Cindelaras Nekad Ikut Adu Jago, Meskipun Raja “Cawe-Cawe” Menjegalnya – (Bagian 32)

Cindelaras Nekad Ikut Adu Jago, Meskipun Raja “Cawe-Cawe” Menjegalnya – (Bagian 32)
Ilustrasi: Cindelaras dan ayam jagonya



Oleh: Budi Puryanto

Seri sebelumnya (Seri-31):

“Benar Kanjeng Prabu, saya adalah saksinya. Cindelaras itulah nama yang diberikan oleh Permaisuri. Kanjeng Prabu bisa memberinya nama lain, nanti bila keadaan sudah membaik,” kata Ki Patih.

“Ki Patih, aku senang sekali kamu telah mengatakan dengan jujur kepadaku. Seperti janjiku, Ki Patih. Dalam sisa hidupku ini aku harus menebus semua kesalahanku kepada rakyatku. Selama ini aku telah membuat mereka menderita,” kata Raja.

“Ki Patih, aku akan mengangkat Cindelaras sebagai putra mahkota yang menggantikan aku. Aku rela dia yang duduk di singgasana Jenggala. Ki Patih saya beri tugas untuk itu. Mengatur agar semuanya bisa berjalan dengan baik,” kata sang Raja.

“Tapi sebelum itu, apa buktinya kalau Cindelaras adalah anakku” tanya sang Raja.

“Kanjeng Prabu harus bertemu sendiri dengan Cindelaras di ruang Penjara. Bertanyalah kepadanya secara langsung. Saya yakin Permaisuri orang pinter. Dia pasti menitipkan sesuatu sebagai tanda bukti,” jawab Ki Patih.

************************************

SERI-32

Pada malam yang sama, saat sang Raja sedang bertemu dengan Ki Patih, ditempat yang berbeda, Permaisuri sedang memusatkan pikiran dan tenaganya untuk meraih ilmu-ilmu puncak dari peninggalan Nyi Calon Arang. Malam itu tepat bulan purnama, diyakini merupakan waktu yang paling bagus untuk melakukan pemujaan kepada Bathari Durga dan Bathara Kala.

Karena ilmu yang akan dikuasainya merupakan jenis ilmu pada tingkatan tertinggi, maka upacara pemujaan Panca Makara dalam tradisi Bhairawa Tantra itu mensyaratkan korban anak manusia. Dalam keadaan telanjang mereka memakan ikan suro, makan daging manusia dan minum darah manusia yang dikorbankan itu. Kemudian melakukan hubungan badan secara bebas. Setelah merasa puas, dalam keadaan tanpa nafsu, mereka kemudian melakukan semedi. Saat itulah mereka meyakini akan didatangi langsung oleh Bathari Durga dan Bathara Kala yang akan memberikan ilmu kesaktian tiada tara.

Permaisuri adalah orang penting dalam aliran ini. Dia memberikan jaminan keamanan dan seluruh keperluan. Bisa dibilang dia adalah tokoh sentral atas kebangkitan kembali aliran ilmu hitam yang diciptakan oleh  Nyi Calon Arang, yang hidup pada masa Raja Airlangga itu.

Permaisuri tidak sekedar mempelajari berbagai ilmu kesaktian, tetapi dia juga menghimpun orang-orang sakti itu. Sebagai Permaisuri raja, dia memiliki kekuasaan besar yang memudahkan segala yang diinginkannya.

Dia memiliki perpaduan unik. Cantik, cerdas, licik, berani, dan juga berkuasa. Meskipun ilmu keskatiannya belum bisa menyamai Nyi Tunjung yang belajar langsung dari murid terpandai Nyi Calon Arang. Tetapi yang menjadi panutan dalam aliran itu tetaplah sang Permaisuri. Apa yang menjadi perintahnya, akan dituruti. Kehebatan permaisuri itu seperti layaknya Calon Arang.

Bedanya, kalau Calon Arang itu hebat karena tinggi ilmunya. Pengaruhnya didunia ilmu hitam sangat besar. Dia berani melawan raja Airlangga. Dia dan para muridnya sering membuat keonaran dan kerusakan di desa-desa.

Sedanglan Permaisuri ini, dia orang yang berkuasa. Meskipun bukan raja, tetapi kekuasaannya seperti raja. Hal ini membuat dia memiliki pengaruh besar di aliran Bhairawa Tantra. Permaisuri menghimpun kekuatan orang-orang sakti dari aliran ini, untuk mendukung tujuannya: menjadikan anaknya raja di Jenggala.

