Agus Mualif : Konflik Klasik Antara Penguasa Versus Penganjur Kesalihan (bagian ketiga)

Agus Mualif : Konflik Klasik Antara Penguasa Versus Penganjur Kesalihan (bagian ketiga)




Oleh : Agus Mualif Rohadi

Sejak Marwan menggantikan Yazid, الخليفة (khalifah) yang punya arti bahasa “pengganti”, yaitu pengganti rasul untuk memimpin negara dan kaum mukmin, mengalami perubahan karena jabatan khalifah mempunyai sebutan gelar yaitu السلطنة (sulthan) yang punya arti bahasa (yang) menguasai atau penguasa. Disamping itu, jabatan khalifah yang pada awalnya dipilih dan dibaiat oleh para sahabat dan kaum muslim, kemudian berubah melalui proses diwariskan.

Terjadi pergeseran makna dan cara menetapkan seorang pemimpin yang berakibat semakin mendorong kecenderungan pemisahan dua prinsip dasar kekuasaan. Hal ini membuat semakin banyak orang orang salih yang menjauh dari kekuasaan yang kemudian membangun perananan yang berbeda dalam mengembangkan Islam.

Orang orang salih ini kemudian menciptakan disiplin aktifitas yang bermacam macam. Kebanyakan menjadi pengajar atau pendakwah, namun tidak sedikit yang memperdalam ilmu dengan menggali kandungan Al – Qur’an dan hadits.

Dari orang salih yang memperdalam ilmu, yang pertama kali menyusun kitab di luar musaf Al – Qur’an adalah cucu Abu Bakar, yaitu Urwah bin Zubair bin Awwam (wafat sekitar 92 H/711 M). yang membuat kitab tentang sirrah Nabi, yang berisi sejarah dan perkataan penting (hadits) Nabi Muhammad yang dikumpulkannya dari anak atau cucu sahabat dan kerabat Nabi Muhammad yang menjalani kesalihan hidup berdasarkan kebiasaan Nabi Muhammad dan para sahabat. Setalah itu, kitab ini berturut turut dilengkapi dan disempurnakan oleh Utsman bin Affan al – madani (wafat sekitar 105 H/724 M), Muhammad bin Ishaq yang dikenal dengan Ibn Ishaq (wafat sekitar 115 H/734 M), dan terakhir disempurnakan oleh ibn Hisyam (wafat sekitar 213 H/829 M). Dari kitab sirah Urwah ibn Zubair ini kemudian menjadi rujukan dan mendorong semakin banyak penulisan hadits dan fiqh (yurispudensi).

ARTIKEL TERKAIT 

Penulis fiqh pertama kali yang kemudian dikenal dengan pendiri Yurisprudensi Islam adalah Imam Abu Hanifah (80 H/699M – 150 H/767, kemudian muncul penulis fiqh berikutnya yaitu Imam Malik ibn Anas (93 H/711M – 179 H/795 M), Imam Abdullah Muhammad ibn Idris asy Asy Syafi’i (150 H/767 M – ) yang masih kerabat Nabi Muhammad dari bani Muthalib, Imam Ahmad ibn Hanbal dikenal dengan nama Imam Hambali (164 H/780 M – 241 H/853 M). Yurisprudensi ini ditulis untuk mensikapi peristiwa baru yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang disikapi berdasarkan ayat terentu atau membuat analogi (qiyas) dari perkataan Nabi Muhammad, yang awalnya digunakan untuk mensikapi peristiwa kesepakatan perdagangan, kemudian berkembang ke banyak peristiwa lainnya.

Imam Syafi’i menggunakan metode isnad (mata rantai) dalam menulis hadits untuk menyusun fiqh, yang kemudian dengan metode ini digunakan oleh Imam Abu Abdullah ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al – Mughirah ibn Bardizbah, yang lahir di Bukhara sehingga kemudian dikenal dengan nama Imam Bukhari yang lahir tahun 194 H/810 M, meninggal 870 M, untuk menulis kumpulan hadits hingga mencapai 9082 hadits. Perawi hadits lainnya, yaitu Imam Abdul Husain Muslim ibn al – Hajaj ibn Muslim, yang dikenal dengan Imam Muslim, yang lahir tahun 202 H/817 M.

Beberapa orang salih fokus menjadi pengajar atau pendakwah aqidah atau theologi dan karena mempunyai banyak murid, kemudian menjadi pendiri aliran aqidah. Dakwah Abdullah ibn Ibadh menjadi gerakan dakwah aqidah Al – Ibadiyah berkembang di Oman, kemudian dikenal sebagai aliran Ibadiyah, mulai berkembang pada tahun 96 H/715 M.

