Daniel M. Rosyid : Mengatasi Pertumbuhan Ekonomi

Daniel M. Rosyid : Mengatasi Pertumbuhan Ekonomi




Oleh : Daniel Mohammad Rosyid

Di sebuah harian nasional, ekonom UI M. Chatib Bisri memberikan formula mengatasi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cuma 5.2% agar, belajar dari Bangladesh, menjadi lebih tinggi sekitar 7%. MCB juga menyebut regulasi dan institusi sebagai most binding constraint  yang menghambat pertumbuhan, yaitu otonomi daerah yang menyulitkan Jakarta untuk mengendalikan daerah-daerah otonom. Sebagai insinyur, saya perlu memberikan catatan berikut, sengaja tidak ditulis untuk harian nasional tersebut karena jauh di bawah standar tulisan Opininya.

Pertama luasan Bangladesh yang daratan (150ribu km2) terlalu kecil dibanding Indonesia yang kepulauan (2 juta km2). Untuk infrastruktur transportasi, yang dibutuhkan Indonesia bukan jalan tol, tapi armada kapal sebagai jalan sekaligus truknya. Harvard banyak keliru soal ini. Air bersih bahkan lebih dibutuhkan daripada jalan. Air bersih juga sekaligus dibutuhkan bagi pembangunan SDM yang sehat. Warga muda yang bersekolah lebih lama tapi sakit-sakitan tidak banyak gunanya.

Hambatan pertumbuhan dan pemerataan pembangunan adalah industri otomotif bermerk asing. Ironisnya, jalan tol justru dibangun demi keuntungan industri otomotif ini. Karena mayoritas penduduk Indonesia tinggal di P. Jawa, maka konsumsi energi perkapita kita juga menjadi sangat timpang. Setiap tanki motor dan mobil membutuhkan BBM agar mobil dan motor itu tidak menjadi rongsokan. Saat ini kita sudah terperosok ke dalam jebakan moda tunggal jalan pribadi yang tidak efisien, polutif, unsustainable dan tidak adil.

Konsumsi energi perkapita nasional kita saat ini hanya sekitar 700 liter setara minyak pertahun (sepersepuluh AS), namun sebarannya buruk sekali. Penduduk Jakarta yang kualitas udaranya terburuk di dunia mengkonsumsi BBM sekitar 5000 liter setara minyak pertahun (setara rata-rata orang Jepang yang mengandalkan kereta api untuk mobilitasnya dan sumber listriknya dari PLTN), sementara masyarakat Maluku atau NTT hanya sekitar 200 liter setara minyak pertahun. Ketimpangannya seperti bumi dan langit. Ketimpangan energi ini adalah hambatan besar bagi pertumbuhan dan pemerataan pembangunan di negeri dengan bentang alam seluas Eropa ini.

MCB juga menyinggung industri manufaktur sebagai mesin pendorong pertumbuhan ekonomi yang paling signifikan, tapi gagal menyebut industri manufaktur yang mana. Saya mengusulkan industri perkapalan dan industri pendukungnya. Produksi kapal akan membangkitkan industri penunjang dengan backward linkages yang panjang dan berlipat, sekaligus mendorong pemerataan. Untuk negara kepulauan, persatuan dan nasionalisme Indonesia hanya omong kosong saja tanpa membangun industri maritim. Sayang sekali industri maritim dianaktirikan dibanding industri otomotif.

Kita juga perlu merevitalisasi sungai-sungai kita sebagai infrastruktur transportasi. Tidak membangun jalan tol. Gunakan anggaran untuk menormalisasi sungai-sungai dan membangun dry port di dekat sungai-sungai tersebut. Pelabuhan kering tersebut juga dijadikan simpul-simpul energi (terutama gas) dan pembangkit listrik.

Dari segi regulasi, hambatan terbesarnya bukan otonomi daerah, tapi regulasi yang diturunkan dari UUD2002 yang terlalu liberal kapitalistik. Ini hanya akan menghasilkan pertumbuhan yang tidak berkualitas : tidak menciptakan lapangan kerja dan memperparah konsentrasi kapital pada segelintir kelompok. Ini akan menjadi bom waktu. Pastikan penguatan dan perluasan usaha kecil dan koperasi, bukan basa-basi lagi. Kita tidak perlu terlalu obsesif dengan pertumbuhan namun merugikan pemerarataan. Jika strategi degrowth tidak diambil maka opsi Mengatasi Pertumbuhan Ekonomi saat ini adalah mengurangi kesenjangan sosial dan ketimpangan spasial yang makin berbahaya.

Terakhir, yang tidak disinggung MCB sebagai kendala yang mengikat adalah ekosistem yang sudah rusak. Kita tidak mungkin mengandalkan sektor ekstraktif lagi untuk memacu pertumbuhan. Untuk kebutuhan listrik, jika tidak membangun PLTN, kita perlu membangun pembangkit listrik dari sumber-sumber terbarukan seperti energi surya, angin dan laut. BBM yang terbatas dialihkan untuk sektor produktif di luar transportasi atau untuk angkutan umum saja. Kendaraan pribadi harus segera beralih ke listrik. Sektor pariwisata jauh lebih menjanjikan sekaligus untuk melakukan rehabilitasi lingkungan sambil menguatkan sektor kreatif berbasis budaya dan kearifan lokal.

Jatingaleh,19/8/2019

Editor : Setyanegara 

 

 







Tags: ,
banner 468x60