Profesi Pandai Besi Pada Masa Jawa Kuno

Profesi Pandai Besi Pada Masa Jawa Kuno
Relief di Candi Sukuh : menggambarkan aktivitas pande besi di masa Jawa kuno




ZONASATUNEWS.COMDalam pemenuhan kebutuhan manusia, teknologi merupakan instrumen penting dalam menunjang kebutuhan manusia. Dengan kemampuannya manusia mampu menciptakan berbagai alat dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di sekelilingnya. Paling tidak ada empat jenis bahan utama yang pada umumnya dipakai untuk pembuatan alat, yaitu tanah, batu, logam, dan kayu.

Teknologi logam merupakan indikator perkembangan peradaban tinggi yang telah dicapai manusia. Secara hipotesis J.L.A. Brandes pernah menyatakan bahwa jauh sebelum mendapat pengaruh dari kebudayaan India, bangsa Indonesia telah memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam bidang metalurgi (ilmu yang berkaitan dengan logam).

Pengetahuan metalurgi merupakan salah satu dari 10 unsur kebudayaan yang telah dimiliki bangsa Indonesia, yaitu: wayang, gamelan, ilmu irama puisi, membatik, mengerjakan logam, sistem mata uang, ilmu pelayaran, astronomi, penanaman padi, dan birokrasi pemerintahan.

Pengetahuan teknik mengolah logam di Jawa bukanlah pengetahuan yang datangnya secara tiba-tiba diperkenalkan dari luar, namun sejak masa pra-hindu pengetahuan tersebut telah diturunkan dari generasi ke generasi sampai periode klasik. Pande dikenal sebagai seseorang yang terampil membuat bermacam-macam benda besi. Istilah pande telah disebut dalam prasasti prasasti Jawa kuno sebagai pande/pandai wsi.

Pada masa pemerintahan Raja Rakai Watukura, Dyah Balitung yang memerintah kerajaan Maratam kuno (820-832 Saka), selama 12 tahun memerintah sebanyak 45 buah prasasti dikeluarkan dan 26 diantaranya merupakan prasasti Sima. Dari prasasti tersebut dapat dilihat terdapat profesi pertukangan logam (pandai besi, pandai emas, pandai perunggu, pandai tembaga dll).

Teknologi logam Jawa kuno pada abad 8 tidak lagi dalam tahap eksperimental, tetapi sudah mencapai tahap yang matang, yang disebabkan oleh faktor kebutuhan yang lebih banyak terhadap benda-benda yang digunakan dalam sistem budaya pada saat itu.

Penentuan dan pemilihan logam secara sengaja, didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan tertentu, seperti faktor teknis, faktor simbolis, faktor estetis dan mungkin juga faktor ekonomis.

Sumber dari relief memang tidak begitu banyak yang memberikan gambaran tentang kelompok penggarap industri ini. Namun teknologi pande besi Jawa kuno dapat dilacak berdasarkan relief Candi Sukuh. Dari gambaran yang ada, dapat diketahui alat-alat yang digunakan serta posisi masing-masing tokoh dalam relief tersebut sehingga dapat diketahui cara kerja pande besi pada saat itu.

Berdasarkan gambar relief tersebut, untuk pekerjaan pande besi, paling tidak diperlukan dua pekerja (1 orang pengubub dan 1 orang pande). Pada salah satu bangunan di Candi Sukuh digambarkan dua tokoh saling berhadapan, tokoh yang pertama berada di sebelah kanan (selatan) digambarkan berdiri menghadapi sebuah ububan (alat penghembus udara), dengan kedua tangannya memegangi kedua tongkat ububan.

Tokoh yang ke 2 berada di sebelah kiri (utara) dalam posisi duduk jongkok dengan kedua kaki terbuka, sedangkan tangan kiri memegang sebuah tongkat panjang yang disodorkan ke arah tempat keluarnya api dari ububan. Di depan tokoh tersebut terdapat bermacam-macam alat atau barang yang dihasilkan.

Di antara kedua tokoh tersebut terdapat relief yang menggambarkan seorang manusia berkepala gajah, dengan posisi berdiri di atas satu kaki membelakangi tokoh yang memegang tongkat ububan. Alat-alat yang tampak di relief Candi Sukuh adalah ububan, supit / sapit, palu, paron, tatah dan kikir.

Dari segi kepercayaan masyarakat Jawa kuno tidak melepaskan kepercayaan dalam teknologi para pandai besi biasanya mengucapkan mantra mantra saat proses pengerjaan keris (salah satu puncak teknologi tempa nusantara). Pengucapan mantra terus dilantunkan mulai dari persiapan sampai proses penyepuhan jenis jenis mantra ditujukan pada dewa trimurti : Hang (untuk dewa brahma), Hung (untuk dewa wisnu) & Mang (untuk dewa siwa).

Sedangkan dalam kitab Tantu panggelaran disebutkan bahwa dewa Brahma adalah dewa-nya para pande karena memiliki sifat Pancamahabhuta (prtiwi, teja, bayu, akasa, akah).

Mengutip Mardjono (2007) Pada masa itu teknologi pembuatan bahan baku besi yang dilakukan di Nusantara adalah proses reduksi langsung (direct reduction process) terhadap mineral besi oksida menjadi logam besi. Proses reduksi langsung ini pada dasarnya adalah mereduksi besi oksida dengan gas hasil pembakaran arang yang menghasilkan sponge iron yang kadar karbonnya relatif tinggi, dan masih banyak pengotor (inclusion) didalamnya.

Untuk mengubah sponge iron menjadi baja perlu dilakukan pengurangan kadar karbon dan pembersihan dari inklusi diperlukan process control yang cukup ketat untuk mencapai kadar karbon yang diinginkan. Process control tersebut mencakup kontrol terhadap temperatur, kondisi udara pemanas, dan waktu pemanasan.

Besi/baja yang digunakan pada masa itu ternyata cukup bersih, meskipun terdapat sedikit besi oksida dan besi sulfida (FeS). Masih adanya besi sulfida inilah yang justru mencirikannya bahwa besi tersebut adalah besi kuno. Selain itu dalam logam ini juga terkandung Titanium (Ti), Aluminium (Al), Silikon (Si), Mangan (Mn) dan Magnesium (Mg).

Proses pembersihan logam pada masa itu dilakukan dengan menempanya berkali kali untuk mengeluarkan pengotor yang akan keluar dari logam tempa dalam bentuk percikan bunga api. Pada awal proses tempa banyak bunga api yang memercik keluar, dan semakin lama percikan semakin sedikit karena logam makin bersih.

Dalam proses akhir dilakukan mengeraskan bilah keris atau dalam ilmu metalurgi modern disebut proses hardening yaitu proses celup cepat dari temperatur tinggi kedalam air (quenching) sehingga terbentuk fasa bainite dan martensite yang keras. Berdasarkan hasil pelacakan material dan proses pembuatan keris yang telah dilakukan berabad-abad silam itu dapat disimpulkan bahwa banyak teknologi metalurgi telah dikuasai dan diterapkan oleh leluhur kita.

EDITOR : SETYANEGARA







banner 468x60