Anton Permana: KAMI Dipersekusi, KAMI Semakin Seksi

Anton Permana: KAMI Dipersekusi, KAMI Semakin Seksi
Anton Permana




Oleh : Anton Permana

(Direktur Tanhana Dharma Mangrwa Institute)

Sudah di empat kota setidaknya yaitu Jakarta, Bandung, Magelang, dan Surabaya terjadi aksi massa penolakan terhadap KAMI (Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia) di bawah komando trio dewan presidium yaitu : Prof, Din Syamsudin, Prof Rahmad Wahab, dan Jendral TNI (Purn) Gatot Nurmantio alias GN.

Sebenarnya hampir di tiap kota di Jawa ini terjadi aksi penolakan sepihak dan upaya kuat dari kelompok tertentu untuk meniadakan kegiatan Deklarasi KAMI ini. Ada yang sifatnya sporadis anarkis, namun ada juga yang sedikit longgar. Tergantung para komandan satuan wilayahnya. Maka tak ayal yang terjadi ibarat main “kucing-kucingan” seperti yang terjadi di kota Depok kemaren. Lucu bukan??

Entah kenapa, tiba-tiba kehadiran KAMI bagi penguasa hari ini begitu menakutkan. Sehingga perlakuannya di bawah begitu kontradiktif dan sedikit memalukan kalau kita berbicara adab dalam berdemokrasi.

Sangat terasa aura kebencian, paranoid, dan sentimentil berlebihan terhadap gerakan moral yang disuarakan KAMI. Padahal secara materi dan konten lihatlah apa yang disuarakan KAMI adalah real fakta hari ini tentang kerusakan tatanan bernegara yang berujung hilangnya kedaulatan negara di bawah ketiak kepentingan oligharki.

Begitu juga secara kualitas ketokohan, di dalam tubuh KAMI berkumpul para tokoh hebat, intelektual, ulama, purnawirawan, mantan pejabat, akademisi, guru besar, aktifis, dan kaum intelektual terkemuka di negeri ini. Namun jangankan menjawab tuntutan KAMI, justru yang terjadi adalah sebaliknya, mobilisasi caci maki oleh para buzzer dan influencer plus intimidasi terhadap para aktifis yang ingin mendeklarasikan KAMI di daerah. Sungguh aneh dan memalukan bukan ??

Disinilah kualitas argumentasi dan kualitas kepemimpinan penguasa hari ini sangat jauh dari kata harapan. Buktinya, banyak tindakan emosional yang menggunakan kekuasaan dengan berbagai cara dalam menjegal deklarasi KAMI yang menunjukkan bentuk “ketidakkuasaan” penguasa hari ini untuk beradu argumentasi dan membantah setiap tuntutan yang disampaikan KAMI.

Apalagi ternyata, dengan berbagai intimidasi dan penindasan ini justru membuat KAMI semakin solid dan kuat. Hampir tiap hari masing-masing daerah di seluruh nusantara berlomba untuk segera mendeklarasikan KAMI di daerahnya tak peduli lagi kalau akan berhadapan dengan kekuasaan sekalipun.

Yang unik dari semua ini adalah, kalau kita perhatikan eskalasi penolakan terhadap KAMI ini semakin meningkat sejak statemen Pak GN tentang isu dan gejala kebangkitan neo-PKI. Ditambah dengan komentar tegas Pak GN tentang komitmen dirinya rela turun gunung meninggalkan suasana kenyamanan masa pensiunnya demi membela Pancasila yang akan diubah oleh satu kelompok politik tertentu. Dimana itu adalah sebagai dharma baktinya sebagai seorang prajurit sapta marga.

Sejak itulah, dimanapun Pak GN turun dalam deklarasi KAMI ini, maka secara seragam akan ada para demonstran dan sebaran spanduk plus aksi menolak KAMI.

Hal ini kalau dirangkaikan akan terlihat jelas bahwasanya, semua itu hanyalah “proxy” massa bayaran dari sebuah kekuatan yang tidak tampak namun bermain menggunakan tangan kekuasaan (siapa itu ? Kita sudah sama-sama tahu ajalah lembaganya).

Terbongkarnya proposal PMII kota Surabaya adalah salah satu bukti konkritnya. Untuk itu, dari tindakan persekusi terhadap KAMI ini, kita dapat menarik beberapa kesimpulan ;

1. Semakin KAMI dijegal di daerah dengan berbagai macam trik dan alibi, justru KAMI semakin bergelora dan semakin mendapat simpati rakyat Indonesia. Itu adalah fakta.