Dia menyadari, jalan menjadi permaisuri dilewatinya melalui cara tidak sah. Menjegal dan memfitnah. Tetapi sesungguhnya bukan itu yang dirisaukannya. Kalau soal menjegal dan memfitnah, menurutnya hal biasa dalam meraih kekuasaan. Yang merisaukannya,  dia meyakini Permaisuri lama tidak benar-benar meninggal. Dia meyakini, bahwa Ki Patih itu telah berbohong. Yang sesungguhnya terjadi, Ki Patih itu pasti melindungi Permaiuri. Hanya saja, karena kecerdikan Ki Patih, Permaisuri tidak bisa membonngkar kebohongannya.

Permaisuri juga tahu, bahwa Ki Patih itu masih ada hubungan darah dengan sang Raja. Dia juga orang yang besar jasanya bagi Jenggala. Karena itu Raja tidak mau memecatnya, meskipun kekuasaannya dipreteli.

Menyadari hal itu, mendudukkan anaknya menjai raja Jenggala, bukanlah perkara mudah. Apalagi kalau benar, Permaisuri lama masih hidup, lalu tiba-tiba muncul di istana. Segalanya bisa berubah seketika. Statusnya permaisuri akan hilang. Semua impian akan hancur.

Itulah alasan utama Permaisuri harus menempa dirinya dengan ilmu-ilmu kesaktian tingkat tinggi. Dan menghimpun para pendekar sakti dibawah kendalinya. Kekuatan kelompok ini akan berguna pada saatnya nanti. Ini bisa menjadi pasukan tambahan diluar pasukan kerajaan yang berada dibawah kendalinya.

Demi mencapai tujuan ini, dia sudah tidak perduli lagi dengan tatakrama sebagai permaisuri, sebagai istri raja. Dia keluar masuk istana jam berapapun dia mau, tanpa harus ijin sang raja.

Karena itu, saat dia kembali ke istana dan diberitahu raja sedang bepergian dengan Sawitri, salah satu selirnya, dia tidak meghiraukan. Justru dia merasa senang. Karena Sawitri selir yang sudah tua. Tidak mungkin akan berkianat.

Yang menguras pikiran Permaisuri itu sekarang tentang anaknya, Pangeran Anom yang belum juga mau keluar istana. Jiwanya masih tergoncnag. Dia menyadari anaknya berjiwa lemah. Tidak memiliki kemauan kuat seperti dirinya. Hidup enak sebagai anak raja, telah mematikan api semangat dalam jiwa anak muda itu.

Sebaliknya, bila Permasiuri melihat Cindelaras, dalam hati kecilnya dia kagum dengan kemampuan anak muda itu. Tetapi entah mengapa kebenciannya begitu besar padanya. Padahal hanya karena anaknya dikalahkan. Dia begitu besar keinginannya untuk menangkap dan menghancurkan Cindelaras.

“Biar membusuk didalam penjara anak keparat itu ,” bisik hatinya, berkali-kali.

Tetapi anehnya, pikir Permaisuri, mengapa anak itu tidak tampak menderita didalam penjara? Lama-lama dia seperti menimatinya.

“Edan. Apa yang terjadi dengan anak keparat itu. Mengapa dia sepertinya baik-baik saja. Badannya tetap sehat dan segar. Dan wajahnya tetap tampak bersih bersinar, tanpa ada beban dan tekanan,” kata Permasuri didalam hatinya.

Memikirkan anaknya, lalu memikirkan Cindelaras, hatinya menjadi sakit. Perbedaannya begitu besar.

“Tetapi dia adalah anakku. Tidak boleh kalah oleh Cindelaras. Dia calon raja Jenggala. Sedang Cindelaras? Tidak jelas anak jin darimana dia itu,” pikir Permaisuri.

*******************************************

Sekembalinya raja ke istana, wajahnya nampak cerah. Itu mencerminkan hatinya yang senang. Sangat berbeda dengan biasanya. Muram, beku, seperti menanggung beban berat tak terkirakan.

