Waspada Dibalik Isu Global: Climate Change, Krisis Pangan Dan Energi

Waspada Dibalik Isu Global: Climate Change, Krisis Pangan Dan Energi
A city showing the effect of Climate Change




ZONASATUNEWS.COM — Jangan Terlalu Percaya pada Isu Global bikinan Barat terkait “Climate Change” dan krisis Pangan dan Energi Dunia.

Boleh saja kita menduga apa yang bakal kita hadapi ke depan ini, tapi tetap harus kritis terhadap isu-isu global yang dilontarkan dunia Barat.

Tiap dekade isu baru

Dunia Barat setiap pergantian dekade, selalu ada saja isu-isu global yg dilontarkannya. Dimulai isu bahaya komunisme yg datang dari Uni-Sovyet seusai WW-2 hingga dekade 1960-an.

Dekade 1970-an mereka melontarkan isu bahwa bumi kita ini sedang menghadapi masalah berat karena daya dukung alamnya sudah tak bisa lagi memenuhi kebutuhan penduduk di atas planet ini. Yaitu tidak mampunya SDA dunia untuk tetap bisa mendukung pertumbuhan ekonomi Dunia.




Waktu itu istilah yang digunakan mereka adalah “The Limit of Growth”. Batas-batas pertumbuhan ekonomi yang membuat dunia akan bermasalah.

Topik ini jadi bahan kajian lembaga ilmiah dan bahan diskusi mahasiswa di kampus-kampus ekonomi di seluruh dunia saat itu, termasuk di kampus-kampus Indonesia pada akhir 1970-an saat itu.

Dekade 1980-an mereka mulai melontarkan isu dan kampanye bahwa model kapitalisme adalah satu-satunya pilihan umat manusia se jagad raya sesudah Uni-Sovyet runtuh, dan China mulai ikut dalam pasar global.

Globalisasi dan terorisme

Itulah awal Globalisasi yang tidak lain adalah ideologi liberal model baru (Neoliberalisme). Ide itu dipercepat AS penyebarannya di seluruh dunia dengan “memaksa” negara-negara berkembang untuk menanda-tangani perjanjian “The Whasington Concencus” di tahun 1990-an yang dikemudian hari menjadi globalisasi ekonomi atau neolibs itu.

11 September 2001 : Gedung WTC New York dibom teroris

Negara-negara berkembang yang menolak ‘The Washington Concencus’ itu langsung di cap AS sebagai negeri teroris dan otomatis menjadi musuh AS dan Barat. Dan langsung mereka hajar habis-habisan.

Maka kampanye terorisme global pun dilancarkan di seluruh dunia sejak saat itu. Diawali dengan penyerbuan ke Irak, dan belakangan ke negeri para mullah di Afghanistan dengan tudingan melindungi dan memfasilitasi aktivitas terorisme yang meledakkan WTC New York.

Proyek itu di zaman Obama terus disempurnakan dengan proyek “Arab Spring” yaitu dengan memporak-porandakan tatanan pemerintahan negeri-negeri Arab yang tidak demokratis atau tidak pro kebijakan AS di dunia.

Climate change

Di awal abad 21 ini, mereka datang lagi dengan isu global yang lebih hebat lagi seusai pademik Covid-19 yang berhasil melumpuhkan tatanan sosial, ekonomi dan kesehatan di seluruh dunia, kecuali tatanan kekuasaan politik yang justru tambah kuat dan kokoh di berbagai negara.

Wabah covid-19 di beberapa negara pada kenyataanya memang dimanfaatkan penguasa setempat untuk lebih memperkuat dan melanggengkan tatanan kekuasaannya.

Isu global yg dilontarkan Barat saat ini adalah ancaman perubahan iklim global ( ‘climate change’), krisis pangan dan energi serta kerusakan lingkungan hidup.

Sebenarnya isu krisis pangan (dan energi) ini bahkan sudah dilontarkan oleh ekonom klasik Thomas Robert Malthus (1776 -1834).

