Novel Terbaru Dr Muhammad Najib: “Jalur Rempah Sebagai Jembatan Timur dan Barat” (Seri-39): Berdamai Dengan Masa Lalu

Novel Terbaru Dr Muhammad Najib: “Jalur Rempah Sebagai Jembatan Timur dan Barat” (Seri-39): Berdamai Dengan Masa Lalu
Dr Muhammad Najib, Duta Besar RI untuk Kerajaan Spanyol dan UNWTO

', layer: '

IKLAN BUKU PAK DUBES

'} ];




Novel “Jalur Rempah Sebagai Jembatan Timur dan Barat” karya Masterpiece Dr Muhammad Najib ini terinspirasi dari kisah Jalur Sutra atau Tiongkok Silk Road, yang kini muncul kembali dalam bentuk baru: One Belt One Road (OBOR) atau Belt and Road Initiative (BRI).

Penulis yang saat ini menjabat sebagai Duta Besar RI Untuk Kerajaan Spanyol dan UNWTO ini meyakini, Indonesia sebagai Jamrud Katulistiwa ini sebenarnya juga memiliki warisan sejarah yang bernilai. Sayangnya, kita belum mampu mengapitalisasi warisan leluhur yang dimiliki, seperti yang dilakukan Tiongkok, meski peluang Indonesia sama besarnya.

Novel ini sendiri merupakan fiksi murni. Di sini, penulis mencoba mengangkat fakta-fakta sejarah, diramu dengan pemahaman subjektif penulis sendiri terhadap situasi terkait.

Ada berbagai peristiwa sejarah di masa lalu, yang seakan terjadi sendiri-sendiri dan tidak saling berkaitan. Maka dalam novel ini, penulis berupaya merangkai semua dengan menggunakan hubungan sebab-akibat. Sehingga Novel ini menjadi sangat menarik. Ceritanya mengalir, kaya informasi, dan enak dibaca. Selamat membaca dan menikmati.



Foto Ilustrasi: Jalur Sutra (garis merah), jalur Rempah (garis biru)

**********************************************************

SERI-39

Berdamai dengan Masa Lalu

 

Hari itu dingin kota Madrid sangat menggigit diikuti dengan angin yang agak kencang. Aku menggunakan jaket tebal yang hanya digunakan pada Winter. Akhir bulan Desember cuaca memang sering seperti ini. Saat meninggalkan rumah Aku pasang tutup kepala yang menempel di jaket ditambah shall yang tergantung di leher Aku lilitkan ke mulut agar bibir tidak luka sekaligus untuk mengurangi rasa dingin yang masuk lewat leher. Saat masuk ke Metro udara terasa lebih segar karena ada penghangat yang bagus. Tiba di Stasiun terdekat dari rumah Usted yang jaraknya kurang dari satu kilometer dari Kampus, sehingga jika cuaca bersahabat Usted lebih suka naik sepeda ontel atau jalan kaki saat ke kantornya.

Seperti biasanya Aku mengetuk pintu rumahnya tiga kali, setelah menunggu beberapa saat Istrinya membuka dan menyapaku dengan ramah.

“Entra por favor !”, katanya mempersilahkan masuk.

“Gracias !”, kataku berterimakasih.

Kali ini Usted duduk di beranda belakang rumahnya, di atas sebuah kursi goyang terbuat dari rotan yang kelihatannya buatan Indonesia. Saat mengetahui Aku mendekat ia hanya bilang : “Sientante por favor !”, mempersilahkan Aku duduk tanpa menoleh.
Aku mengambil kursi tidak jauh dari tempatnya duduknya. Aku letakkan titipan Istriku yang menjadi kesukaannya di meja kecil yang berada antara tempat dudukku dengan beliau. Aku perhatikan pandangannya terus tertuju ke halaman kecil di balik kaca yang berada di belakang rumahnya. Sepertinya ia sedang menghitung daun yang jatuh satu-satu. Aku diam saja dan tidak ingin mengganggunya.

TERKAIT :

“Bagaimana perkembangan disertasimu ?”, katanya memulai pembicaraan tanpa menoleh.

“Alhamdulillah terus Saya kerjakan”, jawabku normatif.

“Tidak terasa sudah hampir dua tahun Saya membimbingmu. Kapan mau lulus ?”, katanya dengan nada bertanya tanpa menoleh.

“Saya berharap tahun depan !”, jawabku.

“Sebetulnya apa yang saudara kerjakan sudah memenuhi syarat untuk diluluskan, hanya perlu sedikit tambahan data dan editing!”, katanya.

“Muchas Gracias !”, komentarku berterimakasih dengan nada gembira. Sudah menjadi tradisi di kampus, jika pembimbing sudah menyatakan layak lulus maka hanya tinggal sidang yang sifatnya lebih formalitas saja.

“Ada yang lebih penting dari gelar doktor yang perlu saudara ketahui !”, katanya dengan mimik serius sambil memutar kursinya dan mengarahkan wajahnya menatapku.

“Apa itu ?”, komentarku tidak kalah serius.

“Bagaimana kita bisa berdamai dengan masa lalu !”, jawabnya.

“Maksudnya ?”, kataku tak mengerti.

“Bagaimana Anda melihat Kolonialisme yang dilakukan banyak bangsa di dunia ?”, kata Usted sambil memperhatikan bola mataku dengan cermat.

“Kolonialisme telah menimbulkan banyak penderitaan manusia dan menimbulkan persoalan kemanusiaan yang sangat serius!”, jawabku tegas sesuai dengan isi kepalaku selama ini.

“Negatif ?”, katanya menegaskan.

“Sangat negatif bahkan super negatif !”, komentarku tanpa beban karena sudah menjadi tradisi di kampus-kampus di Barat diskusi atau berdebat seperti ini, termasuk antara mahasiswa dan dosen.

 

BERSAMBUNG

EDITOR: REYNA

Bagi yang berminat dengan karya-karya novel Dr Muhammad Najib dapat mencari bukunya di Google Play Books Store, melalui link dibawah ini:

Judul Novel: Di Beranda Istana Alhambra
https://play.google.com/store/books/details?id=IpOhEAAAQBAJ

Judul Novel: Safari
https://play.google.com/store/books/details?id=LpShEAAAQBAJ

Judul Novel: Bersujud Diatas Bara
https://play.google.com/store/books/details?id=WJShEAAAQBAJ

Buku-buku novel karya Dr Muhammad Najib juga bisa dibeli di Shopee melalui link: https://shopee/ks65np4

 




http://www.zonasatunews.com/wp-content/uploads/2017/11/aka-printing-iklan-2.jpg></a>
</div>
<p><!--CusAds0--><!--CusAds0--></p>
<div style=