Agus Mualif : Mengapa Indonesia Banyak Demo Buruh

Agus Mualif : Mengapa Indonesia Banyak Demo Buruh




Oleh : Agus Mualif Rohadi

INI TERKAIT TINGKAT DAYA SAING EKONOMI NEGARA DAN KONSEKUENSINYA.

Daya saing suatu negara dikategorikan dalam 4 fase, yaitu :

1. Negara terbelakang.

Di negara pada fase ini, roda perekonomian sangat tergantug hasil sumber daya alam, terutama pertanian, perkebunan, kehutanan dan pertambangan.

Perekonomi sepenuhnya digerakkan oleh inisiatif pemerintah.

Disamping itu ciri negara terbelakang situasi politik nasionalnya sering eksplosif, sering terjadi perubahan mendadak, dan kepastian hukum rendah.

Batas atas pendapatan rata rata penduduk $ 3000 atau paling tinggi Rp 3.500.000 perbulan ($ 1 = 14.000)

2. Negara berkembang.

Perekonomi ditentukan oleh iklim ekonomi yang diciptakan pemerintah, sering terjadi perubahan kebijakan iklim ekonomi karena itu kepastian hukum juga rendah dan banyak terjadi kasus korupsi.

Pertumbuhan dunia usaha sangat ditentukan oleh kebijakan iklim usaha yang diciptakan pemerintah. Investasi mulai masuk disektor pengolahan.

Sektor industri mulai menggeser peranan sumber daya alam dalam kontribusinya terhadap perekonomian negara. Oleh karena itu, perekonomian digerakkan oleh buruh.

Investor di seluruh dunia pasti memahami bahwa hak normatif buruh terutama standar upahnya tiap tahun berubah secara significant disebabkan kondisi makro ekonomi negara. Pertumbuhan ekonomi relatif tinggi tetapi juga dibarengi oleh inflasi yang tinggi, nilai mata uang rendah, harga harga kebutuhan sehari hari selalu mengalami kenaikan.

Karena ekonomi digerakkan oleh buruh, maka fenomena demo buruh adalah suatu kepastian sebagai konsekuensi pertumbuhan perusahaan. Tarik menarik antara buruh dengan perusahaan sebagai konsekuensi atas bagian benefit yang dituntut buruh atas pertumbuhan dunia usaha. Buruh akan menuntut peningkatan kesejahteraan seiring pertumbuhan kekayaan perusahaan.

Kasus peradilan perselisihan industrial/perselisihan perburuhan sangat tinggi.

Pendapatan rata rata penduduk berada pada skala $ 3000 sampai $ 5000 pertahun, atau Rp 3.500.000 perbulan sampai Rp 6.000.000 per bulan.




3. Negara setengah maju.

Ekonomi di gerakkan para interpreneur sebagai pembuka lapangan pekerjaaan baru yang menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi negara.

Iklim usaha tercipta dari tuntutan para interpreneur yang menggeser peranan pemerintah sebagai pembuat iklim ekonomi. Pemerintah berfungsi sebagai pelayan untuk mendukung iklim usaha.

Kepastian hukum cukup tinggi, tindak korupsi dapat ditekan.

Pendapatan rata rata penduduk berada pada skala $ 5.000 sampai $ 10.000 pertahun atau Rp 6.000.000 perbulan sampai Rp 11.500.000 perbulan.

Hampir tidak ada demo buruh menuntut kenaikan upah karena tingkat kesejahteraan sudah sesuai tingkat produktifitas dan perkembangan kekayaan perusahaan.

4. Negara maju.

Perekonomi digerakkan oleh para CEO. Kepastian hukum tinggi dan jarang terjadi kasus korupsi.

Pendapatan rata rata penduduk diatas $ 10.000 atau diatas Rp 11.500.000. Praktis hampir tidak ada konflik perburuhan.

Bagaimana dengan posisi daya saing ekonomi Indonesia.

Indonesia masih berada di level negara berkembang yang berada hanya sedikit diatas negara terbelakang dan masih jauh dari batas untuk masuk ke negara setengah maju.

Omnibus Law adalah contoh mutakhir bagaimana dominannya pemerintah dalam menciptakan iklim ekonomi dan iklim usaha, dan lebih memilih industrialisasi dengan mengandalkan upah buruh murah yang pasti menyebabkan rendahnya efisiensi dan rendahnya produktifitas, serta menciptakan disparitas yang tinggi dalam pembagian kekayaan.

Jangan kaget jika Indonesia ini tiap tahun dan tiap saat banyak demo buruh dengan masih tingginya kasus perselisihan buruh di peradilan industrial, kepastian hukum rendah dan masih banyak kasus korupsi di semua level pemerintahan.

Jadi nggak usah menyalahkan demo buruh. Hukum sosialnya memang seperti itu.

21082020

EDITOR : SETYANEHARA







banner 468x60