Anton Permana : KAMI (Pancasila) Vs Neo PKI

Anton Permana : KAMI (Pancasila) Vs Neo PKI
Anton Permana




Oleh : Anton Permana.
(Tanhana Dharma Mangruva Institute)

Sah ! Akhirnya kita semua tahu bahwa yang sedang bertarung saat ini dalam konstalasi politik nasional itu adalah kelompok KAMI Pancasila dengan kelompok Neo PKI dan antek-antek budaknya.

Kenapa ? Karena, hal utama yang dikumandangkan oleh KAMI itu adalah membela Pancasila dan melawan kebangkitan Neo PKI di Indonesia. Seperti gayung bersambut, sejak dua hal itu dikumandangkan dengan lantang oleh Jendral TNI (Purn) Gatot Nurmantio sebagai dewan Presidium KAMI bersama Prof Din Syamsudin dan Prof KH Rachmad Wahab, langsung ada perlawanan keras yang super reaktif dalam menjegal setiap acara KAMI di beberapa kota.

Artinya, kalau yang dimusuhi KAMI itu adalah kebangkitan Neo PKI, dan yang dibela KAMI itu adalah kedaulatan bangsa dan Pancasila, maka otomatis yang balik memusuhi dan menyerang KAMI secara sistematis itu adalah para pengikut dan antek Neo PKI dan pengkhianat Pancasila. Jelas dan tegas bukan ?

Tidak hanya itu, macam cacing kepanasan dan uring-uringan bermunculan komentar pedas baik dari para buzzer dan yang katanya tokoh dalam menyerang KAMI dan personalnya. Sangat mirip pola Mao Tse Tung dedengkot komunis China yaitu ; apabila kamu tidak bisa mematahkan argumentasi musuhmu, maka seranglah pribadinya. Ketika KAMI mengeluarkan gugatan dan tuntutan, ehh malah dibalas dengan caci maki dan fitnah. Bukannya dijawab dengan klarifikasi atau data akurat lainnya.

Wajah perpolitikan nasional kita hari ini sungguh telah dikotori oleh tangan-tangan biadab jahil jauh dari norma kesusilaan. Negeri ini seakan kembali lagi pada masa kelam tahun 1960-an dimana PKI berkuasa. Yaitu, semakin maraknya aktivitas provokasi penuh kebencian dan fitnah terhadap tokoh agama dan TNI. Kalau dulu Buya Hamka, M Natsir, Masyumi menjadi korban. Saat ini lihatlah tak terhitung lagi para ustadz, ulama, Kiyai, dan Habaib yang juga mengalami hal yang hampir serupa.

Kalau dulu isunya anti Nasakom kontra revolusi, saat ini isunya radikalisasi dan intoleran. Padahal, para PKI inilah yang super radikal dan super intoleran. Buktinya, pembantaian dan tindakan penjegalan, persekusi, kembali marak terjadi terhadap tokoh ulama. Sikap intoleran seperti sakit hati dan benci terhadap symbol dan peribadatan agama. Benci celana cingkrang dan cadar, benci pada Habaib dan Ulama yang tidak sejalan. Dan selalu merecoki aktivitas ibadah agama orang lain penuh kedengkian.

Begitu juga selanjutnya, kalau dulu 7 orang Jendral TNI AD difitnah dan dibunuh dengan sadis di sumur Lubang Buaya, saat ini lihatlah sudah berapa para pensiunan Jendral TNI seperti Pak Mayjend TNI (Purn) Kivlan Zen, Kapt (Purn) Ruslan Buton yang dipenjara dengan alasan hukum, yang menurut para pakar hukum sungguh pasal yang mengada-ngada. Dan persidangannya pun sedang berjalan meski kita tidak tahu akan berujung kemana.

Dan hari ini dengan mata telanjang rakyat se-nusantara menyaksikan bagaimana seorang Jendral mantan Panglima TNI yang jasa serta dedikasinya buat negara ini tak diragukan lagi, digelandang dan dipaksa turun padahal yang bersangkutan sedang pidato dihadapan para Kiyai dan Ulama di suatu ruangan yang mengikuti protokol covid-19.

