Anak Saya Kuliah Diguna-guna Seniornya : “PKI Itu Tidak Salah, PKI Itu Korban”

Anak Saya Kuliah Diguna-guna Seniornya : “PKI Itu Tidak Salah, PKI Itu Korban”
Ketua CC PKI Aidit bersama Bung Karno




Oleh : Budi Puryanto, Pemred ZONASATUNEWS.COM

Tahun 2019, saya lupa tanggalnya. Tapi saya masih ingat saat itu masa-masa pemilihan Presiden. Jokowi-Makruf Amin (JK-MA) melawan Prabowo-Sandiaga Uno (PS). Kami, para alumni perguruan tinggi di Jawa Timur, yang berada di kubu PS, berhimpun.Saya mewakili alumni ITS yang tergabung dalam Pascal ITS (Prabowo Sandi Calone Alumni ITS).

Namun kami tidak masuk dalam Tim Kampanye resmi. Boleh disebut hanya tim sukses partikelir. Namun tekad kami kuat. Kami ingin ikut mencegah bangkitnya PKI di tanah air. Ya, kami ingin PS menang. Itu jalannya, menurut kami saat itu.

Saat pertemuan di gedung Museum NU Surabaya, ada seorang ibu, dengan semangat menggebu bercerita nasib anaknya yang kuliah di Unair. “Anak saya oleh seniornya didoktrin, kalau PKI itu tidak salah. PKI itu hanya korban,” kata ibu itu. Saya tidak bisa menyebutkan nama ibu itu. Saat itu pasukan ibu-ibu sangat populer disebut “Emak-Emak”. Dia termasuk aktivis emak-emak di Surabaya. 

Ibu itu sangat resah tentang anak perempuannya yang baru masuk Unair. Bukan karena dia kuliah di Unair. Kalau soal itu dia senang, anaknya bisa kuliah di kampus yang baik. Salah satu yang terbaik di Indonesia.

“Anak sekarang banyak yang tidak tahu sejarah kekejaman PKI,” ujarnya.

Dia mencontohkan anaknya sendiri. Karena tidak paham sejarah, maka dengan mudah seniornya mencekoki pikiran-pikiran yang berbahaya. 

“Pemutar balikan fakta sejarah PKI berlangsung secara massif kepada anak-anak muda,” ujar emak-emak itu.

Mata pelajaran sejarah, khususnya sejarah perjuangan bangsa, tidak lagi menjadi perhatian utama pemerintah. Bandingkan misalnya pada zaman Orde Baru. Anak-anak sekolah pada masa itu mendapatkan pelajaran sejarah perjuangan bangsa dengan dosis yang sangat mencukupi. Memang terkesan agak indoktrinasi, tapi itu metode efektif. Khususnya mengenai PKI. Belum cukup lewat buku masih dibuatkan film G30S/PKI. Anak sekolah wajib nonton tiap tanggal 30 September. Saya sudha lupa berapa kali nonton film itu. Tapi tiap kali nonton tetap saja senang. Bagi yang menjadi pelajar saat itu tentu masih terngiang musik film itu. Seram. Tegang. Deng deng, Ngiiing…!

ARTIKEL TERKAIT :

Saking hafalnya, pada saat sekolah adegan film itu sering ditirukan anak-anak. Juga penggalan kalimat-kalimat seperti, “Darah itu merah jenderal.” Juga ucapan Bung Karno yang ditujukan kepada Pak Harto, “Itu hanya riak kecil dalam gelombangnya revolusi. Itu soal kecil, Harto.” 

Sayang film itu belakangan dipersoalkan. Katanya tidak sesuai fakta sejarah. Salah satu yang mempersoalkan adalah Ilham Aidit, putra Aidit mantan ketua CC KPI. Kata Ilham Aidit, bapaknya tidak merokok, seperti yang digambarkan dalam film itu.

Ya, ada adegan Aidit merokok. Belum habis rokok sudah dimatikan. Lalu nyalakan rokok lagi. Karena stres berat menghadapi perubahan situasi yang tidak terduga. Ini juga adegan yang sering diperagakan zaman saya sekolah dulu. Gaya merokoknya, cara dia mematikan rokok di asbak. Dicecek-cecek. Sambil ngomong tak henti-henti. Idune muncrat-muncrat.

“Ah, sungguh film yang hebat.”

Soal keluhan Ilham Aidit, koran Kompas sudah pernah mengklarifikasi. Saat diwawancarai oleh Kompas, Aidit merokok. Dan rasanya memang berlebihan Ilham itu. Membayangkan orang seperti Aidit tidak merokok, itu sulit sekali. Dan film itu memang menjadi hidup dengan suasana rokok ditengah “malam jahanam” itu. Lampu temaram, asap rokok tebal, rapat kudeta itu menjadi sangat hidup suasananya. Meski kejadian sesungguhnya saya yakin lebih dari itu ketegangannya. 

Film ini pula yang belakangan diisukan menjadi penyebab ditendangnya Helmy Yahya dari Dirut TVRI. Pasalnya, Helmy memutar film itu pada 30 September 2019 lalu. Diputar di TVRI. TV Pemerintah. Ada yang marah. Ada yang tidak suka TVRI memutar film itu.Film itu telah menjadi momok bagi sebagian orang di negeri ini. Sudah tahu kan, siapa mereka?

Kalimat : “PKI Itu tidak salah. PKI itu korban,” ini sekarang menjadi mantra sakti, menjadi asap guna-guna. Menyebar dahsyat dicelah-celah medos, diruang-ruang diskusi mahasiswa “progresive revolosioner”, mungkin dikantor-kantor negara yang seharusnya steril, dan mungkin juga telah masuk dibilik-bilik parlemen : Dok, RUU HIP masuk Baleg.

Rakyat kebakaran jenggot, seperti baru tersadar dari tidur panjang. Pikiran rakyat terkena guna-guna sekian lama. Yang menolak mantra itu pikirannya dianggap salah, pikirannya dianggap gila. Padahal pembuat mantra itu yang sesungguhnya gila.

EDITOR : SETYANEGARA

 

 

 

 

 







Tags: ,
banner 468x60