Novel Terbaru Dr Muhammad Najib: “Jalur Rempah Sebagai Jembatan Timur dan Barat” (Seri-15): Perang Salib di Front Kedua

Novel Terbaru Dr Muhammad Najib: “Jalur Rempah Sebagai Jembatan Timur dan Barat” (Seri-15): Perang Salib di Front Kedua
Dr Muhammad Najib, Duta Besar Indonesia untuk Spanyol dan UNWTO

', layer: '

IKLAN BUKU PAK DUBES

'} ];




Novel “Jalur Rempah Sebagai Jembatan Timur dan Barat” karya Masterpiece Dr Muhammad Najib ini terinspirasi dari kisah Jalur Sutra atau Tiongkok Silk Road, yang kini muncul kembali dalam bentuk baru: One Belt One Road (OBOR) atau Belt and Road Initiative (BRI).

Penulis yang saat ini menjabat sebagai Duta Besar RI Untuk Kerajaan Spanyol dan UNWTO ini meyakini, Indonesia sebagai Jamrud Katulistiwa ini sebenarnya juga memiliki warisan sejarah yang bernilai. Sayangnya, kita belum mampu mengapitalisasi warisan leluhur yang dimiliki, seperti yang dilakukan Tiongkok, meski peluang Indonesia sama besarnya.

Novel ini sendiri merupakan fiksi murni. Di sini, penulis mencoba mengangkat fakta-fakta sejarah, diramu dengan pemahaman subjektif penulis sendiri terhadap situasi terkait.

Ada berbagai peristiwa sejarah di masa lalu, yang seakan terjadi sendiri-sendiri dan tidak saling berkaitan. Maka dalam novel ini, penulis berupaya merangkai semua dengan menggunakan hubungan sebab-akibat. Sehingga Novel ini menjadi sangat menarik. Ceritanya mengalir, kaya informasi, dan enak dibaca. Selamat membaca dan menikmati.


Foto Ilustrasi: Jalur Sutra (garis merah), jalur Rempah (garis biru)

**********************************************************

SERI-15

Perang Salib di Front Kedua

“Bagaimana penilaian Anda tentang Hagia Sophia?” Aku bertanya perlahan kepada Van Basten saat Kami bertiga berjalan menuju kafetaria.

“Bangunannya megah dan indah –  jauh melebihi kemegahan Gereja Roma di Vatikan,” jawabnya datar.

“Apakah bisa dikatakan bahwa pada saat itu pengaruh Gereja Ortodoks di Konstantinopel lebih besar dari pengaruh Gereja Vatikan?” tanyaku kembali.

“Banyak sejarawan dan tokoh agama berpendapat demikian,” jawab Van Basten mengiyakan.

Alfonso kali ini tampak tak bersemangat mengikuti pembicaraan Kami. Ia lalu berdiri hendak pamit dengan alasan ada hal penting yang harus diselesaikan.

Van Basten, yang menangkap ada  ketidaknyamanan dalam diri Alfonso, berujar, “Aku hanya berusaha menjawab seobjektif mungkin. Bagi saya, ini persoalan ilmiah.”

Namun Alfonso tetap melenggang pergi. Aku diam sejenak, lalu melanjutkan diskusi dengan Van Basten.

“Tadi Anda menyinggung bahwa koalisi Inggris dan Prancis berhasil mengalahkan Turki Usmani, oh maaf.. lebih tepatnya menamatkan era Turki Usmani, yang selama ratusan tahun menjadi simbol utama sekaligus pelindung dunia Islam. Apa keunggulan Inggris dan Prancis ini ada kaitannya dengan nilai-nilai Protestan?”