Sungguh ini sebuah perbuatan yang tidak pantas, tak beretika, sombong, arogansi dan pelecehan terhadap keluarga besar TNI. Sontak hal ini semakin membakar dan membuat mendidih darah serta jiwa korsa keluarga besar TNI baik yang aktif maupun yang pensiun.

Perbuatan tak beretika ala preman oleh oknum yang seharusnya menjadi penegak hukum ini juga inskonstitusional. Belum lagi seolah pembiaran kepada aktivitas kelompok bayaran yang juga mengeluarkan perkataan tidak senonoh penuh kebencian terhadap Jendral Gatot.

Mungkin tujuannya untuk sengaja mempermalukan Jendral GN dan memberikan shock terapi, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Sikap tenang dan kenegarawan Jendral GN banjir simpati dari rakyat. Persekusi terhadap Jendral GN justru semakin menyulut gelombang perlawanan rakyat yang ditandainya banyak para Jendral dan purnawirawan turun gunung merapatkan barisan bersama KAMI.

Pertanyaannya, kalau mereka pendemo bayaran itu mengaku taat hukum dan nasionalis, mengapa tidak menggunakan cara yang sedikit lebih beradab. Tidak dengan gaya yang arogan kepada Jendral GN yang sudah pensiun.

Kalau mereka mengaku peduli pada bangsa ini ? Kemana mereka ketika Pancasila diganti ? TKA China membanjiri negeri ini, korupsi dimana-mana, narkoba meraja lela, dan penanganan covid-19 oleh negara yang amburadul ?

Artinya dengan kejadian ini, kita semua dapat menyimpulkan bahwa, KAMI Pancasila telah berhasil memancing keluar para kelompok Neo PKI dari sarangnya. Keluar dari ketiak kekuasaan.

Neo PKI saat ini adalah ancaman nyata terhadap keutuhan bangsa ini. Neo PKI bagaikan duri dan racun dari tubuh bangsa ini yang saat ini kembali mendapatkan momentum untuk melanjutkan perjuangan ideologi orang tua mereka yaitu menjadikan Indonesia menjadi negara berhaluan komunis. Dengan segala cara dan upaya mengganti Pancasila menjadi Tri Sila atau Eka Sila.

Semakin terang benderang semuanya saat ini. KAMI Pancasila yang mencoba melakukan gerakan moral menyadarkan bangsa ini akan ancaman bahaya Neo PKI, saat ini mendapatkan serangan balasan berupa intimidasi, persekusi, teror, caci maki hingga fitnah yang luar biasa dari kelompok Neo PKI.

Walaupun kelompok Neo PKI mendapatkan dukungan penuh dari China dan pusat kekuasaan. Saat ini, saya yakin, KAMI Pancasila bersama rakyat dan TNI tidak akan gentar, membiarkan dan rela negara ini dihancurkan dan diubah menjadi berhaluan komunis.

Perang itu sudah mulai dan juga mulai terbuka. Neo PKI semakin berani dan merasa di atas angin. Karena yakin kebal hukum dan dapat perlindungan dari kekuasaan. Bukti dan contohnya sudah banyak kita saksikan secara kasat mata.

Tapi yakinlah, rakyat khususnya ummat Islam tidak akan diam. TNI sebagai komponen utama dan lahir dari rakyat juga pasti tidak akan diam. Semua menunggu waktu. NKRI harga mati. Pancasila sudah final dan mengikat. Komunisme haram hukumnya hidup lagi di Indonesia.

Sekarang kita mau pilih yang mana. Bergabung bersama KAMI Pancasila ??? Atau bersama Neo PKI ??? Semua bebas memilih. Dan ingat, semua tentu juga akan ada resiko dan konsekuensinya. Berjuang atau punah ! Pancasila atau Komunis.
Salam Indonesia Jaya !

Jakarta, 29 september 2020

EDITOR : SETYANEGARA







Tags: , ,
banner 468x60