Catetan Babe (Cabe) Ridwan Saidi (3): Sosiologi HMI

Catetan Babe (Cabe) Ridwan Saidi (3): Sosiologi HMI
Ridwan Saidi, Budayawan




Oleh : Ridwan Saidi*

Ibukota RI pindah ke Yogya pada bulan Februari 1946. Sekolah Tinggi Islam yang berdiri di Jakarta 8/7/45 juga pindah. Di Yogya, setelah jadi ibukota berdiri Balai Perguruan Tinggi Gajah Mada, pada 1949 menjadi UGM.

Di PTGM ini, pada akhir 1946 berdiri 2 ormas mahasiswa. Ini yang ilhami mahasiswa dirikan ormas mahasiswa Islam. Gagasan ini sebelum 5 Februari 1947. Sedangkan pertemuan STI pada 5/2/47 yang mendukung gagasan mahasiswa PTGM.

Ketua Umum pertama Achmad Tirtosudiro, Sekretaris Asmin Nasution. Keduanya mahasiswa PTGM. Pembantu Umum Lafran Pane dari STI. September 1948, Achmad Tirtosudiro bertugas menumpas pemberontakan PKI di Madiun. Maka jalannya organisasi dilaksanakan oleh Plt Ketum Asmin.

Tak lama kemudian, Asmin mendapat panggilan ke Jakarta untuk sekolah diplomat. Jabatan PLT Ketum pun dioper ke Mintareja. Tahun 1951 kongres pertama HMI. Dahlan Ranuwihardjo terpilih sebagai Ketum. Deliar selaku utusan HMI Cabang Jakarta turut hadir di Kongres tersebut. Kongres-kongres berikutnya, baik di tahun 1953, 1955, 1957, dan seterusnya, tak ada dalam catatan dan kesaksian Lafran Pane pernah menjabat sebagai Ketum HMI.

PB HMI periode 1969-1971 saat foto bersama Jend (Purn) Abdul Haris Nasution. Dari Kiri-kanan : Sekretaris Pak Nas, Tohir, Nurcholish Madjid, Pak Nasution, Ridwan Saidi, Warnida, Jamil Gozali (Sumber foto : Ridwan Saidi/Istimewa)




Sosiologi HMI (2)

Deklarasi HMI pada 5 Februari 1947, terkesan STI Centris. Ada mahasiswa PTGM atau UGM (sekarang) yang menjadi penggagas sekaligus pendiri HMI. Mereka di antaranya adalah Achmad Tirto Sudiro, (IR) Sanusi, Mintareja, Hutagalung, Asmin Nasution, dan Dachlan Ranuwihardjo.

Mereka sudah saya temui dan mereka katakan Achmad Tirtosudiro Ketum HMI pertama, idem dengan kesaksian Deliar Noer selaku Ketum HMI cabang Jakarta tahun 1950.

Dari STI yang saya temui Tujimah yang tak bersedia memberi kesaksian.
Tedjaningsih, Anton Timur Djailani, juga menolak beri kesaksian Lafran Pane sebagai Ketum pertana atau pun pendiri tunggal HMI.

Sosiologi HMI (3)

Chumaidi Syarif, Ketua Umum HMI Periode 1976-1978 heran dengan ramainya anggota HMI yang bernasab Masyumi dan Gen Social Masyumi. Lebih 50% pendiri HMI dari situ.

Kata Lafran, depan Chum, AD HMI copas dari GPII. M. Natsir sumbang mesin stensil Gestetner. Kemudian di Jakarta dicarikan kantor untuk HMI di Jl Diponegoro 16, yang di kemudian hari ada yang jual.

Kata Chum, Lafran Pane angkut pikiran nasionalis ke HMI. Setahu saya, Lafran tidak punya pemikiran apa-apa. Cuma, kesan saya, mungkin dia tak suka Masyumi. Setahu saya, tokoh-tokoh Masyumi tak ada yang sebut nama Lafran. Tak tahu apakah Masyumi suka atau tidak dengan Lafran.

Symbol HMI yang bikin Ahmad Sadeli, dia dekat dengan Masyumi. Kalau Dahlan Ranuwiharjo memang banyak pikirannya tentang nasionalisme, kalau Lafran tidak. Kini Masyumi sudah jadi entitas sosial. Itu proses sosiologis.

