimulai, diawali dengan paduan suara, lalu Rektor memberikan sambutan sekaligus pesan-pesan yang ditujukan kepada calon wisudawan dan keluarga. Nama wisudawan dipanggil satu-persatu. Lama Aku menanti, namaku tidak disebut-sebut, padahal semua teman di kelasku yang lulus sudah dipanggil. Apa yang terjadi? Aku perhatikan Rektor mengambil map yang berbeda.

“Ada tiga orang wisudawan yang lulus dengan predikat summa cumlaude atau sangat memuaskan,” kata Rektor memulai.

“Pertama Oei Gie Chuan dari China, Amitha Suri dari India dan Amil bin Mujahid dari Indonesia”, sembari mengakhiri pidatonya.

Jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Kebahagiaan yang tiada tara mengguyur seluruh jiwaku. Teman-teman di kiri dan kananku yang diwisuda pada saat yang sama berebut menyalamiku. Alhamdulillah, Engkau telah memenuhi doa-doaku, Aku bersyukur dalam hati. Kami bertiga lalu  dipanggil ke panggung untuk diwisuda dan menerima penghargaan khusus, berupa sertifikat yang dimasukkan dalam pipa kertas kecil yang dibungkus dengan warna emas yang pada bagian ujungnya diikatkan tali halus.

Setelah itu, baru wisudawan yang lain maju satu-persatu, diwisuda dengan cara memindahkan posisi kuncir yang tergantung pada bagian atas topi setiap wisudawan. Prosesi selesai, teman-teman lalu mengabadikan saat-saat berharga itu dengan foto bersama keluarga mereka. Aku yang seorang diri berjalan perlahan menuju pintu keluar.

Saat hendak menuruni tangga, terdengar suara seorang perempuan memanggil namaku. Aku menoleh. Ternyata Nurul berdiri di samping pintu. Ia memegang sekuntum mawar warna merah jambu. Lalu Aku mendekatinya.

“Assalamu ‘alaikum”, sapaku.

“Waalaikum salam”, jawabnya.

Lalu ia mendekat sembari menyodorkan mawar yang bertumpu pada tangkai yang dilengkapi dua helai daun yang masih segar. Aku menerima hadiah itu. Sebagai apresiasi kucium mesra bunga itu di depannya. Ia tersenyum manja sehingga terlihat lesung pipitnya.

“Mabruk”, katanya memberikan ucapan selamat dalam bahasa Arab.

“Syukran”, jawabku.

“Bagaimana rencanamu selanjutnya?”, tanya dia dengan suara cemas.

“Aku belum tahu”, jawabku apa adanya.

“Aku berharap Kamu akan dapat pekerjaan di sini”, katanya dengan suara penuh harap. Aku memahami makna di balik kata-katanya.

“Semoga”, jawabku dengan harapan bisa menghiburnya.

“Aku akan selalu berdoa, semoga Kamu mendapatkan pekerjaan yang baik di sini,” katanya lagi untuk menegaskan.

“Terimakasih”, jawabku.

la kemudian bergerak meninggalkanku. Aku memandangi langkah demi langkahnya, sampai dia hilang dari pandangan.

Baca Juga:

Sore harinya Aku sengaja datang ke rumah Herr, Prof. Frederich, pembimbingku dengan maksud mengucapkan terimakasih atas bimbingannya selama ini. Saat Aku tiba, beliau sedang membaca buku sambil minum kopi di beranda belakang rumahnya ditemani sang istri.

“Selamat ya”, kata Herr menyambut kedatanganku.

Mbok Musni juga berdiri ikut menyalamiku, “Bapak sudah bilang kalau Kamu lulus dengan sangat memuaskan”, katanya dalam Bahasa Bali.

“Begitulah. Semua itu Aku raih berkat bantuan Bapak”, sahutku merendah.

Ia memersilahkanku duduk sambil mengambilkan pisang goreng yang ditempatkan di piring kecil, lalu meletakkannya di tempatku duduk.

“Kemana rencanamu selanjutnya?”, tanya Herr kepadaku sambil mengangkat kacamata baca yang dikenakannya.

“Belum tahu”, jawabku lepas.

“Kalau mau kerja di Jerman, tinggal pilih di perusahan mana Kamu suka. Aku bisa merekomendasikannya”.

“Bagaimana pendapat Herr kalau Aku kembali ke tanah air?”, tanyaku.

