Daniel Mohammad Rosyid : Cukup Satu Periode Saja

Daniel Mohammad Rosyid : Cukup Satu Periode Saja

loading…


Akan terjadi regenerasi kepemimpinan yang makin baik dan segar. Calon Presiden akan direkrut dari kolam kepemimpinan yg lebih terbukti : dari jabatan publik yang lebih muda yang sudah berprestasi.

Oleh : Daniel Mohammad Rosyid

Tidak ada alasan ilmiah untuk membatasi jabatan publik seperti Presiden hanya untuk dua periode. Tapi paling tidak ada 7 alasan mengapa jabatan publik sebaiknya satu periode saja. Apalagi Presiden adalah jabatan kekuasaan yang sangat besar yang mudah disalahgunakan. Lord Acton bilang bahwa power tends to corrupt (dan big power tends to corrupt more easily). Artinya, berlama-lama memegang kekuasaan besar justru berpotensi merusak moral pejabat itu sendiri. Lagipula dorongan menjabat lebih satu periode bisa jadi berasal dari orang-orang di sekitar presiden yang terlanjur telah menikmati “kue” kekuasaan.

Pertama, jabatan adalah amanah yang tidak boleh dikejar dan diminta. Sebagai amanah, jabatan apapun bak bara api tidak pantas dipegang berlama-lama. Sikap terbaik seorang pemimpin adalah bergegas menyiapkan penggantinya yang lebih baik.

Kedua, sistem rekrutmen presiden saat ini mahal dan tidak sehat bagi pertumbuhan kepemimpinan nasional. Jika kita merujuk UUD45 sebelum diamandemen, presiden dipilih oleh MPR. Presiden adalah mandataris MPR dan bertanggungjawab pada MPR. Namun saat ini, Presiden yang dipilih langsung oleh rakyat bertanggungjawab langsung pada rakyat. Presiden hanya petugas partai atau koalisi partai pengusung. Evaluasi kinerja Presiden menjadi sulit, dan tidak efektif. Biaya Pilpres yang mahal bagi Capres akan cenderung menuntut jabatan presiden yang lebih lama agar perolehan selama menjabat presiden setimpal dengan biayanya.

Ketiga, prospek menjabat lagi dalam periode kedua membuka peluang perilaku yang manipulatif. Presiden terpilih akan cenderung kurang fokus dan mengulur program karena ada peluang periode kedua. Petahana juga sering mudah tergoda untuk melakukan tindakan-tindakan tercela agar terpilih lagi. Pilpres dengan petahana akan cenderung kurang fair.

Keempat, ada gejala yang disebut student syndrome : tugas dosen baru dikerjakan pada hari-hari terakhir, lalu terjadi last minutes panic. Jadi menyelesaikan persoalan pembangunan dalam 5 tahun atau 10 tahun, hanya baru dilakukan pada tahun-tahun terakhir saja. Tahun-tahun pertama berlangsung tidak efisien dan tidak efektif.

Kelima, membatasi jabatan presiden hanya 1 periode saja akan mendorong Presiden terpilih untuk does his very best at his first chance pada kesempatan pertama dan satu-satunya itu.

Keenam, akan terjadi regenerasi kepemimpinan yang makin baik dan segar. Calon Presiden akan direkrut dari kolam kepemimpinan yg lebih terbukti : dari jabatan publik yang lebih muda yang sudah berprestasi. Fenomena akselerasi kursi kekuasaan dengan melompat ke jabatan yg lebih tinggi padahal jabatan sebelumnya belum selesai akan tidak terjadi. Misalnya belum selesai menjabat Walikota namun maju sebagai calon gubernur. Belum selesai menjabat gubernur maju menjadi calon Presiden.

Ketujuh, menghindari gejala dinasti politik yang kurang sehat. Setelah selesai dua periode, mengajukan istri atau anak sebagai penguasa baru. Jika istri pertama selesai mengajukan istri kedua.

Karena 7 alasan itulah pergantian presiden dalam Pilpres 2019 akan menjadi pendidikan politik yang penting. Saya yakin jika Prabowo siap menjadi Presiden satu Periode saja, banyak pemimpin muda seperti Sandiaga Uno akan makin bersemangat dan kepemimpinan nasional kita akan makin sehat dan hebat sejagad. Dan Rakyat Indonesia pun akan melihat hidup yang lebih berdaulat, terhormat dan bermartabat. Aamiin.

Gunung Anyar, 6 Januari 2019

loading…



banner 468x60