Permaisuri melihat perubahan itu, tetapi tidak menaruh curiga apapun. Dia hanya berpikir Sawitri telah melayani raja dengan baik sehingga hatinya senang. Raja juga senang karena melihat keadaan alam yang indah di Balekambang. Itu wajar-wajar saja. Dan memang diperlukan oleh raja, sekali-sekali.

Baca Juga:

Sementara itu, sang Raja mulai menyusun rencana untuk bisa mengunjungi Cindelaras didalam penjara. Dia akan mencari waktu, saat Permaisuri keluar istana. Dia siapkan dengan baju penyemaran sebagai prajurit jaga, yang bertugas menjaga keamanan di penjara.

Dan, akhirnya saat yang dinanti itu tiba. Rasa ingin tahunya meledak-ledak. Setelah tahu Cindelaras anaknya, raja nampak begitu bersemangat menjalani hidupnya. Apalagi anaknya sekarang sudah didekatnya

Malam itu penjara nampak sepi, karena hari sudah larut malam. Dengan mengenakan pakaian prajurit jaga, dia aman memasuki arena penjara. Naun saat sampai didepan ruang Cindelaras, dia kaget, kenapa penjagaannya begitu ketat. Yang jaga lebih banyak, dan terus-menerus bergantian. Raja memutar otak. Dia harus membuat pengalihan perhatian.

Dalam waktu sekejap, raja sudah berhasil membuat penjaga itu meninggalkan tempat penjagaannya. Para penjaga itu tiba-tiba berlari seperti mengejar orang. Mereka terus berlari hingga keluar halaman penjara.

Itu adalah salah satu ilmu yang dimiliki Raja. Dia bisa membuat tipuan bayangan yang bergerak cepat. Bagi orang lain itu dilihatnya seperti orang berlari kencang. Padahal hanya gerak tipuan. Itu bayangan semu yang hanya dapat dilakukan oleh orang berilmu tinggi.

Setelah sepi tanpa penjagaaan, Raja dengan leluasa masuk ke ruang tempat Cindelaras dipenjara. Lalu menutup pintunya dari dalam.

“Cindelaras, bangunlah. Apakah kamu sudah tidur,” kata Raja.

“Siapa kamu,” dengan sigap Cindelaras berdiri.

“Ternyata kamu belum tidur. Aku penjaga disini,” kata Raja.

“Ada apa malam-malam masuk kesini, penjaga,” jawab Cindelaras.

Raja tertegun melihat wajah Cindelaras dalam temaram lampu yang tidak terlalu terang. Dia seperti melihat wajahnya sendiri.

“Benar-benar mirip denganku. Kenapa jantungku berdegup keras,” kata raja dalam hatinya.

Setelah agak tenang, dan merasa sangat senang, raja berkata pelan.

“Duduklah Cindelaras.  Aku mau bicara,” kata raja pelan tetapi mantap.

“Siapa kamu sebenarnya. Kamu bukan penjaga yang biasanya ada disini,” jawab Cindelaras.

“Cindelaras, perhatikan baik-baik. Tatap wajahku dalam-dalam. Apakah wajahku ada kemiripan denganmu,” kata Raja sambil melepas ikat kepala yang biasa dipakai prajurti.

Kaget bukan main Cindelaras. Mengapa orang didepannya ini sangat mirip dengannya. Lama Cindelaras menatap wajah orang didepannya itu.

“Ya, ada kemiripan sedikit denganku,” kata Cindelaras.

“Ha..ha…ha…Bukan sedikit Cindelaras. Aku sangat mirip denganmu bukan? Hanya saja aku lebih tua. Kalau masih muda wajahku pasti persis denganmu. Tidak kurang sedikitpun,” kata raja.

“Katakan penjaga, apa maumu malam-malam mendatangiku. Apakah kau akan membunuhku. Katakanlah,” kata Cindelaras tanpa ada rasa khawatir sedikitpun.

Baca Seri beriktutnya:

Raja itu mendadak makin kagum. Mengapa anak muda ini begitu tenang, tanpa ada rasa khawatir sedikitpun.

“Cindelaras. Sebenarnya aku bukan penjaga penjara ini. Aku malam-malam begini mendatangimu untuk mengatakan sesuatu yang penting,” kata Raja.

“Katakanlah, aku siap mendengarkannya,” jawab Cindelaras.

“Cindelaras, bagaimana kabar ibumu. Apakah dia baik-baik saja,” kata Raja memulai pembicaraan. Sulit rasanya dia harus mulai darimana untuk membuka jatidirinya.