“Itu hak Anda sepenuhnya untuk menentukan pilihan. Tapi kalau Aku boleh saran, sementara Anda baiknya bekerja di sini untuk mendapat tambahan pengalaman sekaligus mengumpulkan uang. Nanti kalau sudah dirasa cukup, baru pulang. Itu akan lebih baik dibanding pulang tergesagesa”.

“Rasanya Aku cenderung untuk pulang”, kataku dengan lugas.

“Aku tahu betul kondisi negerimu. Di sini Aku bisa membantu mendapatkan pekerjaan untuk orang yang memiliki prestasi sepertimu. Gaji besar dengan fasilitas rumah dan mobil yang akan menjamin Anda bisa hidup nyaman”, katanya dengan nada merayu.

“Tapi, hidup di Indonesia jauh lebih enak”, komentarku dengan nada canda.

“Kok bisa?”, katanya dengan wajah heran.

“Di Indonesia semua serba otomatis”, kataku.

Prof. Frederich dan istrinya memperbaiki tempat duduk dan mengarahkan badannya ke arahku dengan pandangan heran.

“Piring kotor cukup diletakkan di meja, sebentar lagi akan bersih sendiri dan kembali ke raknya. Pakaian kotor lempar saja ke pojok ruangan, besok akan bersih plus sudah disetrika berada di lemari”, komentarku.

Mbok Musni yang mengerti banyolanku terkekeh-kekeh. Herr menoleh ke arah istrinya, tidak mengerti.

“Begini, di Indonesia pembantu rumah tangga itu murah dan gampang carinya, sehingga sebuah keluarga bisa punya pembantu dua sampai tiga orang. Sementara, di sini mahal dan susah carinya, sehingga walaupun ada berbagai peralatan rumah tangga sangat modern, semua harus kita kerjakan sendiri”, katanya menjelaskan.

Prof. Frederich hanya tersenyum kecil mendengarnya, lalu berkata, “Kamu tidak perlu memberi jawaban sekarang dan pertimbangkanlah masak-masak!”.

Menjelang tidur tawaran Prof. Frederich terus terngiang di kepalaku. Aku bisa saja menunda kepulanganku satu atau dua tahun dengan berbagai alasan. Apalagi Aku berhasil menyelesaikan studiku hanya dalam waktu empat tahun dari jatah lima tahun yang diberikan. Harapan Nurul juga menambah semangatku untuk mengikuti saran Herr.

Aku meletakkan kepala ke bantal sambil meluruskan badanku di tempat tidur. Pikiranku terbang tinggi ke angkasa lepas. Jenjang pendidikan tinggi sudah di tangan dan hidup nyaman sudah di depan mata. Alasan-alasan untuk menunda kepulangan makin lama semakin banyak, tapi pikiranku tidak kunjung bulat untuk mengambil keputusan.

Lebih baik Aku shalat Istikharah, pikirku. Barangkali dengan berkonsultasi pada yang Maha Tahu, akan membuat Aku mantap mengambil keputusan. Lalu Aku bangun untuk mengambil wudhu. Shalat, lalu berdoa, memohon petunjuk. Bagaimana dengan harapan ibuku? Pelan-pelan wajahnya muncul. Penderitaan dan pengorbanannya
terbayang kembali dalam ingatanku. Lalu bagaimana dengan nasib bangsa dan negaraku yang kini sangat membutuhkan orang-orang yang mampu membantu mengatasi problem ekonomi dan politik yang belum kunjung selesai?.

Tiba-tiba wajah Azam muncul di hadapanku.

“Jangankan sekadar mengorbankan studi, bahkan nyawa pun akan Aku berikan demi bangsa dan negara”, katakatanya seperti diucapkan kembali.

Astagafirullah, Aku jadi malu pada Azam. Betapa egoisnya Aku. Betapa abainya Aku terhadap kepentingan orang banyak, kata hati kecilku mengingatkan. Rasanya inilah petunjuk yang Aku minta. Aku harus pulang. Tekadku telah bulat. Aku menunggu waktu Subuh tiba. Sesudah Shalat Subuh usai, Aku menyandarkan kepala ke bantal untuk menambah istirahatku.

Menjelang matahari terbut, ponselku berkedip tanda ada WA masuk. Aku geser tubuhku untuk melihatnya. Ternyata dari Vera: “Besok malam teman-teman ingin mengadakan syukuran atas kesuksesan abang”.

“Tempatnya di mana?”, jawabku.

“Cukup Abang beritahu naik kereta yang jam berapa nanti Saya jemput”, balasnya.

Saat Aku menginjakkan kaki di Berlin, Vera langsung menyonsongku dengan manja, lalu menggapit lengan kiriku tanpa canggung.