Sosiologi HMI (4)

PB HMI terbitkan bulanan “Media” pada era Deliar Noer, Amir Rajab dan lsmail Hasan Metareum, dalam kurun waktu 1953-60. Majalah ini tampilan mau pun isinya amat profesional. Redaktur pelaksananya Husein Bajerei, kemudian ia menjadi Waketum Al Irsyad. Penulis tetap di majalah ini antara lain Deliar Noer, Bintoro, Machbub Djunaidi, Tuti Alawiyah.

Training HMI juga ajarkan etika gaul dan makan demgan standard diplomat. Instrukturnya Hamid Hadad. HMI membawa anggotanya ke dalam urban culture.

Tahun 1960 Masyumi dibubarkan, 1962 GPII juga. Next diperkirakan ikut bubar HMI dan PII. Corak kegiatan HMI berubah. Spannen, tegang. Sulastomo, dan terutama Mar’ie Muhamad dalam periode 1963-1965 lakukan kampanye anti Masyumisten, atau tata pikir Masyumi. Kader yang dianggap potensial Masyumisten didatangi rumahnya tanpa kasih tahu yang bersangkutan.

Baru kemudian ayah saya yang Persis dan Masyumi itu cerita kalau Mar’ie ke rumah, lalu Nurcholish, terus Harun Kamil. Kata ayah saya, “mereka nanya macam-macam soal gue”.

Sampai dengan munculnya Orba, Lafran belum muncul. Baru tahun 70-an. Itu pun tak bawa pikiran apa-apa. Beda dengan Dachlan Ranuwihardjo, Mintareja, Anton Timur dll.

Sosiologi HMI (5)

Sampai dengan era Plt Ketum HMI Mintareja, kedudukan PB HMI masih di Jogya. Sekitar tahun 1949-1950 Mintareja pindah ke Surabaya. Jabatan Ketum diserahkan pada Lukman el Hakim.

Lukman dan Dahlan pada 1950 pindah ke Jakarta dan berkuliah di Universiteit Indonesia di Jakarta. Sekretariat PB HMI menempati pavillion rumah Jen AH Nasution di Jl Teuku Umar. Kongres I diadakan di Jakarta yang dihadiri antara lain cabang-cabang Jakarta, Jogya Bandung, dan Surabaya.

Dahlan Ranuwiharjo terpiih sebagai Ketua Umum PB HMI. Dahlan mempunyai kedekatan dengan Presiden Sukarno. Sementara itu Deliar Noer dan Mukti Ali (jaman Orba Menteri Agama) menjadi notulist pada rapat-rapat PP Masyumi (keterangan Ismail Hassan). Pemikiran HMI terbagi dalam Nasionalisme Sukarno dan Masyumisten (tata pikir Masyumi).

Deliar Noer terpilih pada Kongres HMI II tahun 1953. Ia menjabat sampai 1955. Pada era pemilu 1955, transisi Deliar ke Amir Rajab Batubara yang terpilih pada Kongres III untuk masa bakti 1955-1957. Sikap PB HMI menganjurkan anggotanya menggunakan hak pilih dan memilih salah satu partai Islam: Masyumi, NU, PSII, Perti.

Kongres IV menetapkan masa jabatan PB tiga tahun 1957-1960. Terpilih Ketum Ismail Hasan Metareum. PB tidak mengeluarkan sikap terhadap pemberontakan PRRI tapi PB ikut serta dalam wadah yang dibentuk TNI tahun 1957 bernama BKSPM (Badan Kerja Sama Pemuda- Militer).

Masa jabatan PB tiga tahun dipertahankan dalam Kongres V di Makasar tapi dengan dua Ketum bergiliran. Seorang separo. Pertama, Oman Komarudin, kedua Nursal. PB periode 1960-1963 melanjutkan garis
kebijakan mulai Deliar, Amir Rajab, Ismail Hasan, dan Oman-Nursal.

Kongres VI 1963 di Jakarta. Periodisasi kembali dua tahun. Tapi adanya peristiwa Gestapu/PKI, sebabkan Kongres VII baru bisa diadakan di Solo 1966.
Kongres VI Jakarta 1963 terpilih Dr Sulastomo sebagai Ketum. Lalu Mar’ie Muhammad sebagai Sekjen. Garis politik Dahlan lebih berkibar dalam periode ini. Serial tulisan ini saya cukupkan sampai disini. (historiahmi)

*Penulis adalah Budayawan dan Mantan Ketum PB HMI

EDITOR : REYNA







banner 468x60