Novel Terbaru Dr Muhammad Najib: “Jalur Rempah Sebagai Jembatan Timur dan Barat” (Seri-35): Mengunjungi Alimentaria di Barcelona

Novel Terbaru Dr Muhammad Najib: “Jalur Rempah Sebagai Jembatan Timur dan Barat” (Seri-35): Mengunjungi Alimentaria di Barcelona
Dr Muhammad Najib, Dubes RI untuk Spanyol dan UNWTO

', layer: '

IKLAN BUKU PAK DUBES

'} ];




Novel “Jalur Rempah Sebagai Jembatan Timur dan Barat” karya Masterpiece Dr Muhammad Najib ini terinspirasi dari kisah Jalur Sutra atau Tiongkok Silk Road, yang kini muncul kembali dalam bentuk baru: One Belt One Road (OBOR) atau Belt and Road Initiative (BRI).

Penulis yang saat ini menjabat sebagai Duta Besar RI Untuk Kerajaan Spanyol dan UNWTO ini meyakini, Indonesia sebagai Jamrud Katulistiwa ini sebenarnya juga memiliki warisan sejarah yang bernilai. Sayangnya, kita belum mampu mengapitalisasi warisan leluhur yang dimiliki, seperti yang dilakukan Tiongkok, meski peluang Indonesia sama besarnya.

Novel ini sendiri merupakan fiksi murni. Di sini, penulis mencoba mengangkat fakta-fakta sejarah, diramu dengan pemahaman subjektif penulis sendiri terhadap situasi terkait.

Ada berbagai peristiwa sejarah di masa lalu, yang seakan terjadi sendiri-sendiri dan tidak saling berkaitan. Maka dalam novel ini, penulis berupaya merangkai semua dengan menggunakan hubungan sebab-akibat. Sehingga Novel ini menjadi sangat menarik. Ceritanya mengalir, kaya informasi, dan enak dibaca. Selamat membaca dan menikmati.



Foto Ilustrasi: Jalur Sutra (garis merah), jalur Rempah (garis biru)

**********************************************************

SERI-35

Mengunjungi Alimentaria di Barcelona

 

Aku kemudian bergerak ke UKM asal Lampung yang memasarkan berbagai macam rendang, ada rendang daging sapi, rendang ayam, dan rendang ikan. Aku mencicipi tiga jenis rendang yang dikemas dalam kaleng seperti sarden. Aku mencobanya satu-persatu dan di lidahku sedap sekali, jauh lebih sedap dari rendang kebanyakan restoran Padang di Jakarta. Tetapi ketika Aku perhatikan rata-rata pengunjung yang mencobanya meringis.

Aku bergerak lagi kesebelahnya yang memasarkan Teh celup yang berasal dari Jawa Barat, Aku bertanya, “Apa bedanya Teh yang saudara pasarkan ini dengan Teh yang sudah dikenal masyarakat Eropa termasuk masyarakat Spanyol ?”

Tidak ada jawaban yang memuaskan, kecuali satu hal yang Aku dengar ini bahwa Teh yang dipasarkannya berasal Jawa Barat warisan perkebunan Belanda”.

“Apakah tahu asal-muasal minuman teh ?”, kataku menyelidik.

Tidak ada jawaban.

Kemudian Aku beritahu bahwa Teh di Eropa ini sering disebut dengan English Tea atau Red Tea, dan yang terbaik berasal dari Sri Lanka yang perusahaannya merupakan warisan Kolonial Inggris yang sampai saat ini masih bertahan.

Aku bergerak lagi ke sebelahnya yang menawarkan Minyak Kelapa, Aku pikir ini untuk minyak goreng, ternyata bukan.

“Ini untuk bahan baku kosmetik !”, kata seorang gadis muda yang menjaganya.

“Permintaannya besar ?”, kataku heran.

“Besar sekali, sehingga sulit Kami memenuhinya!”, komentarnya.

“Bukankah Kita punya banyak kebun kelapa mengingat Indonesia merupakan salah satu negara dengan pantai terpanjang di dunia”, komentarku.

TERKAIT :

“Masalahnya minyak kelapa untuk keperluan kosmetik tidak bisa diolah dengan cara tradisional, tetapi memerlukan sentuhan teknologi agar ia tidak beku di musim dingin”, komentarnya meyakinkan.

Terakhir Aku melihat sepasang remaja yang hanya memajang satu macam produk yang tidak Aku fahami: “Asal dari mana Mas ?”, sapaku kepada si pemuda.

“Belanda ! Sedangkan teman Saya ini orang Italia”, katanya.

“Oh ! Orang Belanda kok bisa Bahasa Indonesia !”, komentarku heran.

“Ayah Saya orang Belanda dan Ibu Saya Indonesia. Saya lahir dan dibesarkan di Belanda. Saya berkolaborasi dengan dia karena kemampuannya di bidang IT dan saya serahkan masalah pemasaran kepadanya”.

“Yang Anda jual ini apa ?”, tanyaku.

“Vanilla !”, jawabnya.

“Vanilla yang Anda jual ini untuk apa ?”, tanyaku tak mengerti.

“Untuk aroma kue, es krim, atau parfum”, katanya menjelaskan.

“Bisa untung hanya jualan vanilla saja ?”, tanyaku tak yakin.

“Sebetulnya bisnis ini menjanjikan keuntungan yang sangat besar, akan tetapi Saya tidak berorientasi kesana”.

“Lalu ?”.

“Saya ingin meyakinkan bahwa vanilla Indonesia itu jauh lebih baik dari vanilla yang berasal dari negara lain”.

“Negara mana yang kini menjadi saingan Anda?”.

“Madagaskar”, katanya.

“Apa kelebihannya ?”, tanyaku menyelidik.

“Kebanyakan para pengusaha kita kurang bisa konsisten menjaga kualitas”.

“Lalu bagaimana agar vanilla Anda memiliki kualitas tinggi ?”.

“Saya membina para petani secara langsung, kemudian bergaul dengannya, serta memberikan imbalan yang menarik, disamping ada gaji pokok juga dengan sistem bagi untung”.

“Tantangannya dimana ?”.

“Cara ini tidak bisa menghasilkan volume besar, tetapi bagi Saya tidak masalah, karena tujuan utama Saya adalah bagaimana mengenalkan Indonesia, disamping untuk memberikan penghasilan yang lebih baik bagi para petani vanilla kiata”, katanya dengan senyum bangga.

BERSAMBUNG

EDITOR: REYNA

Bagi yang berminat dengan karya-karya novel Dr Muhammad Najib dapat mencari bukunya di Google Play Books Store, melalui link dibawah ini:

Judul Novel: Di Beranda Istana Alhambra
https://play.google.com/store/books/details?id=IpOhEAAAQBAJ

Judul Novel: Safari
https://play.google.com/store/books/details?id=LpShEAAAQBAJ

Judul Novel: Bersujud Diatas Bara
https://play.google.com/store/books/details?id=WJShEAAAQBAJ

Buku-buku novel karya Dr Muhammad Najib juga bisa dibeli di Shopee melalui link: https://shopee/ks65np4



http://www.zonasatunews.com/wp-content/uploads/2017/11/aka-printing-iklan-2.jpg></a>
</div>
<p><!--CusAds0--><!--CusAds0--></p>
<div style=