Pada awal kekuasaan bani Umayyah, muncul paham ekstrim seperti jabariyah yang berpendapat manusia tidak mempunyai kebebasan sama sekali dalam perbuatan. Paham ini kemudian memunculkan paham ekstrim lainnya sebagai kebalikannya, yaitu qadariyah yang mempunyai paham dimana kekuasaan Allah sama sekali tidak mengintervensi kehendak manusia. Namun paham yang sama sama ekstrim ini tidak berlangsung lama karena banyak kaum musim tidak dapat menerimanya, dan dari kondisi ekstrim tersebut akhirnya muncul aliran Mu’tazilah, yang didirikan oleh murid Imam Hasan al Basri, yaitu Washil ibn Atha’ pada sekitar tahun 101 H/720 M. Prinsip Washil ibn atha’ adalah al – manzilah baina al – manzilataini (tempat diantara dua tempat). Suatu prinsip yang rumit yang berusahan membuat kesimbangan kebebasan rasioanalitas yang tak terbatas dengan kekuasaan Allah.

Kemudian muncul aliran aqidah lainnya yaitu Murji’ah yang dikenal sangat moderat (bila dibanding ekstrimitas khawarij dan rasionalitas Mu’tazilah, antara yang mudah mengkafirkan dan memurtadkan bahkan terhadap sesama muslim dengan penerimaan terhadap keyakinan tentang perbuatan manusia yang merdeka dari ketentuan atau kehendak Allah).

Syi’ah (yang dalam al – Qur’an kata tersebut disebut dua belas kali), mempunyai arti sekelompok atau golongan. Beberapa pengertian golongan antara lain adalah golongan yang berlepas dari orang orang yang memecah belah dan bukan menjadi tanggung jawab Muhammad (Qs Al – An’am 159), atau golongan yang sangat durhaka (Qs Maryam 69). Maksud dari aliran Syi’ah adalah mencegah dari perbuatan memecah belah atau mencegah perbuatan yang menyebabkan cerai berai dan perbuatan durhaka. Untuk tujuan itu, maka umat Islam harus taat dan mendukung anak keturunan Ali ibn Abu Thalib dengan Fatimah al Zahrah sebagai imam kaum muslim sebagai penjaga Islam. Dukungan itu mengacu pada perkataan Nabi pada peristiwa di Gadir Khum usai haji wada’ yang mendukung perbuatan Ali atas protes kaum muslim dalam suatu peristiwa perjalan dari Yaman ke Mekkah untuk menunaikan haji bersama Rasul. Syi’ah pada awalnya bukan kelompok aliran aqidah namun kelompok pendukung Ali, yang dimotori oleh Salman Al – Farisi, Abu Dzar al – Gifari, Al – Miqdad ibn Al – Aswad, Ammar ibn Yasir, dan lain lain. Namun akhirnya menjadi kelompok politik yang masif karena ditindas oleh penguasa bani Umayyah, yang kemudian menjelma menjadi aliran aqidah setelah menyusun aqidah untuk Syi’ah yang menekankan kepada pentingnya kepemimpinan yang menyelamatkan kaum muslim dengan rujukan antara lain Qs Al – An’am 153 dan 159, Ali Imran 103 dan 105 Al – Maidah 3 dan 67.

ARTIKEL TERKAIT 

Bermunculannya aliran aliran aqidah pada masa Islam awal, menunjukkan bahwa saat itu Islam pada dasarnya adalah agama yang sedang mengalami dinamika pemikiran yang sangat intens. Aliran aliran agama Islam masih akan bertambah lagi jumlahnya, baik karena akibat dari politik kekuasaan khalifah maupun muncul sebagai akibat dari dialektika antar aliran, dan juga karena pengaruh kitab hadits maupun fiqh.

Karena setiap aliran mempunyai pengikut yang semakin lama semakin besar, akibatnya sering bersentuhan dengan kepentingan politik kekuasaan. Para imam aliran agama sering dipahami sebagai pesaing bagi kekuasaan khalifah. Pemikiran kritis para imam bahkan sering dianggap sebagai sesuatu yang membahayakan kekuasaan khalifah. Demikian pula setiap muncul penulisan baru tentang fiqh sering dianggap sebagai membatasi kekuasaan khalifah. …….. (bersambung ke bagian empat).

Editor : Setyanegara







Tags: , , ,
banner 468x60