Catatan Dari Sidang MK(2): Abdullah Hehamuhua, Keteguhan Moral Dan Simbul Perjuangan Tanpa Henti

Catatan Dari Sidang MK(2): Abdullah Hehamuhua, Keteguhan Moral Dan Simbul Perjuangan Tanpa Henti




Oleh : Budi Puryanto, Pemimpin Redaksi zonasatunews.com

Gelombang rakyat yang mengawal kedaulatan rakyat diluar gedung Mahkamah Konstitusi, sangat besar, ramai. Berhari-hari rakyat melakukan aksi tanpa rasa lelah. Wajah mereka penuh semangat. Mata mereka berbinar penuh harapan. Mereka mengikuti sidang sengketa Pilpres, dari luar gedung. Didalam gedung 9 hakim MK sedang bertaruh tentang masa depan Indonesia.

Ditengah kerumunan massa rakyat itu ada lelaki tua berusia 71 tahun. Berorasi diatas mobil komando. Memompa semangat perjuangan rakyat dalam menuntut keadilan dan kebenaran. Lelaki berambut putih, berjenggot itu seperti masih mahasiswa. Bersemangat. Pidatonya penuh energi. Dia adalah Abdullah Hehamuhua. Koordinator Gerakan Kedaulatan Rakyat.

Pertama kali saya tahu nama ini sekitar 1990. Saat training masuk HMI di Komisariat Kimia ITS. Dia Ketua Umum PB HMI tahun 1979-1981.

Saya tidak mengenalnya secara langsung. Belum pernah bersentuhan hubungan secara langsung pula. Pendeknya, belum pernah bertemu, bertatap muka. Baru ada hubungan singkat via WA. Sekitar sebulan lalu.




Saat itu tulisannya sedang viral di media sosial. Disitu juga dicantumkan nomor handphone. Ini jarang terjadi. Banyak orang nulis di platform medsos tanpa nama, atau pakai nama samaran. Khususnya untuk tulisan keras dan pedas, macam tulisan bang Abdullah ini. Saya perlu konfirmasi sebelum saya terbitkan.

Sebenarnya saya belum yakin antara ditanggapi atau tidak. Tapi tetap saya hubungi via WA. Dan bang Abdullah mengijinkan tulisannya saya terbitkan. Bahkan dia mengucapkan “terima kasih”. Ucapan itu selalu dikirimkan ke saya setiap beritanya muncul di zonasatunews.com.

Nampaknya ini sederhana, tapi bagi saya mendapatkan ucapan itu, meski hanya lewat WA, rasanya menyenangkan. Seorang tokoh besar yang mau meladeni chat dengan jurnalis yang baru dikenalnya. Saya merasakan getaran etik dan moral yang teguh dibalik kesederhanaannya.

Saat Konggres PB HMI di Padang tahun 1986 terjadi pertarungan keras soal azas tunggal Pancasila. Senior saya dari Cabang Surabaya, Agus Mualif dan Bang Abdullah Hehamahua berdebat keras hingga tidak bertemu kesepakatan diforum Konggres itu. 

“Meskipun dalam forum berdebat keras tanpa ada titik temu, kita tetap tidur sekamar,”kata Mas Agus Mualif.

Keteguhan sikapnya kadang menjadi cerita aneh, hampir tidak bisa dipercaya. Saat menjabat penasehat KPK, dia hanya mau menggunakan fasilitas negara untuk urusan dinas saja. Misalnya, dia naik kendaraan umum dari rumah ke kantor. Tidak mau bawa mobil dinas kerumah.

Mas Agus Mualif pernah menceritakan dirinya janjian bertemu dengan bang Abdullah dikantornya saat menjabat penasehat KPK itu.

“Memang akhirnya bertemu tetapi saya ditemui di parkiran, bukan diruangnya,” ujar Mas Agus sambil tertawa.

Mendengar cerita itu saya teringat Sahabat Nabi Umar Bin Khattab yang tidak mau menggunakan fasilitas negara untuk urusan pribadi. Umar mematikan lampunya saat menerima tamu pribadi. Karena lampu itu menggunakan minyak yang dibeli dengan uang negara.

Cucu Pahlawan nasional Pattimura itu memang termasuk sosok langka dizaman milenial ini. Dari pribadi seperti ini teriakan menuntut keadilan dan kebenaran terhadap kecurangan pelaksanaan Pilpres terasa begitu menggetarkan hati. Dia tidak surut berjuang saat MK menolak semua tuntutan tim Prabowo-Sandi.

Saya menunggu dan menunggu tampilnya mahasiswa seperti thn 1965 – 1967, 1974, dan 1998 yang karena people power mereka, dua presiden penomenal dilengserkan. Saya lalu menghayal, apakah dalam usia senja ini, saya harus turun ke jalanan lagi untuk merasakan bagaimana makanan di sel dan penjara”

“Bahkan saya juga menghayal bagaimana nikmatnya Hasan Albana, Sayid Kutub, dan pahlawan dari kampung saya sendiri, Ahmad Lusi (Patimura) meninggal di tiang gantungan karena keteguhan melawan penguasa yang curang dan zalim. Apalagi memerhatikan piagam Wira Karya saya yang dianugerahkan pemerintah karena memiliki andil dalam pembangunan integritas nasional, khususnya di KPK. Lalu muncul pertanyaan dahsyat, “Hei Abdullah Hehamahua, kamu salah seorang cucu Pattimura, masihkah kamu berintegritas?” Ya, Allah aku rindu menjumpaiMu sebagai seorang syuhada. Aamiin Yaa Robbal Aalamiin !!!”, tulis Abdullah Hehamahua.(end) 

Baca Juga :

 







Tags:
banner 468x60