Menurut Thomas Robert Malthus, penduduk bertambah menurut deret ukur (2, 4, 8, 16, 32, dan seterusnya), sedangkan makanan (dan energi) bertambah menurut deret hitung (1, 2, 3, 4, 5, 6, dan seterusnya).

Akibatnya jumlah barang dan jasa, termasuk makanan (dan energi), tidak seimbang dengan jumlah penduduk).

Dan terakhir adalah isu kerusakan lingkungan, yaitu terutama isu tentang kemungkinan menipisnya ketersediaan kandungan oksigen di atmosfir bumi akibat terjadinya pengrusakan hutan tropis dan pembakaran karbon untuk industri dan rumah tangga (energi BBM fosil dan batubara yang sudah melampaui ambang batas).

Tapi ujung-ujungnya yang muncul di balik isu global ini sebenarnya adalah kepentingan ekonomi dan bisnis dari Dunia Barat itu sendiri untuk tetap bisa menguasai sumber daya alam dan sumber daya manusia di negara-negara berkembang demi tetap menjaga pundi-pundi kekayaan mereka agar tetap bisa mengalir.

comparing green earth and effect of air pollution from human action, global warming concept, green tree and green earth with light and arid land with air pollusion at background

Isu perubahan cuaca pada akhirnya akan memaksa semua negara di dunia untuk lebih banyak membelanjakan keuangan negara (budget) yang terkait dengan penyelamatan kehidupan dengan menggunakan teknologi canggih yang sudah mereka kuasai sebelumnya.

Perubahan cuaca terkait pemanasan global, sementara pemanasan global akibat pembakaran energi fosil yang sudah berlebihan (migas dan batubara).

Sementara mereka juga menuduh, kerusakan lingkungan (terutama di negara berkembang) adalah akibat exploitasi hutan (deforestasi) dan alih fungsi lahan yg berlebihan untuk tanaman industri seperti kelapa sawit dan kerusakan lahan akibat tambang emas, batubara, nikel, bauxit dan tambang lainnya.

Ujung-ujungnya?

Mereka akan “memeras” rakyat di negara-negara berkembang itu untuk dengan membayar pajak oxygen, pajak karbon monoksida dari cerobong pabrik dan kendaraan bermotor yg mereka tuding jadi biang kerok terjadinya pemanasan global dan merubah iklim dunia.

Bentuknya dengan mengenakan pajak import yg lebih besar thd produk-produk industri yg datang dari negara berkembang yang mereka duga kuat banyak merusak lingkungan. Padahal ini sebenarnya akal-akalan untuk melindungi produk dalam negeri mereka semata dari persaingan ekonomi global.

Disampung itu kini mereka mulai mempelopori rakyat di seluruh dunia untuk meninggalkan energi fosil (migas dan batubara) dan produk yg banyak merusak lahan hutan tropis seperti minyak sawit.

Mereka juga mulai “mempelopori” penggunaan mobil listrik untuk menggantikan mobil yang menggunakan BBM fosil atau BBM terbarukan lainnya yg berbahan dasar minyak sawit misalnya.

Dan mereka juga lagi giat dan berupaya keras agar rakyat mau mengganti sumber energi listrik rumah tangga dengan mesin listrik tenaga matahari atau battery yang berenergi besar buatan industri pabrik battery mereka. Begitu pula sumber energi untuk mesin-mesin industri.

Perjalanan test drive jajaran mobil hybrid dan PHEV Toyota, dari Banyuwangi-Bali, 9-11 Oktober 2019.(CUTENK)

Mereka juga sedang giat untuk menutup pabrik-pabrik industri dan pembangkit listrik yg menggunakan batubara sebagai sumber energinya.

Padahal dibalik semua ini agar penduduk di seluruh dunia mau berpindah dari sumber energi listrik yang bersumber dari fosil ke sumber energi listrik yang bersumber batu battery atau ke mesin pembangkit listrik matahari.

Sumber energi baru tersebut sebenarnya sudah mereka kuasai teknologinya cukup lama tapi sampai saat ini belum ekonomis saja untuk di produksi massal. Mereka butuh isu baru untuk mendorongnya.

EDITOR : REYNA







banner 468x60