“Ya, dia baik-baik saja. Yang Widi selalu melindunginya,” jawabnya pendek.

“Cindelaras, hem.hem. Aku mau bertanya kepadamu.Apakah ibumu menitipkan sesuatu kepadamu. Sesuatu yang hanya boleh kau berikan kepada orang yang disebutkan oleh ibumu,” tanya raja.

Cindelaras menjadi kaget. Mengapa orang ini menanyakan hal yang dia rahasiakan. Siapa orang ini sebenarnya. Cindelaras mulai sedikit waspada.

“Tidak usah takut, Cindelaras. Aku sudah tahu banyak siapa dirimu. Ki Patih telah menceritakan semuanya kepadaku,” kata Raja.

Mendengar nama Ki Patih disebut, Cindelaras menjadi sedikit lega. Setidaknya orang didepannya bukanlah orang jahat. Tapi dia tidak habis pikir, bagaimana dia bisa masuk keruang penjara dengan mudahnya..

“Ibuku memang menitipkan sesuatu. Aku bahkan tidak tahu apa itu. Karena ibuku membungkusnya dengan rapi, dan berpesan tidak boleh aku buka,” kata Cindelaras.

“Bisakah kau tunjukkan kepadaku. Aku tidak akan membukanya, kalau memang tidak kau ijinkan,” kata Raja.

“Mohon maaf, aku tidak bisa menunjukkan, apalagi memberikan. Pesan ibuku bingkisan ini harus aku berikan langsung kepada Raja Jenggala. Tidak boleh melewati orang lain,” kata Cindelaras dengan sopan.

“Oh.. oh.. begitu rupanya,” kata Raja pendek, diikuti rasa bangga dalam hatinya. Anaknya begitu hebat memegang janji. Ibunya, rupanya masih ingat dirinya.

“Cindelaras. Pandanglah aku sekali lagi. Aku adalah orang yang dimaksud oleh ibumu…….Aku adalah raja Jenggala. Aku adalah ayahandamu,” kata Raja yang dengan sekuat tenaga mencoba mengendlaikan diri.

Cindelaras diam sesaat mendengar perkataan itu. Hatinya bergejolak tidak karuan. Tiba-tiba matanya menjadi merah dibasahi air yang hampir tumpah. Sesaat kemudian, tanpa disadari oleh Cindelaras raja mendekapnya erat-erat dan mencium kepalanya. Baru kali ini Cindelaras merasakan pelukan seorang lelaki yang begitu hangat. Hatinya mendadak sangat bahagia dan tenang.

Setelah raja melepas pelukan eratnya, Cindelaras menunjukkan bungkusan yang diberikan oleh ibunya dan diberikan kepada Raja, yang lalu membukanya. Ternyata isinya dua buah “Cunduk Mentul” terbuat dari emas, yang dihiasi dengan batu permata. Indah gemerlapan saat terkena sinar lampu.

“Cindelaras. Ini adalah pemberianku kepada ibumu saat aku meminangnya. Cindelaras, kau adalah anakku. Kau adalah anak Raja Jenggala,” kata Raja.

Cindelaras diam menundukkan kepala dalam-dalam. Pikirannya tidak karuan, antara kaget, senang, dan bingung bercampur menjadi satu. Mendadak dia ingat ibunya yang masih ditengah hutan.

“Cindelaras, anakku. Aku mohon maaf karena telah mentelantarkan kamu dan ibumu. Tetapi aku sudah benjanji untuk menebus semua kesalahanku. Bersabarlah, tetaplah disini dulu. Aku akan mengatur agar hakmu dipulihkan. Ikuti saja apa yang diperintahkan oleh para penjaga. Tidak usah melawan. Yakinlah, anakku, waktunya tidak lama lagi keadilan akan ditegakkan kembali. Tetaplah disini. Sewaktu-waktu aku akan  mengunjungimu, Kau akan aman disini. Jangan katakan kepada siapapun kita pernah betremu,” kata Raja lalu merangkul Cindelaras.

Sesaat kemudian raja keluar dari ruang penjara yang ditempati Cindelaras.

BERSAMBUNG

EDITOR: REYNA




http://www.zonasatunews.com/wp-content/uploads/2017/11/aka-printing-iklan-2.jpg></a>
</div>
<p><!--CusAds0--><!--CusAds0--></p>
<div style=