Agus Mualif : Konflik Klasik Antara Penguasa Versus Penganjur Kesalihan (bagian ke delapan)

Agus Mualif : Konflik Klasik Antara Penguasa Versus Penganjur Kesalihan (bagian ke delapan)




Oleh : Agus Mualif Rohadi.

Apa yang terjadi dengan imperium roma (barat) dan bizantium, sehingga ketika imperium (khilafah) muslim sedang dalam keadaan lemah, ekonomi terpuruk, tapi roma dan konstantinopel tidak mampu memanfaatkan situasi tersebut untuk merebut kembali wilayah jajahannya.

Agak jauh mundur kebelakang, pada tahun 312, ketika seorang senopati prajurit roma, yaitu Konstantinus, yang menurut sejarawan Kristiani, Lactansius, peralatan prajurit Konstantinus menggunakan tameng bergambar salib, menggulingkan kekuasaan kaisarnya yang masih belia, Maxentius yang masih berumur sekitar 20 tahun. Kepala Maxentius dipenggal kemudian di tancapkan di ujung tombak diarak keliling kota roma, orang orang dekat Maxentius ditangkap lalu dieksekusi di lapangan terbuka agar dapat disaksikan rakyat roma. Kepala Maxentius kemudian dibawa ke daratan afrika untuk dipamerkan sebagai pesan bahwa imperium roma sekarang telah mempunyai kaisar baru, yaitu Konstantin Agung.

Konstantin kemudian menyatukan wilayah barat dengan wilayah tengah dan timur. Penyatuan dengan wilayah tengah melalui pembentukan persaudaraan dengan penguasa wilayah timur yaitu Licinius. Saudari tirinya yang masih belia dikawinkan dengan Licinius penganut Kristen yang berumur hampir 60 tahun.

Licinius kemudian menyerang wilayah timur dengan semangat panji panji Kristus. Pasukan Licinius dapat mengalahkan pasukan kaisar Maximinus Daia dan kaisar wilayah timur ini kemudian bunuh diri dengan menenggak racun. Licinius menghabisi secara tuntas seluruh keluarga Maximinus baik keturunan langsung maupun saudara jauh, sehingga tidak ada satupun keluarga Maximinus dikemudian hari dapat menggugat kursi kaisar.

Jika dibanding dengan pemeluk agama pagan yunani, romawi maupun Jermani, maka dari segi kekuatan pasukan, Kristiani telah menjadi pendukung utama dari usaha Konstantian merebut dan menyatukan imperium roma. Setelah menyatukan seluruh wilayah imperium, Konstantin mengumumkan bahwa Kristen adalah agama resmi imperium roma, dan gereja Kristen harus dikembalikan kepada kaum Kristen dan tidak boleh diganggu. Kaum Kristiani mendapatkan banyak kemudahan, pengurangan pajak dan kebebasan. Konstantinus memanfaatkan organisasi dan struktur gereja untuk memperkuat negara. Pemimpin gereja setara dengan pemimpin agama pagan romawi. Agama Kristen segera berada dipanggung dunia. Namun Konstantin tetap menjaga pluralitas agama rakyatnya. Namun, pengakuan Konstantin ini menjadi pukulan bagi agama yahudi dan nasrani. Agama yang dianggap terbelakang dan tidak beradab karena mengajarkan sunat sebagai bagian dari doktrin keimanan. Saat itu, sunat adalah ritual yang berbahaya yang bisa menyebabkan kematian. Agama Yahudi maupun nasrani tidak diakui imperium sebagai agama, dan dinyatakan sebagai keyakinan sesat.

Namun tidak lama kemudian, Konstantin khawatir dengan perpecahan agama Kristen yang dapat mengganggu keutuhan imperium, karena terjadi pertentangan besar antara penganut madzab Arius (Arian) yang diophyistes versus madzab Athanasius yang monophysites, sehingga pada tahun 325, Konstantin mengundang para imam Kristen menyelenggarakan konsili untuk menyelesaikan masalah perbedaan madzab ketuhanan Kristen ini. Untuk pertama kalinya konsili dilaksanakan dengan disponsori Kaisar. Madzab Athanasius memenangi konsili karena mendapatkan stempel dari Konstantinus. Namun kesepakatan itu dipahami oleh para Imam sebagai kehendak Konstantin agar perbedaan madzab tidak menjadi faktor perusak keutuhan negara. Pulang dari Konsili, para imam tetap mengajarkan madzab ketuhanannya sendiri sendiri.

Secara tak terduga, Konstantin menggantung Licinius karena Licinius mengkritisi Kristen yang leluasa bergerak di dalam istana barat sewaktu waktu dapat membahayakan kekaisaran, namun justru Konstantinus menganggap Licinius telah melawan keputusannya. Konstantinus bahkan menggantung anak Licinius yang masih berumur sekitar 10 tahun yang juga keponakannya sendiri. Konstantinus memanfaatkan pendirian Licinus sebagai alasan kuat untuk menyatukan imperium roma dalam satu tangan. Penggantungan itu membuat Konstantina istri Licinius marah dan diam diam menjadi pelindung madzab Arian dan menjadi penentang madzab Athanasius.

Tidak lama kemudian, sekitar tahun 330, Konstantinus memindahkan ibukota imperium Roma ke Bizantium. Disana anak anak Konstantin menunggu kematian bapaknya.

(bersambung ke bagian sembilan)







banner 468x60