Daniel M Rosyid : Reislamisasi Indonesia

Daniel M Rosyid : Reislamisasi Indonesia




Oleh : Daniel Mohammad Rosyid

Banyak orang, walaupun bukan muslim, beberapa waktu lalu senang mengutip frasa “Islam Rahmatan Lil ‘aalamiin “. Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Kutipan ini lalu kadang dipertentangkan dengan Islam Garis Keras yang intoleran dan anti kebhinekaan. Namun segera harus dicatat bahwa praktek Islam apolitis inilah yang disukai oleh kelompok liberal, sekaligus dicemooh oleh kelompok komunis sebagai candu yang melestarikan ketimpangan sosial. Saya perlu memberi catatan soal ini.

Non-muslim, untuk menghindari kata kafir, umumnya menghendaki Islam menjadi seperti “agama” lain seperti Kristen, Hindu atau Budha, yang cenderung membatasi “agama” dalam ruang-ruang pribadi terbatas di rumah atau di masjid, bukan ruang-ruang umum seperti pasar atau alun-alun dan pendopo Bupati. Islam rahmatan lil ‘aalamiin dipahami dalam kerangka Islam sebagai “agama”, bukan sebagai sebuah sistem pengorganisasian hidup sekelompok manusia yang bhinneka. Pemahaman ini adalah hasil proses sekulerisasi panjang yang terjadi selama ini sejak kolonisasi Nusantara hingga saat ini.

Lebih jelasnya, sekulerisasi itu pada dasarnya adalah upaya menyingkirkan peran agama dalam kehidupan politik dan ekonomi di ruang publik seperti pasar dan kantor Pemerintah. Selama Islam tidak masuk ke ranah publik ini, maka Islam masih dianggap rahmat bagi semesta alam. Namun begitu Islam mulai mengatur kehidupan politik dan ekonomi, lalu muncul narasi publik bahwa Islam itu radikal, tidak toleran, anti-Pancasila dan bahkan anti NKRI.

Narasi ini adalah narasi kelompok sekuler garis keras dan pada dasarnya dimaksudkan sebagai operasi terselubung untuk menyembunyikan realitas bahwa yang terjadi adalah penggusuran Pancasila dan penghancuran NKRI melalui paham liberalisme-kapitalisme baru yang oleh Bung Karno disebut Nekolim. Sejak proklamasi kemerdekaan RI, upaya mewujudkan Pancasila itu dihalang-halangi oleh kekuatan-kekuatan Nekolimik. Penjajah sadar bahwa Pancasila dan UUD45 yang asli adalah perlawanan terhadap upaya penjajahan kembali Belanda atas Indonesia.

Harus ditegaskan bahwa UUD45 yang mencakup Pancasila dalam Mukadimahnya, adalah dokumen yang sangat relijius. Negara RI ini lahir sebagai rahmat Allah yang Maha Kuasa dan berdasar pada Ketuhanan Yang Maha Esa. Upaya-upaya untuk membenturkan agama, terutama Islam, dengan Pancasila adalah upaya-upaya kelompok sekuler garis keras, terutama kelompok neokomunis, yang berbahaya. Belanda jelas penganut paham sekuler garis keras ketika melancarkan serangkaian aksi-aksi militer tidak lama setelah Proklamasi. Aksi-aksi militer ini jelas adalah upaya untuk membegal Pancasila dan UUD45 itu. Bahkan sejak Konferensi Meja Bundar, kita harus mentaati konstitusi IMF serta pengaturan penanaman modal asing. Soekarno dijatuhkan gara-gara membatalkan kesepakatan KMB dan mencabut aturan PMA ini.

Perlu diperjelas bahwa penjajahan oleh nekolim itu diawali melalui sebuah strategi budaya, yaitu memaksakan sistem persekolahan (school system) sebagai proxy sistem pendidkan. Artinya sistem pendidikan dikerdilkan melalui sistem persekolahan ini. Sistem persekolahan ini sejak Orde Baru diperluas menjadi sistem persekolahan paksa massal sebagai instrumen teknokratik untuk menyiapkan sebuah masyarakat baru industrial-urban yang sekuler. Sistem persekolahan paksa massal ini tidak pernah dimaksudkan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sistem persekolahan ini membegal upaya untuk menyediakan syarat budaya bagi bangsa yang merdeka, yaitu jiwa merdeka. Persekolahan dirancang untuk membentuk mentalitas bangsa terjajah yang hidup konsumtif dari upah, dan hutang. Proses ini diperkuat kemudian oleh televisi sampai hari ini.

Proses penjajahan itu kemudian ditingkatkan melalui sistem keuangan ribawi melalui instrumen perbankan yang menerapkan uang kertas dan bunga. Melalui sistem keuangan ini, kekayaan sebuah negara terjajah dijarah secara terstruktur, sistemik dan masif serta legal ! Sistem keuangan ribawi ini diberlakukan sejak Konferensi Meja Bundar hingga hari ini. Sistem ini sesungguhnya adalah internationally organized crime namun dibiarkan berlangsung terus. Ini hanya dimungkinkan karena jiwa yang terjajah. Uang kertas yang kosong nilai itu diganti oleh jiwa yang sudah terjajah ini.

Perlu disadari bahwa sebelum penjajahan datang di bagian bumi seluas Eropa ini, Nusantara praktis hidup damai sejahtera dengan Islam. Islam telah tersebar ke Nusantara sejak abad ke 7. Bahkan jika Musa adalah muslim, ekspedisi Zulkarnaen telah hadir di Nusantara. Hanya muslim yang memahami narasi penjajahan sehingga ulama dan santri di pesantren-pesantren Nusantara adalah kantong-kantong pemberontak radikal dan ekstremis bagi penjajah.

Adalah keringat, darah dan airmata para ulama dan santri yang memungkinkan Nusantara dengan gigih melawan penjajahan lalu berproses menjadi Indonesia saat diproklamasikan kemerdekaannya oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Oleh karena itu, saat narasi sekuler semakin menyudutkan Islam dan muslim seperti saat ini, ummat Islam menolak dengan keras karena sebagai pemilik sah Republik ini, reislamisasi Indonesia adalah jihad konstitusi. Kelompok-kelompok sekuler garis keras, baik kaum liberal ataupun komunis, boleh saja mencoba mencegah mawar dan melati berkembang, tapi keduanya tidak mungkin mencegah kedatangan musim semi.

Gunung Anyar, 22/10/2019







Tags: , ,
banner 468x60