Daniel M.Rosyid : Pancasila dan Islam

Daniel M.Rosyid : Pancasila dan Islam




Oleh : Daniel Mohammad Rosyid

Baru-baru ini tersebar luas foto yang memperlihatkan seseorang yang disebut sebagai putra Kartosuwiryo (tokoh yang bersama Soekarno dan Muso pernah nyantri di rumah HOS Tjokrominoto di Surabaya) sedang mencium bendera Merah Putih disaksikan oleh Menkopolhukam Wiranto. Foto ini seolah ingin mematahkan wacana Ijtima Ulama tentang NKRI bersyariah dan khilafah : bahkan keturunan tokoh nasional yg paling Islamis pun sudah meninggalkan cita cita mensyariahkan NKRI.

Saya perlu memberi catatan soal ini. Dengan menyerukan NKRI bersyariah, Ijtima Ulama 4 tidak ingin mengganti Pancasila sebagai dasar negara. Ijtima Ulama menegaskan bahwa ekspresi Islam oleh ummat Islam dijamin oleh konstitusi, bukan ekspresi intoleran seperti yang dicoba disemburkan oleh kalangan Sekgras (sekuler garis geras) dan Komgras (komunis garis keras). Bagi kedua kelompok ini, Ijtima Ulama merupakan hambatan besar dalam agenda gelap mereka mengangkangi NKRI.

Penggunaan istilah penumpang gelap dalam gerbong Prabowo oleh kedua kelompok ini tidak saja melukai para ulama dan cendekiawan muslim, tapi juga fitnah besar.

Ijtima Ulama tidak pernah mempersoalkan Pancasila sebagai dasar negara. Setiap organisasi yang hidup dalam NKRI dijamin keberadaannya sesuai dengan keunikan visi dan misinya masing sebagai perwujudan bhinneka tunggal ika. Pancasila adalah platform kehidupan bersama dalam keragaman. Melarang ekspresi Islam oleh organisasi Islam dan individu muslim justru tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Para peserta Ijtima Ulama berkeyakinan bahwa mereka sebagai warga negara berhak untuk mengekspresikan keIslaman mereka di NKRI yang berPancasila. Seruan Ijtima Ulama ini justru menengarai kecenderungan NKRI akhir-akhir ini yang makin tidak berPancasila yang digerakkan oleh kelompok Sekgras maupun Komgras.

Gunung Anyar 14/8/2019







Tags: ,
banner 468x60