Novel Terbaru Dr Muhammad Najib: “Jalur Rempah Sebagai Jembatan Timur dan Barat” (Seri-38): Konsultasi ke Pak Dubes

Novel Terbaru Dr Muhammad Najib: “Jalur Rempah Sebagai Jembatan Timur dan Barat” (Seri-38): Konsultasi ke Pak Dubes
Dr Muhammad Najib, Duta Besar RI untuk Kerajaan Spanyol dan UNWTO

', layer: '

IKLAN BUKU PAK DUBES

'} ];




Novel “Jalur Rempah Sebagai Jembatan Timur dan Barat” karya Masterpiece Dr Muhammad Najib ini terinspirasi dari kisah Jalur Sutra atau Tiongkok Silk Road, yang kini muncul kembali dalam bentuk baru: One Belt One Road (OBOR) atau Belt and Road Initiative (BRI).

Penulis yang saat ini menjabat sebagai Duta Besar RI Untuk Kerajaan Spanyol dan UNWTO ini meyakini, Indonesia sebagai Jamrud Katulistiwa ini sebenarnya juga memiliki warisan sejarah yang bernilai. Sayangnya, kita belum mampu mengapitalisasi warisan leluhur yang dimiliki, seperti yang dilakukan Tiongkok, meski peluang Indonesia sama besarnya.

Novel ini sendiri merupakan fiksi murni. Di sini, penulis mencoba mengangkat fakta-fakta sejarah, diramu dengan pemahaman subjektif penulis sendiri terhadap situasi terkait.

Ada berbagai peristiwa sejarah di masa lalu, yang seakan terjadi sendiri-sendiri dan tidak saling berkaitan. Maka dalam novel ini, penulis berupaya merangkai semua dengan menggunakan hubungan sebab-akibat. Sehingga Novel ini menjadi sangat menarik. Ceritanya mengalir, kaya informasi, dan enak dibaca. Selamat membaca dan menikmati.



Foto Ilustrasi: Jalur Sutra (garis merah), jalur Rempah (garis biru)

**********************************************************

SERI-38

Konsultasi ke Pak Dubes

 

“Bagaimana Kita harus melihat Dunia Islam saat ini ?”, kataku.

“Penyakit lama belum sepenuhnya hilang, karena itu kini Dunia dikuasai mereka”.

“Bisakah Saya katakana bahwa kini dunia dikuasai oleh mereka yang mengagungkan materialisme dan tersingkirkannya mereka yang berorientasi pada spiritualisme”.

“Itu hanya satu sisi saja, kalau mau dikatakan dengan kalimat yang lebih tepat adalah bahwa dunia selalu dikuasai oleh mereka yang bekerja keras, berilmu, dan mampu melihat peluang”.

“Bukankah kini manusia telah mencapai apa yang diinginkannya ?”.

“Hanya sebagian manusia bukan seluruh manusia dan bukan juga mayoritas, karena yang mayoritas penduduk bumi ternyata menderita. Ada yang menderita karena kemiskinan, dan ada yang menderita karena kekerasan, dan yang paling besar ternyata hilangnya rasa aman dan damai sebagai sesama dari kehidupan di dunia ini”.

“Apakah para ilmuwan Islam harus ikut menanggung dosa atas semua ini ?”.

“Tidak ! Karea mereka hanya mengambil pelajaran dari tokoh-tokoh seperti Ibnu Rush, Ibnu Khaldun, Ibnu Shina, dan lain-lain pada aspek materialnya saja dan melepaskan dimensi spiritualitasnya, atau hanya mengambil yang sifatnya fisik dan meninggalkan ruhnya”.

“Lalu apa yang harus dilakukan ?”.

“Harus ada upaya mendekatkan kembali dunia material dan dunia spiritual agar wujudnya sempurna, hanya dengan cara itu capaian material akan membawa kebahagiaan”.

“Caranya ?”.

“Pada abad pertengahan yang berlaku adalah formula: Win-Losse dimana The Winner takes All dimana yang menang akan hidup sedangkan yang kalah harus mati, saat ini formulanya sudah berubah menjadi: Win-Win dimana Kita bisa menang bersama atau maju bersama kemudian makmur bersama”.

TERKAIT :

“Bagaimana Kita mempersatukan kelompok agama yang berbeda-beda ?”.

“Tidak perlu disatukan, Islam kan sudah mengajarkan lakum dinukum waliadin dan lana akmaluna walakum akmalukum, artinya masing-masing fokus saja ngurusi umatnya sendiri dan pada saat bersamaan saling menghormati perbedaan yang sudah ditakdirkan dan menjadi desain Allah agar kita saling mengenal. Begitulah ajaran Islam dalam masalah ini”.

“Ini termasuk takdir atau wilayah ikhtiar manusia ?”.

“Memakmurkan dunia dan menjaga perdamaian merupakan otoritas manusia sebagai bagian dari tugas kekhalifahan”.

“Apakah Indonesia bisa berperan ?”

“Indonesia punya modal besar”.

“Bagaimana caranya ?”

“Sebagaimana Allah tetapkan dan sering disebut sebagai Sunatullah bahwa kejayaan bangsa-bangsa itu dipergilirkan, sekarang Amerika yang di atas. Ada tanda-tanda bahwa Tiongkok akan menyalipnya. Tiongkok dulu pernah berjaya di Era Silk Road, menemukan keramik, kertas, dan mesiu, sampai sekarang bangunan-bangunan indah masa kejayaannya masih bisa dilihat. Setelah itu terpuruk, sekarang mulai naik lagi”, katanya.

“Apa hubungannya dengan dunia Islam ?”, kataku mencoba untuk mengaitkannya.

“Dunia Islam juga bisa seperti Tiongkok, jika kita pandai melihat potensi diri dan mampu melihat peluang yang ada. Karena itu Saya suka menggunakan istilah terbuka lebar lahirnya Renaissance of Islam Gelombang Kedua.” 

 

BERSAMBUNG

EDITOR: REYNA

Bagi yang berminat dengan karya-karya novel Dr Muhammad Najib dapat mencari bukunya di Google Play Books Store, melalui link dibawah ini:

Judul Novel: Di Beranda Istana Alhambra
https://play.google.com/store/books/details?id=IpOhEAAAQBAJ

Judul Novel: Safari
https://play.google.com/store/books/details?id=LpShEAAAQBAJ

Judul Novel: Bersujud Diatas Bara
https://play.google.com/store/books/details?id=WJShEAAAQBAJ

Buku-buku novel karya Dr Muhammad Najib juga bisa dibeli di Shopee melalui link: https://shopee/ks65np4

 

 




http://www.zonasatunews.com/wp-content/uploads/2017/11/aka-printing-iklan-2.jpg></a>
</div>
<p><!--CusAds0--><!--CusAds0--></p>
<div style=