Batara R Hutagalung : Kerjasama Belanda Dan Cina Dalam Perdagangan Budak Dan Opium Di Nusantara

Batara R Hutagalung : Kerjasama Belanda Dan Cina Dalam Perdagangan Budak Dan Opium Di Nusantara
Lelang budak di Batavia sekitar 1800. (Repro Sejarah Modern Awal Asia Tenggara karya Anthony Reid).




Oleh : Batara R Hutagalung

Peneliti Sejarah, Penulis Buku “Indonesia Tidak Pernah Dijajah”

Tulisan-tulisan yang saya posting di beberapa WAG banyak mendapatkan respon dan mengajukan pertanyaan. Hampir semua menyatakan baru tahu sejarah kelam man penjajah dan antek-anteknya diwilayah jajahan Belanda.

Ada yang menanakan, “… mengapa politik aliran dari peranakan (misal Cina,Arab) tidak sepenuhnya dapat lebur dalam bingkai negara bangsa..”

Ada juga yang menanyakan mengenai alasan, ” ..diterbitkannya Peraturan Presiden Nomor 10 November Tahun 1959, yaitu larangan pengusaha kecil dan pengecer untuk perdagangan diluar ibukota Daerah Tingkat I, II, dan Karesidenan..”

Sebenarnya integrasi asing lebih menjurus ke kesulitan untuk meleburkan/mengintegrasikan keturunan Cina ke masyarakat pribumi. Antipati terhadap Cina mempunyai akar panjang dalam sejarah Nusantara dan sejarah Indonesia, setelah bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 dan mendirikan Negara Bangsa (nation state).

Mulai akhir tahun 1945 diseluruh wilayah Indonesia terjadi pembantaian terhadap mereka yang selama masa penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang menjadi kaki tanan penjajah, termasuk terhadap Cina.

Generasi muda tidak tahu latar belakang antipati terhadap Cina. Memang secara keseluruhan generasi muda telah dibuat menjadi “BUTA SEJARAH”.

Jawaban masalah ini ada di sejarah yang selama puluhan tahun berhasil dtutup-tutupi, dan dikarang sejarah baru untuk memutar balikkan peran PELAKU dan KORBAN.

Ada perbedaan dalam pembauran bangsa Cina dan Bangsa Arab (tidak ada “suku Cina” dan “suku Arab”) kedalam bingkai Negara Bangsa (Nation State) Indonesia, walaupun dari latar belakang sejarah dimasa penjajahan Belanda, ada kesamaan mereka dalam pengelompokan penduduk.

Kedatangan bangsa Arab dan Cina ke nusantara dalam jumlah besar juga berbeda. Bangsa Arab, Turki, Mesir datang ke Nusantara untuk berdagang dengan kerajaaan-kerajaan dan kesultaan-kesultanan di Nusantara, demikian juga awalnya para pedagang dari Cinaa. Belum ada migrasi besar-besaran.

Sedangkan bangsa-bangsa Eropa datang ke berbagai penjuru dunia, sudah dengan tujuan untuk menjajah (lihat Traktat Tordesilas tahun 1494) dan menjarah.

Sejak mulai berkuasa di Jayakarta (kemudian diganti dengan Batavia, lalu menjadi Jakarta) tangaal 30 Mei 1619, Belanda mulai “mengimpor” orang Cina, kebanyakan untuk dipekerjakan di perkebunan, terutama di perkebunan tebu.

Dengan latar belakang agama, bangsa Arab lebih mudah membaur dengan pribumi yang sudah beragama Islam.

Dengan intermezzo tahun 1740-1743 dimana terjadi pembatantaian oleh Belanda terhadap Cina di Jawa yang dimulai di Batavia tanggal 9 Oktober 1740 (Bukan pemberontakan Cina), Belanda bekerjasama dengan orang-orang Cina dalam PERDAGANGAN BUDAK dan PERDAGANGAN OPIUM (CANDU).

UU Perbudakan

Antara tahun 1640-1863 diwilayah jajahan Belanda diberlakukan Undanh-Undang Perbudakan. Pada waktu itu jumlah budak yang dimiliki seseorang merupakan ukuran kekayaannya.

Foto keluarga Eropa bersama budaknya (Commons Wikimedia)




Penjual/pelelangan budak-budak dilakukan oleh orang-orang Cina.

Budak laki-laki dijadikan kuli tanpa bayaran, sedang budak perempuan dijadikan gundik oleh para majikan atau sekedar pemuas nafsu majikan laki-laki. Bahkan ada pemilik budak perempuan menjadikan budaknya sebagi pelacur, dan mengantongi hasilnya.

Para pendiri Republik Indonesia yang lahir sebelum abad 20 masih mendengar penuturan kakek mereka, bagaimana kerjasama Belanda dan Cina dalam “MEMPERJUAL BELIKAN PRIBUMI”.

Setelah UU Perbudakan resmi dihapus, praktek perudakan masih terus berlangsung selama belasan tahun.

Lelang budak di Batavia sekitar 1800. (Repro Sejarah Modern Awal Asia Tenggara karya Anthony Reid).

Bersamung ke halaman berikutnya







banner 468x60