“Pada awalnya nilai-nilai ini memang memengaruhi. Tapi lain ceritanya di era Renaissance. Abad Pembaharuan atau Renaissance, yang  berlangsung dari abad ke-14 hingga 17 menempatkan agama menjadi urusan privat. Negara tidak lagi menjadi dominasi kaum gereja. Sekularisme ini didorong oleh kritik dan kekecewaan terhadap kalangan gereja yang sekian lama sangat berkuasa dalam mengatur kehidupan publik dan negara. Nah, kemudian muncul bentuk kekritisan sosial politik lain, yakni terhadap feodalisme di Prancis pada periode 1789-1799. Pergolakan sosial politik di Prancis ini berdampak luas di Eropa dan mampu mengubah tatanan kehidupan masyarakat untuk lepas dari belenggu feodalisme. Ada lagi revolusi besar lain di Eropa, yakni Revolusi Industri. Penemuan mesin uap oleh James Watt pada 1769 merupakan kekuatan utama yang mendorong terjadinya Revolusi Industri karena keberadaan mesin meningkatkan efektivitas dan menghemat waktu dan tenaga produksi. Jadi Revolusi Industri merupakan perubahan cepat dan mendasar terkait pemanfaatan teknologi mesin dalam bidang ekonomi.”

Aku makin penasaran dan kembali bertanya. “Lalu bagaimana dengan paham komunisme? Apakah ada hubungan antara sekularisme dan komunisme?”

Baca Juga:

“Komunisme pada dasarnya merupakan perlawanan terhadap sistem ekonomi yang kapitalis dan liberal. Tapi kemudian ada perkembangan di mana komunisme juga berkembang ke ranah politik. Ada kebijakan di negara-negara komunis di mana agama dan pemeluknya tidak hanya dipinggirkan, tapi juga ditindas. Sementara itu, seperti yang pernah saya singgung, sekularisme merupakan perlawanan terhadap dominasi kaum agamawan. Agama menjadi ranah privat dan tidak masuk ke urusan publik. Maka jika komunisme dalam praktiknya secara politik ada yang menindas agama, boleh jadi dalam konteks ini kelompok komunis dipandang sebagai bagian dari kelompok sekuler,” urai Van Basten panjang lebar.

“Maksud Anda?” tanyaku sedikit melongo.

“Ya… bahkan timbul penilaian bahwa kelompok komunis merupakan kelompok sekuler ekstrem, yang menuntut kebebasan sebebas-bebasnya, terutama bebas dari nilai-nilai agama,” urainya lagi.

“Oh, begitu. Lalu bagaimana menurut Anda nasib sekularisme dan komunisme saat ini?” tanyaku penasaran.

“Dua ideologi ini terus-menerus mengoreksi diri. Anda tahu kan, kita juga mengenal paham lain, seperti ateisme (tidak percaya bahwa Tuhan ada) serta agnotisme (percaya bahwa Tuhan ada, namun agama tidak diperlukan manusia). Boleh jadi semua ini saling berkelindan.” Van Basten menoleh ke arahku.

“Kembali ke isu runtuhnya Turki Usmani tadi, bisakah disimpulkan bahwa kemenangan Sekutu, yang dipimpin oleh Inggris dan Prancis, dari Turki Usmani dalam Perang Dunia I merupakan kemenangan kaum sekuler atas kelompok Islam?”

Van Basten tidak langsung menjawab. Cukup lama, ia terdiam. “Bukankah sesudah kekalahan itu Mustafa Kemal Attaturk mengubur Kesultanan Turki Usmani, lalu mengembangkan tradisi sekularisme, yang awal mulanya bergaung di Prancis?”

Sesudah menjawab, Van Basten pamit pulang.

BERSAMBUNG

EDITOR: REYNA

Bagi yang berminat dengan karya-karya novel Dr Muhammad Najib dapat mencari bukunya di Google Play Books Store, melalui link dibawah ini:

Judul Novel: Di Beranda Istana Alhambra
https://play.google.com/store/books/details?id=IpOhEAAAQBAJ

Judul Novel: Safari
https://play.google.com/store/books/details?id=LpShEAAAQBAJ

Judul Novel: Bersujud Diatas Bara
https://play.google.com/store/books/details?id=WJShEAAAQBAJ

Buku-buku novel karya Dr Muhammad Najib juga bisa dibeli di Shopee melalui link: https://shp.ee/ks65np4



http://www.zonasatunews.com/wp-content/uploads/2017/11/aka-printing-iklan-2.jpg></a>
</div>
<p><!--CusAds0--><!--CusAds0--></p>
<div style=