“Kita putar-putar dulu, nanti kalau teman-teman sudah kumpul baru kita datang”, katanya.

Vera memacu mobilnya, meliuk-liuk di keramaian kota Berlin dengan cekatan.

“Bagaimana rencana selanjutnya?”, katanya sambil menghentikan mobilnya di pinggir Sungai Rhine yang membelah kota Berlin.

“Aku belum memutuskan, tapi cenderung untuk pulang dulu”, jawabku diplomatis.

la memandang jauh ke sungai, seolah memerhatikan kapal yang lalu lalang membawa wisatawan.

“Kalau diperlukan, ayahku bisa membantu untuk mendapatkan pekerjaan yang baik di sini”, katanya.

“Terimakasih”, jawabku.

“Untuk sementara Abang juga dapat tinggal di Guest House, sampai mendapatkan tempat tinggal yang layak di Berlin”, katanya lagi merekomendasikan.

Aku tidak menjawab. Dari pernyataan-pernyataannya terasa sekali, ia ingin Aku tidak segera pulang.

“Aku ingin segera mencium tangan ibuku”, kataku diplomatis.

“Tapi, segera kembali lagi, kan!”, katanya mendesak dengan wajah penuh harap.

“Mudah-mudahan”, jawabku.

WA masuk ke HP Vera. Ia melihat sejenak lalu mengajakku kembali. Mobil meluncur dengan cepat, dan berhenti di sebuah restoran Indonesia. Restoran milik orang Indonesia ini cukup terkenal, tentu karena rasanya yang enak dan harganya yang tidak terlalu mahal. Aku beberapa kali pernah makan di tempat ini. Menunya campuran antara masakan Indonesia, Thailand dan Cina. Hanya ornamen ruangannya yang seratus persen Indonesia.

Sepuluh orang duduk melingkari meja makan yang panjang. Aku mengenal mereka semua, para pengurus dan mereka yang aktif di PPI. Budiono yang menggantikanku sebagai ketua PPI menyalamiku, memberikan ucapan selamat, diikuti yang lain. Aku dipersilakan duduk di
sampingnya. Setelah Vera memberi isyarat, Budiono atas nama kawan-kawan mengucapkan selamat, lalu mendoakan agar dengan ilmu yang Aku dapat bisa sukses dalam mengarungi samudra kehidupan.

Aku mengucapkan terimakasih, sekaligus sebagai senior mengingatkan mereka semua agar tetap tekun belajar, dan segera kembali ke tanah air untuk mengabdi pada bangsa dan negara. Dan jangan lupa keluarga mereka terus menanti dan berdoa. Sambutan ini Aku berikan sekaligus untuk memberikan pesan pada Vera. Acara selesai, Vera mengeluarkan kartu kreditnya pada pelayan. Berarti dia sponsornya, kataku dalam hati.

Setelah bersalaman Aku pulang bersama Vera dan bermalam di Wisma KBRI. Keesokan harinya, Aku diantar Vera untuk berpamitan pada kedua orang tuanya.

“Bapak dengar kamu akan segera kembali ke tanah air”, kata Pak Dubes, didampingi Bu Atik. Pasti Vera sudah banyak bercerita pada mereka, pikirku.

“Begitulah”, jawabku.

“Karena itu, pada kesempatan ini Saya ingin mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan Bapak dan Ibu selama Saya di sini. Saya juga mohon doa semoga ilmu yang Saya dapat bisa bermanfaat bagi bangsa dan negara. Juga Saya mohon maaf sekiranya selama Saya di sini ada kata atau tindakan yang keliru”, kataku seraya menyalami mereka satu persatu.

Mereka berdua tersenyum cerah lalu mengantarku sampai ke pintu depan. Vera masuk ke mobil, Aku duduk di sebelahnya. Lalu ia menyalakan mobil, bergerak dengan pelan, Aku membuka kaca, kemudian melambaikan tangan kepada Bapak dan Ibu Dubes.

Aku tak tahu apa yang mereka pikirkan tentang hubungan kami berdua.
Kereta sepuluh menit lagi akan berangkat. Kami berdua turun tergesa-gesa dan memasuki stasiun sambil berlari kecil. Kami menaiki eskalator menuju lantai dua tempat kereta berada.

