Novel Terbaru Dr Muhammad Najib: “Jalur Rempah Sebagai Jembatan Timur dan Barat” (Seri-34): Mengunjungi Alimentaria di Barcelona

Novel Terbaru Dr Muhammad Najib: “Jalur Rempah Sebagai Jembatan Timur dan Barat” (Seri-34): Mengunjungi Alimentaria di Barcelona
Dr Muhammad Najib, Duta Besar Indonesia untuk Spanyol dan UNWTO

', layer: '

IKLAN BUKU PAK DUBES

'} ];




Novel “Jalur Rempah Sebagai Jembatan Timur dan Barat” karya Masterpiece Dr Muhammad Najib ini terinspirasi dari kisah Jalur Sutra atau Tiongkok Silk Road, yang kini muncul kembali dalam bentuk baru: One Belt One Road (OBOR) atau Belt and Road Initiative (BRI).

Penulis yang saat ini menjabat sebagai Duta Besar RI Untuk Kerajaan Spanyol dan UNWTO ini meyakini, Indonesia sebagai Jamrud Katulistiwa ini sebenarnya juga memiliki warisan sejarah yang bernilai. Sayangnya, kita belum mampu mengapitalisasi warisan leluhur yang dimiliki, seperti yang dilakukan Tiongkok, meski peluang Indonesia sama besarnya.

Novel ini sendiri merupakan fiksi murni. Di sini, penulis mencoba mengangkat fakta-fakta sejarah, diramu dengan pemahaman subjektif penulis sendiri terhadap situasi terkait.

Ada berbagai peristiwa sejarah di masa lalu, yang seakan terjadi sendiri-sendiri dan tidak saling berkaitan. Maka dalam novel ini, penulis berupaya merangkai semua dengan menggunakan hubungan sebab-akibat. Sehingga Novel ini menjadi sangat menarik. Ceritanya mengalir, kaya informasi, dan enak dibaca. Selamat membaca dan menikmati.



Foto Ilustrasi: Jalur Sutra (garis merah), jalur Rempah (garis biru)

**********************************************************

SERI-34

Mengunjungi Alimentaria di Barcelona

 

Alimentaria merupakan pameran makanan dan minuman dua tahunan di Barcelona yang dihadiri oleh berbagai industri makanan dan minuman dari seluruh dunia. Pameran kali ini merupakan pameran pertama sejak Pandemi Covid 19 berakhir, sehingga pengunjung yang datang luar biasa besar. Para pengunjung harus mendaftar, dan oleh Panitia dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah para pemain baik yang akan membeli maupun menjual berbagai produk yang dipamerkan. Pada bagian ini hampir semua pemilik atau mereka yang bertanggungjawab terhadap barang-barang yang dipamerkan hadir, mengingat berbagai transaksi dilakukan pada waktu ini. Mereka yang hadir dalam kelompok pertama ini harus membayar. Sedangkan untuk kelompok kedua, dibuka untuk masyarakat luas dan gratis. Aku datang masuk kategori kedua ini.

Setelah berkeliling melihat berbagai stand yang mewakili berbagai negara, Aku menuju stand Indonesia yang diorganisir oleh ITPC Barcelona. Standnya tidak terlalu besar, tetapi cukup memadai untuk menampung sekitar sepuluh perwakilan perusahan yang berasal dari tanah air. Ada tiga perusahan besar yang sudah memiliki pelanggan tetap di berbagai negara khususnya Eropa, dan juga memiliki partner lokal yang sudah terjalin selama bertahun-tahun. Sementara lainnya, merupakan perusahan baru dan UKM yang coba-coba mengadu nasib, sekaligus untuk melihat bagaimana kompetisi di tingkat global berbagai produk makanan dan minuman.

Di bagian pojok Aku perhatikan sejumlah orang antri untuk mencicipi makanan kecil yang disuguhkan bagi para pengunjung. Makanannya menyerupai bakso kecil yang sebelum digoreng diolesi bumbu yang dibuat dari campuran rempah-rempah. Setelah masak tetap diletakkan di atas wajan panas, sehingga saat disajikan masih hangat. Pentolan-pentolan bakso yang sudah masak cukup ditusuk lidi pendek kemudian diserahkan kepada mereka yang ingin mencicipinya. Beberapa orang yang sudah mencoba, kembali antre untuk mendapatkan kesempatan yang kedua.

TERKAIT :

Juru masaknya yang berseragam putih lengkap dengan topinya yang tinggi, melayani mereka yang antre dengan wajah ceria.
Aku kemudian menyapanya: “Senang ya jualannya laris manis”, komentarku dari samping.

“Alhamdulillah !”, katanya sambil tersenyum.

“Boleh kenal Pak ?”, kataku.

“Nama Saya Rudy, asal dari Maluku”.

“Tempat rajanya rempah-rempah !”, komentarku.

“Begitulah sejarah menulis”, katanya.

“Sudah lama menekuni profesi ini ?”.

“Lebih dari 30 tahun. Dulu Saya bekerja di hotel berbintang di sejumlah negara, setelah semakin berusia Saya ingin bekerja lebih santai dan tetap bisa menikmati profesi Saya”, katanya.

“Yang dimasak itu apa ?”, kataku yang merasa asing dengan masakannya.

“Ini salah satu jenis masakan di Spanyol, hanya bumbunya Saya modifikasi dengan memberikan sejumlah rempah-rempah Indonesia !”, katanya.

“Kelihatannya banyak yang suka, bagaimana sampai muncul ide seperti itu ?”.

“Kebanyakan orang Indonesia menawarkan makanan atau masakan Indonesia, cara berfikir seperti ini salah besar”.

“Kenapa ?”, tanyaku heran.

“Pertama, mereka tidak makan nasi, padahal lauk-pauk kita tanpa nasi tidak bisa dinikmati. Kedua, bumbu kita terlalu pedas karena seringkali menggunakan cabe, selain itu kalau pakai rempah di lidah mereka terlalu tajam”.

“Ada saran bagi mereka yang ingin menawarkan masakan Indonesia di sini atau di Eropa ?”.

“Secara umum, jika kita hendak menawarkan produk harus didahului dengan survey, sehingga kita tahu selera calon konsumen kita. Pengalaman Saya, setiap wilayah memiliki selera yang unik. Jadi tidak bisa selera kita ditawarkan untuk semua orang”.

BERSAMBUNG

EDITOR: REYNA

Bagi yang berminat dengan karya-karya novel Dr Muhammad Najib dapat mencari bukunya di Google Play Books Store, melalui link dibawah ini:

Judul Novel: Di Beranda Istana Alhambra
https://play.google.com/store/books/details?id=IpOhEAAAQBAJ

Judul Novel: Safari
https://play.google.com/store/books/details?id=LpShEAAAQBAJ

Judul Novel: Bersujud Diatas Bara
https://play.google.com/store/books/details?id=WJShEAAAQBAJ

Buku-buku novel karya Dr Muhammad Najib juga bisa dibeli di Shopee melalui link: https://shopee/ks65np4

 

 




http://www.zonasatunews.com/wp-content/uploads/2017/11/aka-printing-iklan-2.jpg></a>
</div>
<p><!--CusAds0--><!--CusAds0--></p>
<div style=