Agus Mualif : Khilafah, Apa Ada Yang Perlu Ditakuti?

Agus Mualif : Khilafah, Apa Ada Yang Perlu Ditakuti?




Oleh : Agus Mualif Rohadi

Subyek ُاَلْخَلِيْفَة (Khalifah) adalah orang. Dalam konsep Al – Qur’an, setiap orang adalah khalifah. Namun, setelah Nabi Muhammad meninggal, khalifah yang punya arti pengganti digunakan sebagai sebutan jabatan memimpin negara.

Sedang ُاَلْخِلَافَة (khilafah) atau pergantian subyeknya adalah perbuatan khalifah dalam mengurus atau mengelola manusia atau masyarakat serta melakukan pergantiannya dalam suatu negeri. Dapat pula disebut sebagai اَلْاِمَامَةُ الْعُظْمَی (ke khalifahan).

Didalam suatu negeri selalu terdapat banyak jama’a (himpunan, kelompok, pengikut) yang berada dalam suatu ummah (dalam skala kecil disebut suku dalam skala besar disebut bangsa yang bisa terdiri dari banyak suku).

Dalam konsep ummah (berbangsa), nabi sudah memberi contoh bagaimana membentuk suatu khilafah yaitu ketika Nabi Muhammad membentuk negara Madinah melalui perjanjian atau kesepakatan Madinah.

Jadi khilafah adalah konsep pembentukan suatu negeri dengan berdasar kesepakatan, dan semua perbuatan khalifah berdasarkan kesepakatan yang dibuat oleh orang orang yang mempunyai kapabilitas membuat kesepakatan dalam forum yang tertinggi yang berlaku.

Dalam khilafah itu ada kewajiban bagi khalifah untuk menjalankan syariat atau (sistem) peraturan

Syariat itu bisa dibuat pada tingkat jama’a yang merupakan bangunan identitas dan tujuan jama’a disertai sistem hak dan kewajiban serta aturan yang mengikat setiap individu dalam suatu jama’a.

Syariat bisa dilaksanakan pada level ummah bila disepakati dalam forum ummah.

Itu adalah prinsip umumnya.
Jadi apanya yang salah ?

Bagaimana dengan Indonesia ?
Ketika pendirian ummah Indonesia, forum yang tertinggi yang tersedia saat itu adalah BPUPKI. Muncullah Pancasila dan UUD 45.

Sekarang forum yang tertinggi adalah MPR dan oleh MPR Pancasila dinyatakan sudah final. Namun UUD 45 nya sudah mengalami perubahan melalui amandemen oleh MPR.

Apa yang tidak bisa dilakukan oleh MPR ?
Kalau MPR memutuskan Pancasila nggak bisa diubah, sudah final, ya sudah final.

Lalu apa berarti tidak bisa di rubah. Selama dunia ini bersifat fana, apa saja bisa terjadi.

Dalam prinsip ber ummah, faktanya ada yang mengusulkan RUU HIP dalam forum tertinggi untuk pembuatan UU yaitu DPR.

Yang mengajukan RUU HIP ini pasti merasa punya kekuatan politik yang mencukupi untuk merubah syariat tertentu secara bertahap. Awalnya dalam bentuk UU, tapi jika ini berhasil dan suatu saat merasa jauh lebih kuat lagi, tidak menutup kemungkinan masuk ke wilayah kesepakatan tertinggi yaitu forum amandemen di MPR, menjadi syariat tertinggi. Itu realitas.

Faktanya, dalam AD/ART jama’a PDIP menyebut Pancasila dalam visi Trisila dan Ekasila.

Apa negara bisa menyuruh PDIP merubah visinya ? Kalau menurut UUD amandemen negara nggak bisa merubahnya, sama nggak bisanya menyuruh merubah visi jama’a partai partai Islam seperti PKB, PAN, PPP, PKS dan PBB.

Artinya partai partai itu punya potensi membawa konsep jama’anya menjadi konsep ummah dalam forum ummah yang tersedia yaitu DPR dan MPR.

Itu realitas konstitusi yang ada sekarang.

Kalau suatu saat negeri ini pecah jadi 2 negeri atau lebih, ya semuanya baik konsep jama’a maupun konsep ummah nya bisa berubah.

Semua orang sekarang ini pasti berusaha negeri ini tidak pecah.

Tapi dalam sejarah, dari jaman kuno hingga jaman modern, suatu negeri itu bisa pecah dengan diawali dari adanya persoalan dalam negerinya sendiri yang menjadikan negerinya lemah, kemudian suatu ummah pecah, lalu terbentuk ummah ummah baru, khilafah khilafah baru pada ummah ummah yang baru.

Dalam pergaulan atau hubungan antar ummah, selalu terdapat ummah yang kuat dan ada ummah yang lemah yang hal itu bisa saja berakibat adanya perubahan yang membuat suatu ummah atau umah yang lemah dikuasai ummah yang kuat. Hal itu sudah terbukti sejak jaman kuno hingga jaman modern, yang hal ini dapat memicu terbentuknya khilafah baru bahkan dapat pula memicu pecahnya ummah menjadi ummah ummah baru dengan khilafah khilafah barunya.

Di dunia ini, dalam pandangan keimanan, yang abadi hanyalah Al – Qur’an.

Jadi nggak usah alergi dengan kosa kata khilafah, karena hal itu adalah sunnatullah, konsepnya Allah, nggak bisa dilawan manusia

EDITOR : SETYANEGARA







Tags: , , ,
banner 468x60