Fenomena Negeri: Hoax, Anjloknya Rupiah, Bencana, Persekusi, Menjelang Pilpres

Fenomena Negeri: Hoax, Anjloknya Rupiah, Bencana, Persekusi, Menjelang Pilpres

loading…


(Merumuskan Jalan Tengah ‘Intelektual Milenial dari Huru-Hara Negeri)

Oleh: Satria Madisa, (Kader HMI Cabang Mataram)

Negeri ini bernama Indonesia. Lahir, tumbuh, berkembang, maju, mundur, dari kalkulasi nusantara. Diikat rasa kebangsaan. Narasi kebangsaan kita, selalu saja menjadi diskursus, jargon, bahkan hastag. Keberterimaan kita terhadap kebangsaan indonesia, sekiranya tidak boleh diperdebatkan sampai pada pertentangan. Apalagi pertentangan dengan dalil pengklaiman, dengan absennya dialog nalar intelektual-akademis.

Negeri ini, butuh budaya kepemimpinan nasional. Bukan hanya soal demokratis dan pancasilais. Tapi juga cakap. Paham. Dan bertanggung jawab. Sejarah sudah banyak ‘menuntaskan dendam’ bahwa krisis kepemimpinan membuka lahirnya ketimpangan, diskriminasi, anarki, dan berujung pada maraknya ketidakadilan. Saat itu negara gagal. Dan menjemput kepunahan. Semoga tidak terjadi pada negeri ini.

Budaya kepemimpinan nasional menjadi wacana dalam setiap perubahan politik. Wacana itu terusan berlangsung. Dan hari ini, kita menikmati kebisingan, kegaduhan, dan sedikit kegembiraan dari benturan wacana. ‘Itu urusan demokrasi’. Menjelang pilpres. Urusan kita, negeri butuh ketegasan dan kejelasan sikap. Atas status negeri yang mulai kelihatan dungu serta hobi menyalahkan negara lain. Atas kondisi bangsa kita yang sakit ini.

Semoga saja pilpres 2019 bisa menghadirkan Presiden dan Wakil Presiden yang memahami konsep kepemimpinan nasional dan bisa menjadi literasi ‘jujur’ dalam menentukan arah pembangunan bangsa.

Tahun pilkada serentak, telah kita lalui bersama. Sekarang, menyongsong tahun pilpres dan pileg. Karena moralitas publik indikatornya politik (Rocky Gerung), maka pasti momentum politik pilpres dan pileg laris manis dalam pasar rakyat kita. Harap maklum. Beginilah wajah indonesia kita. Indonesia berbangga. Sekarang mari kita biasakan mata kita untuk menyaksikan pementasan drama, obral janji, dan obral hoax, serta pertarungan akun bayaran di sosial media.

Tahun Ini juga tahunnya bencana. Bencana Lombok, Bencana Palu masih menyisahkan luka. Luka untuk Indonesia. Ribuan nyawa melayang, Bangunan ambruk, psikologis rakyat rusak, solidaritas muncul, bahkan janji berubah hoax bertebaran indah. Rakyat bersikap, Pemerintah pun sama. Bahkan karena bencana, rakyat lombok masih digantung janji. Bahkan karena bencana, penjarahan meluas di Palu. Bahkan karena bencana, politisi bergulat. Ya, beginilah adanya. Mata kita harus terbiasa menatap keanehan!.

Informasi yang beredar luas di sosial media, bahwa Ratna Sarumpaet (Aktivis Ham) dianiaya oleh beberapa orang menghebohkan jagat kebangsaan dan politik tanah air. Ratna Sarumpaet yang dikenal keras terhadap rezim dan merupakan salah satu juru bicara Tim Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi sontak menarik simpati publik. Reaksi dan simpati publik meluas, tak tanggung-tanggung Prabowo-Sandi dan beberapa tokoh yang dikenal sebagai representasi oposisimenyuarkan keprihatinan begitupun dengan rakyat Indonesia, Penganiayaan RS menjadi trend topik, dan menghiasi panggung media mainstrem dan online negeri. Isuenya sangat massif, malah ternyata hoax. Bukan penganiayaan, tapi operasi plastik. Ratna Sarumpaet lewat jumpa pers, mengatakan bahwa tidak benar dia dianiaya. Tapi karena oplas. Heboh dihoax, heboh juga setelah pengakuannya.

Belakangan ini, atensi publik, yang lebih utama disuarakan jebolan partai koalisi, bahwa hari RS memproklamirkan kebohongannya, diabadikan menjadi hari Anti Hoax Nasional. Penulis, ikut memberikan dukungan moral, bahwa tepatlah fenomena RS dijadikan hari anti hoax nasional. Asalkan adil buat RS, dan adil buat bangsa beradab ini. Publik tahu Bukan hanya RS yang melakukan hoax? Dalam kasus RS, bangsa kita harus bersyukur, ternyata ada pembohong yang jujur! Ada banyak tokoh hoax yang tersembunyi. Kepolisian RI hanya perlu memastikan, bahwa pola yang sama bisa diterapkan pada pelaku hoax di negeri ini!.

Masih ingatkah kita stekmen Rocky Gerung?. Pembuat hoax terbaik iyalah pemerintah. Tapi entah kenapa nalar publik, lebih ‘doyan’ mengutuk hoax yang datang dari rakyat, karena dihebohkan dan digaduhkan, daripada hoax yang datang dari pemerintah yang disembunyikan.

Hoax, (RS) berpotensi mengaburkan ingatan publik terhadap aspek vital bangsa. Hoax RS mari kita serahkan pada penegakan hukum. Mata rakyat, pemuda dan mahasiswa, harus tetap melek pada isue kebangsaan dan kenegaraan kita hari-hari ini. Kita terlalu fokus pada RS, Rupiah terusan melemah. Dan anehnya bangsa kita tumbuh menjadi bangsa yang aneh dan lucu. Mulai dari awal, melemahnya rupiah, bangsa ini sibuk mengkambing hitamkan bangsa lain. Dan terbaru, yang disalahkan iyalah negara Italia. Heran!.

Bangsa kita selalu menyalahkan faktor eksternal. Faktor internal semacam disembunyikan rapat-rapat. Bukankah bangunan, akan sangat mudah dihancurkan dari dalam?. Ketidak mampuan pemerintah dalam membaca dinamika jaman, dan menjadi sumber literasi pembangunan nasional. Merupakan asbabul nujulkrisis perekonomian negeri. Tepatnya: krisis kepemimpinan nasional. Negara tidak lagi dihadirkan untuk menjamin kebahagiaan kehidupan berbangsa. Dan menjamin rasa aman warga negaranya. Tapi menjadi bagian dari polemik, kegaduhan, dan ketimpangan. Itu menurut penulis realitas kenegaraan kita hari ini.

Persekusi dinegeri demokrasi kian marak. Negara tidak lagi melindungi hak warga negara berpendapat. Negara lewat instrumen hukum (kepolisian) menjadi bagian dari persekusi, beralibi stabilitas dan keamanan. Dialog dan diskusi dicekal, ulama dipersekusi, mahasiswa dipersekusi. Akhir tahun ini, sudah berapa kali, persekusi terjadi?. Berapa yang sudah mendapatkan kepastian hukum?. Bagaimana dengan nalar justice publik?. Dan anehnya, hoax, persekusi, terjadi menjelang pilpres?.

loading…


loading…



Tags: , ,
banner 468x60