Memahami semesta paralel dan waktu yang berjalan mundur

Memahami semesta paralel dan waktu yang berjalan mundur
Galaksi Banyak hal belum terungkap di semesta. (Foto: Thinkstock)




ZONASATUNEWS.COM–Dilansir KOMPAS.com (21 Mei 2020), sekelompok ilmuwan NASA tengah berkutat pada eksperimen di Antartika mengenai keberadaan alam semesta paralel (parallel universe).

Konsep dari parallel universe telah ada sejak awal 1960-an, di mana hukum fisika terjadi berkebalikan dengan apa yang manusia percaya saat ini.

Konsep tersebut pada awalnya hanya dipercaya para pecinta film dan komik sains-fiksi. Namun eksperimen deteksi kosmos baru-baru ini telah menemukan partikel yang dipercaya ilmuwan berasal dari parallel universe.

Melansir New York Post, Kamis (21/5/2020), partikel tersebut kemungkinan besar berasal dari ledakan Big Bang yang merupakan kelahiran alam semesta.

Dalam melakukan eksperimen ini, para ilmuwan NASA menerbangkan alat menyerupai balon udara bernama Antartic Impulsive Transient Antenna (ANITA). Alat tersebut diterbangkan jauh di angkasa Antartika, di mana kondisi udara sekeliling sangat kering dan jauh dari sinyal radio apapun.

Kemudian, ditemukan gerakan “angin” dari partikel-partikel berenergi tinggi yang secara konstan menghampiri Bumi dari luar angkasa.

Partikel-partikel yang memiliki energi rendah, atau mendekati nol, secara ilmiah dapat melewati atmosfer dan tiba di Bumi. Namun partikel berenergi tinggi dihentikan oleh partikel-partikel solid di angkasa Bumi.

Hal ini berarti partikel berenergi tinggi hanya bisa dideteksi saat masuk ke Bumi dari luar angkasa. Namun, ANITA mendeteksi partikel yang lebih berat (berenergi tinggi), yang dinamakan tau neutrinos, yang justru datang dari Bumi ke luar angkasa.

Hal itu menegaskan bahwa partikel-partikel ini melakukan perjalanan dengan waktu berkebalikan (backward in time), mengindikasikan adanya parallel universe.

Ahli fisika dalam eksperimen ANITA, Peter Gorham, menyebutkan bahwa satu-satunya kemungkinan tau neutrino bersikap seperti itu adalah partikel dari luar angkasa berubah wujud menjadi partikel lain sebelum masuk ke Bumi, kemudian kembali lagi ke luar angkasa.

Namun, ia dan koleganya menerangkan hal ini sebagai fenomena aneh yang luar biasa. Hal itu dikarenakan Gorham dan para ilmuwan lainnya menemukan beberapa bukti aneh yang mengindikasikan adanya parallel universe, sesuatu hal yang menjadi skeptisisme banyak orang.

“Tidak semua orang nyaman dengan hipotesis ini,” tuturnya kepada New Scientist.

Penjelasan paling sederhana dari fenomena ini adalah ketika ledakan Big Bang terjadi 13,8 miliar tahun lalu, dua jenis alam semesta tercipta. Salah satunya adalah alam semesta yang kita tinggali saat ini, satunya lagi adalah parallel universe di mana waktu berjalan ke belakang.

Waktu berjalan mundur

Sebuah eksperimen baru oleh tim peneliti internasional menunjukkan bahwa “panah waktu” termodinamika ini bukanlah konsep mutlak.(Intisari-Online.com 09/12/2017)

Ilmu termodinamika adalah hasil dari revolusi indutri awal abad ke-19.

Salah satu cabang fisika teoritik yang berkaitan dengan hukum-hukum pergerakan panas, dan perubahan dari panas menjadi bentuk-bentuk enerji yang lain.

Dilansir pada futurism.com, untuk eksperimen ini para peneliti melihat partikel berkorelasi.

Ini secara konseptual mirip dengan partikel yang terperangkap pada inti penelitian kuantum, namun tidak terikat erat.

Para peneliti memulai percobaan mereka dengan molekul triklorometana, yang terdiri dari hidrogen dan karbon.

Mereka kemudian membuat nukleus atom hidrogen lebih hangat dari inti atom karbon dan mengamati aliran energi.

Ketika inti atom dari dua atom tidak berkorelasi, panas mengalir dari yang panas ke inti pendingin, seperti yang diharapkan.

Tapi ketika inti berkorelasi, panas mengalir kembali mundur ke belakang (inti yang lebih panas semakin panas dan inti pendinginnya menjadi lebih dingin).

Dalam bukunya, A Brief History of Time, Stephen Hawking juga menyatakan bahwa anak panah waktu dapat berjalan mundur.

Waktu dikatakan mundur jika manusia ingat apa yang akan terjadi dan lupa apa yang telah terjadi.

Waktu mundur jika entropi alam semesta berkurang dan alam mengerut.

Menurut Hawking untuk mengerutkan alam semesta dibutuhkan minimal massa total alam semesta seratus kali massa total alam semesta sekarang, tentu saja sudah memasukkan perkiraan jumlah total lubang hitam.

Editor : Setyanegara







Tags: ,
banner 468x60