Anak-anak Bangsa Yang Mengguncang Dunia Perlu Sinergi

Anak-anak Bangsa Yang Mengguncang Dunia Perlu Sinergi
Pemain gitar hebat dari Indonesia, youtuber Alip ba ta




Oleh : Ahmad Cholis Hamzah

Kebanggaan saya terhadap Indonesia meningkat ketika melihat tayangan-tayangan YouTube tentang anak-anak bangsa yang berprestasi.

Setelah saya tegang setiap hari membaca berita dari koran dan melihat TV baik dari dalam maupun luar negeri, mengamati berbagai peristiwa yang sedang terjadi, misalnya soal banyak anggota DPR yang baru dilantik yang tidak hadir dalam sidang, operasi tangkap tangan KPK, kebakaran hutan di Sumatra dan Kalimantan, kasus SARA di Wamena.

Juga isu-isu internasional seperti perang dagang AS melawan Cina, AS melawan Eropa, India berencana membeli rudal canggih S-400 dari Rusia yang membuat AS marah, aktivis muda lingkungan hidup Greta Thunberg yang memarahi para pemimpin dunia di PBB, keinginan keras Partai Demokrat AS untuk memakzulkan presiden Donald Trump, peringatan pembunuhan wartawan Saudi Arabia Jamal Kasoghi di dalam gedung Konsulat Saudi Arabia di Istanbul Turki, dsb.

Dari YouTube ini pikiran saya bisa relaks sekaligus rasa kebanggaan nasionalisme saya meningkat ketika melihat beberapa musisi Indonesia mendapatkan reaksi dari ribuan bahkan jutaan penonton YouTube di seluruh dunia.




Saya pernah menulis di Good News From Indonesia (GNFI) tentang kebanggaan saya pada Nissa Sabyan yang mendapatkan reaksi jutaan penggemarnya di luar negeri. Kali ini kebanggaan saya muncul lagi ketika saya melihat reaksi YouTuber dunia memuji ananda Claudia Emanuela Santoso – remaja Indonesia yang berhasil memuakau juri Jerman di ajang Voice of Germany waktu dia menyanyikan lagu Never Enough dari film The Greatest Showman dengan suara melengkingnya yang merdu.

Lalu saya melihat dua remaja dari NTT, Andmesh Kamaleng, yang menyanyikan lagunya Hanya Rindu dan diikuti oleh Betrand Peto yang menyanyikan lagunya Andmesh itu. Dengan suaranya yang merdu, ditambah dengan cengkoknya yang meliuk-liuk dan suara yang bersih, melengking pada nada tinggi, dibalut dengan komposisi musik yang bagus, membuat pendengar dari luar negeri terkagum-kagum atas penampilan mereka.

Banyak orang asing itu yang menangis ketika mengetahui bahwa lagu itu soal kerinduan anak terhadap ibunya. “Ciamik Soro” kata orang Tionghoa Surabaya atau “Bagus Banget” kata anak DKI.

Lalu saya melihat pemuda dari Ponorogo yang ngekos di Jakarta Timur, yang pernah menjadi sopir forklift di pabrik namanya Alief Gustakhiyat umur 31 tahun, di akun YouTube-nya dikenal dengan nama Alip ba ta. Dengan jari-jarinya (fingerstyle) yang lincah Mas Alip melantunkan lagu-lagu dari barat lewat gitarnya antara lain Bohemian Rhapsody-nya the Queen, Love My Live-nya Bon Jovi, Hotel California-nya Eagle, Wonderful Live-nya Eric Clapton, Patience-nya Guns N’ Roses, dan lagu-lagu Indonesia sendiri.

Alip yang penampilannya menurut orang Surabaya “gak ngawaki” (tidak biasa) karena hanya pakai celana dua pertiga seperti penampilannya pemuda yang lagi santai main gitar di gardu kampung. Cara duduknya santai, kadang pakai topi dibalik, dan tidak pernah meminta orang untuk like, share, dan subscribe di YouTube-nya, serta di kamar yang sederhana tidak pakai background yang macam-macam.

Dia membuat orang asing terkagum-kagum karena cara memetik gitarnya sudah sekelas maestro gitar dunia. Dia tahu betul detail lagu yang dimainkan itu, permainan gitar dengan nada paling rendah, tinggi, dan kadang menggunakan telapak tangannya menepuk badan gitar seperti suara kendang yang membuat seperti suara musik sebuah band bersatu di gitarnya.

Alip yang “tanpa perasaan/cuek” dalam memainkan gitar itu membuat “melongo” semua yang melihat penampilannya. Saya yang tidak bisa menyanyi dan main gitar setuju dengan pendapat para YouTuber asing yang mengatakan bahwa Alip itu layak disebut maestro gitar dunia, karena dia mampu memainkan lagu seperti lagu aslinya.

Lihat saja ketika dia memainkan lagu Kiss the Rain-nya Yiruma persis seperti lagu aslinya yang dimainkan dengan piano. “Wonderful!”, “Amazing!” dan “He is from Indonesia!” sering diucapkan para YouTuber asing yang terpana itu memuji pada Alip ini.

Globalisasi saat ini yang ditandai dengan adanya kompetisi yang keras (fierce competition), skala ekonomi yang besar, blok ekonomi kawasan (regional economic blocks), kemajuan teknologi IT yang sangat cepat itu menyebabkan apa yang terjadi di suatu negara dapat cepat diketahui di negara lain.

Saya ingat dulu kita punya maestro biola Idris Sardi, tapi yang tahu hanya pencinta musik di Indonesia. Sekarang akibat kemajuan IT itu semua orang baik dalam dan luar negeri mengetahui aktor laga Indonesia Iko Uwais yang berhasil menembus Hollywood, dan mengenalkan seni beladiri Indonesia silat dan mengetahui para pemusisi hebat kita itu.

Kita harus memanfaatkan kemajuan zaman di bidang IT ini untuk membantu kita mengenalkan kehebatan anak-anak bangsa di berbagai bidang seperti para pemusik yang saya sebut di tulisan ini. Masih banyak anak-anak bangsa hebat lainnya yang potensinya sudah berlevel internasional di berbagai bidang yang dunia perlu tahu bahwa potensi mereka itu bukan level “ecek-ecek” lagi. Di bidang musik kualitas suara mereka dan komposisi aransemen musiknya sudah level dunia.

Namun ada baiknya potensi hebat mereka itu bisa lebih dikenal luas di kancah global kalau bersinergi dengan peranan pemerintah. Saya melihat kemasyhuran kelompok pemusik anak-anak muda Korea Selatan K-Pop itu juga muncul karena keterlibatan aktif pemerintah Korea Selatan, misalnya Kedutaan Besar mereka di seluruh dunia. Mengenalkan budaya K-Pop ke seluruh dunia menjadi bagian dari program diplomatik mereka.

Kehebatan Claudia Emanuale Santoso, Alip, Andmesh Kamaleng, Betrand Peto, Iko Uwais dan lain-lainnya bisa lebih dikenal luas apabila ada peran dari Kementrian Ekonomi Kreatif kita, Kementrian Deplu (lewat Kedubes dan Konsulat), Pemerintah Daerah, DPR/DPRD, Perguruan Tinggi, dsb.

Jangan mereka dibiarkan berjuang sendiri di kancah kompetisi global yang keras seperti saat ini.

Editor : Setyanegara
Artikel ini pernah dimuat di Good News From Indonesia (GNFI)







Tags: , ,
banner 468x60