Sebelum Aku masuk ke dalam kereta, Vera mengulurkan tangannya. Kami berjabat tangan lama sekali. Ia memegang tanganku erat sekali, seolah tak ingin melepas selamanya. Pluit berbunyi, tanda kereta akan segera berangkat. Aku tepuk-tepuk pipi kanannya dengan menggunakan tangan kiriku, sembari Aku longgarkan perlahan-lahan genggamanya. Aku perhatikan matanya mulai berkaca-kaca. Aku tak kuasa menatap wajahnya. Aku segera membalikkan badan dan masuk ke dalam gerbong kereta api. Pintu kereta tertutup secara otomatis, dan kereta bergerak makin lama semakin cepat.

Vera tetap berdiri terpaku di tempatnya. Kereta terus bergerak meninggalkan Berlin melewati ladang-ladang hijau nan luas membentang, pohon-pohon yang daunnya berjatuhan sehingga hanya tinggal batang, dahan, dan rantingnya. Musim gugur bagai mengiringi kepergianku, makin menambah sedih hatiku, berpisah dengan orang-orang yang Aku kasihi.

TAMAT

Serial Novel ini akan berakhir (Tamat)

Berikutnya akan dimuat Serial Buku yang tidak kalah menariknya: “RIHLAH PERADABAN Perjalanan Penuh Makna di Turki dan Spanyol”.

Buku ini ditulis oleh Biyanto, Syamsudin, dan Siti Agustini, aktivis PWM  Jawa Timur dalam melakukan perjalanan ke Turki dan Spanyol

EDITOR: REYNA

Bagi yang berminat dengan karya-karya novel Dr Muhammad Najib dapat mencari bukunya di Google Play Books Store, melalui link dibawah ini:

Judul Novel: Di Beranda Istana Alhambra
https://play.google.com/store/books/details?id=IpOhEAAAQBAJ

Judul Novel: Safari
https://play.google.com/store/books/details?id=LpShEAAAQBAJ

Judul Novel: Bersujud Diatas Bara
https://play.google.com/store/books/details?id=WJShEAAAQBAJ


Buku-buku novel karya Dr Muhammad Najib juga bisa dibeli di Shoppe melalui link: https://shp.ee/ks65np4



http://www.zonasatunews.com/wp-content/uploads/2017/11/aka-printing-iklan-2.jpg></a>
</div>
<p><!--CusAds0--><!--CusAds0--></p>
<div style=

9 Responses

  1. thai massage schoolSeptember 23, 2023 at 5:20 am

    … [Trackback]

    […] Find More to that Topic: zonasatunews.com/sosial-budaya/novel-muhammad-najib-safariseri-31-pulang-tamat/ […]

  2. Sboasia9September 23, 2023 at 5:21 am

    … [Trackback]

    […] Here you can find 71456 more Information on that Topic: zonasatunews.com/sosial-budaya/novel-muhammad-najib-safariseri-31-pulang-tamat/ […]

  3. tv sizeNovember 2, 2023 at 12:34 am

    … [Trackback]

    […] Read More on that Topic: zonasatunews.com/sosial-budaya/novel-muhammad-najib-safariseri-31-pulang-tamat/ […]

  4. dk7.comJanuary 2, 2024 at 7:05 am

    … [Trackback]

    […] Find More here on that Topic: zonasatunews.com/sosial-budaya/novel-muhammad-najib-safariseri-31-pulang-tamat/ […]

  5. เน็ต ais ไม่ลดสปีดFebruary 9, 2024 at 7:19 am

    … [Trackback]

    […] There you will find 18329 additional Information to that Topic: zonasatunews.com/sosial-budaya/novel-muhammad-najib-safariseri-31-pulang-tamat/ […]

  6. เกมออนไลน์ LSM99March 3, 2024 at 9:09 am

    … [Trackback]

    […] Find More on that Topic: zonasatunews.com/sosial-budaya/novel-muhammad-najib-safariseri-31-pulang-tamat/ […]

  7. seremoni psilocybin sea salt chocolate barMarch 30, 2024 at 1:01 pm

    … [Trackback]

    […] Information to that Topic: zonasatunews.com/sosial-budaya/novel-muhammad-najib-safariseri-31-pulang-tamat/ […]

  8. magic mushroom dispensary review,April 15, 2024 at 5:30 am

    … [Trackback]

    […] There you can find 39601 additional Information to that Topic: zonasatunews.com/sosial-budaya/novel-muhammad-najib-safariseri-31-pulang-tamat/ […]

  9. more informationMay 3, 2024 at 12:59 am

    … [Trackback]

    […] Find More on that Topic: zonasatunews.com/sosial-budaya/novel-muhammad-najib-safariseri-31-pulang-tamat/ […]