Larangan Ekspor Minyak Sawit Indonesia Ke Eropa : Jalan Baru Percepatan Kemandirian Energi Indonesia

Larangan Ekspor Minyak Sawit Indonesia Ke Eropa : Jalan Baru Percepatan Kemandirian Energi Indonesia
Dz Arifuddin, Pengamat Energi dan Inovasi CENITS

Ancaman ekspor sawit di Eropa ini bahkan bisa menjadi ancaman global, dan ini bisa menjadi tantangan serta peluang besar Indonesia menuju ketahanan dan kemandirian Energi.

 

Oleh : Dz Arifuddin, Pengamat Energi dan Inovasi CENITS (Centre for Energy and Innovation Technology Studies)

Pada hari Rabu (13/3/2019), Komisi Uni Eropa kembali menentukan kriteria baru penggunaan minyak sawit untuk bahan baku pembuatan biodiesel di negara-negara Uni Eropa. Dalam peraturan yang baru tersebut, minyak sawit dikategorikan sebagai produk yang ‘tidak berkelanjutan’ alias tidak bisa digunakan sebagai bahan baku biodiesel. Keputusan tersebut muncul sebagai jawaban atas kesepakatan yang telah disetujui oleh 28 negara Uni Eropa yang menyoroti masalah deforestasi akibat adanya budidaya sawit yang masif.

Meski minyak kelapa sawit bukanlah pendorong utama deforestasi (justru kedelai dan jenis kacang-kacangan lainnya adalah penyumbang yang lebih besar terhadap deforestasi), serta ditengah Malaysia dan Indonesia telah mendeklarasikan moratorium perluasan perkebunan kelapa sawit (ditambahkan pengalaman, data dan fakta), bahwa minyak kelapa sawit menghasilkan 8 sampai 10 kali lebih banyak minyak daripada minyak kacang kedelai AS per hektar.

Meskipun UE hanya bisa meregulasi di wilayah yurisdiksi mereka dan Indonesia bukan bagian dari UE, namun dampaknya ekspor produk sawit (CPO dan Fame) kita ke Uni Eropa pasti berkurang dan bahkan bisa nol.

Dampak ikutannya jika kebijakan tersebut kemudian melebar tidak hanya pada bahan bakar, tetapi juga untuk pangan, kosmetik, dst, Terlebih kalo menjadi trend Global, sangat mengancam bagi indonesia karena produk sawit menyumbang devisa ekspor yang lumayan besar.

Kerjasama Pertamina – ENI ITALIA (dok. Pertamina)

Ini bisa dikatakan bagian dari strategi pemain energy fosil, apalagi minyak dari kedelai, rapeseed, sunflower, dll, kalah bersaing dengan minyak sawit yang banyak dihasilkan oleh negara tropis seperti Indonesia dan Malaysia. Produktifitas sawit bisa 10 kali lipat dari tanaman penghasil minyak nabati mereka (UE).

Biofuel dari CPO

Terkait B20, B30 dan biofuel serta pemakaian CPO 100% untuk pembangkit listrik secara umum di Indonesia, dan dampak larangan Biofuel Sawit di Eropa, Pertamina dan PLN sangat berperan sebagai buffer bagi komoditas minyak sawit Indonesia ke depan. Jika pasar LN lesu, salah satunya karena dampak boikot UE dll, harga pasti jatuh, sementara produksi melimpah. Maka Pertamina serta PLN bisa menyerap seberapa banyak pun minyak sawit yang ada untuk diproses menjadi biohidrokarbon /greenfuel dengan demikian stabilitas harga bisa dijaga.

Yang paling terkena dampak dari kebijakan larangan export ke UE ini adalah para petani sawit. Selama ini petani sawit bermitra dengan pemain besar sawit (Konglomerasi). Peran Pertamina sangat penting dalam hal sawit ini dengan cara : pemasok kilang Pertamina diprioritaskan dan diutamakan adalah para petani sawit ini.

Selama ini petani sawit tidak bisa menentukan harga CPO, bagus atau tidak harganya sangat bergantung pada kebijakan para pemain sawit besar. Hal tersebut serupa dengan peternak ayam mandiri yang selalu ditekan sama produsen pakan ternak yang juga peternak dan mempunyai produk hilir (outlet freshmart, friend chicken dll, adalah hilirisasi per-ayam-an para konglomerat pakan ternak ).

Para petani dibantu dan bekerjasama dengan Pertamina, dengan (dibantu) membentuk badan usaha atau koperasi, yang dapat melakukan kontrak pasok dengan kilang Pertamina.

Untuk menjaga pasokan ke Pertamina, dengan dukungan engineer dan lembaga, dapat memastikan kuantitas dan kualitas bahan baku tersebut sesuai dengan spesifikasi kilang Pertamina. Apalagi bila badan usaha milik petani sawit tersebut bisa didorong menerapkan Revolusi Industri 4.0, maka akan menggairahkan tumbuhnya bisnis-bisnis dan kompetensi baru disektor ini

Ancaman Sawit di Eropa ini bahkan bisa menjadi ancaman global, dan ini menjadi tantangan serta peluang besar Indonesia menuju ketahanan dan kemandirian Energi.

R & D, Pengembangan serta Penerapan Teknologi Dari Hulu sampai Hilir tentang sawit serta industri penunjangnya perlu didorong untuk tumbuh berkembang dengan pesat dari mulai Perguruan tinggi, Instansi terkait Pemerintah dan Swasta Nasional.

Potensi, peluang serta peran vital Indonesia di era Revolusi Industri 4.0 bisa dimulai sebagai Integrator, Base production dan R&D industri serta teknologi dibidang Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Perikanan/Kelautan/maritim menuju kemandirian dan ketahanan Energi serta Pangan, menjadikan Indonesia Adil Makmur dan Sejahtera.

 

 

loading…

Tags:
banner 468x60