Daniel M Rosyid : Masa Depan Islam di Indonesia

Daniel M Rosyid : Masa Depan Islam di Indonesia




Oleh : Daniel Mohammad Rosyid

Setelah hiruk pikuk Pemilu Serentak 2019 dengan ongkos sebesar Rp. 25T, dapat ditarik kesimpulan bahwa dakwah Islam di Indonesia telah gagal membawa Islam dalam praktek kehidupan berbangsa dan bernegara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD45. Bahkan pemberlakuan UUD 2002 yang membuka lebar bagi liberalisme dan kapitalisme di Republik ini adalah puncak kegagalan tersebut. Kerja-kerja keras inovatif Wali Songo selama sekitar 400 tahun lebih di Nusantara gagal dilanjutkan oleh para penerusnya sejak HOS Tjokroaminoto, Natsir, dan Jusuf Kalla. Bahkan Yusril berhasil mengkhianati Masyumi. Praktis kini tinggal PKS di parlemen yang masih menyuarakan Islam sekalipun PKS juga mengalami pelemahan dari dalam. Mengapa kegagalan beruntun ini terjadi ?

Pertama, ajakan menjadi muslimun dikalahkan oleh ajakan menjadi islamiyyun atau islamist atau penganut islamisme atau abangan sekuler. Segera perlu disadari bahwa da’wah tidak pernah terjadi di ruang vakum. Menggunakan kategorisasi Geertz, sekulerisasi masiv telah berhasil menarik masyarakat Nusantara untuk menjadi abangan, tapi gagal menjadi santri.

Proses sekulerisasi ini dilakukan sejak Penjajahan Belanda, terutama sejak persekolahan diperkenalkan di Indonesia di akhir abad 19 oleh para misionaris Katholik-Portugis dan kristen-Calvin dan dilakukan secara besar-besaran sejak Orde Baru melalui persekolahan paksa massal dalam menyiapkan sebuah masyarakat industri yang sekuler. Proses sekulerisasi ini sekaligus proses deagrokulturisasi, sebuah proses peminggiran pertanian. Sekulerisasi ini dilakukan melalui operasi depolitisasi Islam, yaitu mempreteli ajaran Islam dari ajaran politik dan ekonomi menjadi sekedar “agama” sebagai sebuah sistem ritual dan kesalehan pribadi yang relevan hanya untuk kehidupan setelah mati. Muhammadiyah dan NU bahkan tidak tegas menolak riba sebagai sistem fasad yang tidak cuma merusak alam tapi juga merusak akhlaq manusia. Bagaimana mungkin bersikeras berharap al jannah sementara Allah dan RasulNya telah menyatakan perang melawan riba?

Kedua, para muballigh kurang memperhatikan dimensi keindonesiaan dalam dakwahnya, terlalu berorientasi ke Timur Tengah. Akibatnya, Islam di Indonesia kehilangan sisi kebangsaan dan keindonesiannya. Dengan mudah Islam dikaitkan dengan budaya Arab dan gurun pasir. Da’wah di Indonesia juga memgalami demaritimisasi, mengabaikan kemaritiman dalam kehidupan masyarakat. Berpakaian gamis dan berserban lebih menonjol daripada berbatik dan berpeci. Padahal batik adalah karya ulama Nusantara. Para muballigh jarang sekali melakukan kajian-kajian sejarah Islam di Nusantara, terutama peran tokoh-tokoh ulama dalam perjalanan sejarah Nusantara dan Indonesia. Pekerjaan Wali Songo yang belum sepenuhnya selesai, gagal diselesaikan oleh para penerusnya.

Ketiga, pesantren sebagai pusat pembelajaran Islam gagal mengajarkan kajian-kajian sains alam seperti fisika, kimia dan biologi, serta social sciences. Pesantren lebih tertarik melakukan kajian2 fiqh, dan tasawuf, tapi kurang mengkaji muamalah dan siasah sehingga gagap menanggapi dinamika politik dan ekonomi masyarakat. Masyarakat Islam Indonesia semakin tidak memiliki peran politik dan ekonomi. Pesantren berhasil dikerdilkan oleh Belanda dan Pemerintah RI sejak proklamasi. Gerakan mengubah IAIN menjadi UIN baru terjadi sekitar 20 tahun terakhir, namun sebagian malah melahirkan Islam liberal di kampus-kampus eks IAIN tersebut.

Keempat, da’wah dikerdilkan hanya berupa ajakan dari mimbar belaka, bukan sebagai program transformasi atau pembangunan masyarakat secara menyeluruh. Ini disebabkan karena asumsi bahwa muslim adalah mayoritas, padahal minoritas. Yang mayoritas adalah kaum abangan. Da’wah hanya menjadi semacam tontonan dan hiburan, bukan sarana penyadaran transformatif. Muncul fenomena da’i selebriti dengan tarif puluhan juta Rupiah yang sering menghiasi layar-layar televisi.

Selama 5 tahun terakhir, Islam dan simbol-simbolnya justru dijadikan musuh melalui narasi islamophobic penguasa dan media mainstream. Ekspresi Islam mudah dituding sebagai ekspresi intoleran, radikal, bahkan anti-Pancasila dan anti-NKRI. Bagi masyarakat apolitis yang buta sejarah, semburan dusta islamophobic ini dengan lahap diterima begitu saja tanpa pemikiran reflektif.

Persekolahan paksa massal memang bukan sekedar instrumen teknokratik untuk menyiapkan buruh bagi masyarakat industri yang sekuler, tapi memang sekaligus proses pendunguan massal. Bahkan untuk masyarakat AS, oleh John Taylor Gatto, mass forced schooling is designed to dumb down peoples. Apalagi untuk masyarakat Indonesia. Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi kecerdasan paling dirugikan oleh pendunguan massal ini.

Jika model da’wah seperti ini tidak diubah, masa depan Islam di Indonesia diselimuti kegelapan. Oleh karena itu, Musyawarah Ulama dan Tokoh Ummat se Indonesia yang digelar di Bandung baru-baru ini bertekad untuk mereposisi peran politik dan ekonomi ummat Islam di Indonesia sebagai pemilik sah Republik ini.

KA Turangga, 18/10/2019

Editor :Setyanegara 







Tags: , , , ,
banner 468x60