2. Persekusi terhadap Pak GN di tiga kota sebelumnya, terakhir di Surabaya sudah mulai menimbulkan riak dan detak jantung jiwa korsa sesama keluarga besar TNI. Baik yang masih aktif, maupun yang sudah pensiun, bahkan sampai organisasi binaan TNI.

Karena, kalau berbicara kehormatan dan jiwa korsa, orang tidak lagi melihat sosok, tetapi adalah Pak GN sebagai mantan Panglima TNI jendral bintang empat penuh. Sebagai keluarga besar TNI yang dididik dan dibina dengan semangat jiwa korsa, akan mendidih darah jiwa dan raganya melihat mantan Panglima mereka digelandang dan dicaci maki.

Parahnya lagi, adegan ini seakan dibiarkan begitu saja. Pemandangan ini sangat menyakitkan bagi keluarga besar TNI. Ini sama saja menginjak-nginjak kehormatan TNI sebagai komponen utama sistem pertahananan negara ini. Meskipun Pak GN sudah pensiun.

3. Akhirnya kita semakin tahu siapa yang bermain di balik ini semua. Siapa yang menggerakkan, memback up, memobilisasi, membiayai hingga sekalian juga mengintimidasi aktifis KAMI. Pola gerak dan strateginya sama ditiap daerah yaitu : Dengan alasan covid, pemilik tempat membatalkan izin, padahal kampanye Pilkada diperbolehkan.

Ada juga yang sengaja tidak mengeluarkan izin namun di satu sisi menggerakkan elemen massa bayaran (yang tentunya juga tidak berizin), untuk demo membubarkan acara KAMI dengan alasan tak ada izin. Modus dan polanya sangat mudah ditebak.

4. Yang konsen disuarakan KAMI adalah melawan kebangkitan komunisme, pembelaan terhadap Pancasila, dan tentang kedaulatan negara di segala bidang. Tapi diframing seolah-olah KAMI ini sebagai penjahat. Nah..disinilah distorsi itu sering terjadi. Yaitu para aparat negara yang masih merah-putih namun ditugaskan untuk membubarkan acara KAMI menjadi serba salah. Karena berlawanan dengan suara batinnya sebagai prajurit.

Sebagai prajurit yang disumpah setia pada Pancasila dan membela kedaulatan negara, dipaksa untuk melawan KAMI yang jelas tujuannya sangat patriotik demi negara. Kan jadi aneh ??

Keluhan ini sering kita temukan dari para prajurit tersebut yang sedih melihat perintah pimpinannya yang dianggap sudah jauh keluar menjadi alat kekuasaan politik. Bukan melindungi rakyat dan kedaulatan negara lagi.

5. Rakyat hari ini sudah semakin cerdas. Kehadiran KAMI adalah sebuah keniscayaan ketika negara ini tak lagi berpihak pada kepentingan rakyat. Sudah jauh lari dari konstitusi. Sedangkan lembaga legilatif dan yudikatif semua sudah mati di bawah ketiak penguasa.

Jadi sangat wajar, monentum kehadiran KAMI ini sangat tepat sebagai penyeimbang dan poros perlawanan secara moral dan konstitusional. Dan saya yakin, KAMI akan terus menggelinding bagaikan bola salju tsunami selaras dengan kejenuhan rakyat hari ini.

Satu-persatu tokoh sentral tingkat nasional bahkan kalangan istana sudah mulai main mata merapat dan berdialog dengan para aktifis KAMI. Bahkan dari kalangan pengusaha dan politisipun mulai bergeser biduk politiknya kearah KAMI melihat “trend” dukungan rakyat yang semakin luas terhadap KAMI. Hingga diaspora luar negeri pun berjejer di belakang KAMI untuk berjuang bersama menyelamatkan Indonesia dari cengkaraman neo Komunis dan neo liberalis.

Makanya saya beri judul tulisan ini, semakin KAMI dipersekusi justru KAMI akan semakin seksi dan dicintai oleh rakyat. InsyaAllah. Salam Indonesia Jaya ! Ingin Indonesia selamat ? Mari bergabung bersama KAMI..

Jakarta, 28 September 2020.







banner 468x60