Generasi Kuat (1) : Dunia yang serba makin tidak pasti

Generasi Kuat (1) : Dunia yang serba makin tidak pasti
Ilustrasi generasi kuat




Oleh : Guntoro Soewarno

Pembudidaya Pertanian Terintegrasi Berbasis Organik


TANTANGAN ke depan, yang akan dialami oleh generasi anak-anak saya, apalagi cucu-cucu saya, pasti jauh lebih berat dan heboh. Dunia akan semakin terus menerus menciptakan ketidakpastian demi ketidakpastian. Maka dari itu, menyiapkan anak dan cucu kita sebagai generasi yang kuat dan mandiri adalah sangat penting.

Apa seh ukurannya generasi yang kuat dan mandiri itu? Yang pertama tentu pemahaman dan pelaksanaan agamanya mesti kuat. Ibadahnya kuat. Sedekahnya kuat. Suka menolong sesama juga kuat, tanpa melihat latar belakang siapa yang ditolong. Kedua, secara ekonomi juga kuat. Nilai uang akan terus merosot digerus inflasi akibat harga-harga sektor pangan, gas, sembako, akan terus naik. Maka dari itu mesti kaya syukur bisa kaya raya.

Ketiga, sehat secara fisik. Duit banyak, kalau penyakitan ya lemah dan menderita. Dan kalau kesadaran sehatnya rendah, maka pada titik tertentu akan menjadi org yang lemah dan beban bagi banyak org serta merepotkan. Maka dari itu mesti sehat. Keempat, aman hidupnya. Aman dalam arti luas. Setidaknya mampu membuat aman kehidupan keluarganya.

Dunia hari ini dihantui oleh krisis pangan dan energi. Siapa yang kuasai pangan dan energi, maka dia akan menjadi penguasa dunia. Energi dan pangan akan terus semakin krisis akibat konflik Ukraina dan Rusia. Konflik ini akan semakin luas ketika Israel membombardir Hammas, kemudian meluas ke Iran. Amerika juga ikut cawe-cawe, seperti Jokowi cawe-cawe dipilpres kemarin.

Perang itu menyedot sumber daya energi yang sangat besar. Maka dari itu, sektor Migas menjadi rebutan bagi semua negara. Perang juga menyedot logistik pangan yang tidak kecil. Hari ini semua negara besar berbicara soal bagaimana mengamankan setok pangan.

Dulu Indonesia yang hobi impor mudah sekali mendapat pasokan beras dari Thailand, India, Vietnam. Sekarang ketiga negara itu setop ekspor beras. Hanya untuk memastikan cadangan pangan dalam negeri aman.

Ketika China memutuskan investasi untuk buka lahan pertanian di Kalimantan seluas 1 juta ha, itu bukan soal investasi semata. Konteksnya adalah untuk mengamankan setok pangan China di masa depan. Kelak tidak hanya China yang akan masuk untuk berebut pangan di Indonesia, tapi semua negara maju seperti Amerika, Eropa dan lainnya.

Kenapa investor China hari ini menguasai seluruh garis pantai untuk membuat pelabuhan di Indonesia? Ini lagi-lagi urusan pangan, logistik dan kekayaan ikan di Indonesia, agar bisa kapan saja dikeruk habis. Indonesia akan menjadi rebutan banyak negara untuk semua sumber daya alamnya.

Bahkan krisis ini tidak hanya soal pangan dan minyak. Krisis air juga akan terus membesar. Air kelak akan menjadi barang langka dan mahal. Belum problem lingkungan yang membuat suhu bumi terus naik. Iklim tropis semakin tidak pasti. Kapan musin hujan, kapan kemarau semakin tidak jelas. Muncul istilah kemarau basah atau musim penghujan kering. Garis pantai terus terkikis oleh abrasi. Dan hari ini kita tidak berdaya.

Hari ini satu butir tomat Rp 1.500 makanya ibu-ibu mengeluh. Sekarang harga bawang Rp 120 ribu, sangat menguras kantong. Beras akan terus melompat harganya akibat hukum pasar berlaku secara sadis; Di mana ada kebutuhan dan setok langka maka harga otomatis naik.

Sektor pendidikan juga akan terus mahal. Hari ini orang ribut-ribut soal UKT yang naik sampai 500%. Khusus yang ini saya setuju. Karena dengan demikian pendidikan alternatif seperti pesantren, Universitas swasta yang bagus2 akan panen mahasiswa karena harganya lebih murah.

Kampus akan semakin elit. Hanya bisa dinikmati oleh mereka yang kaya. Rakyat Indonesia yang mayoritas miskin akan semakin jauh dari pendidikan tinggi. Tapi lagi-lagi jangan khawatir, banyak PT alternatif yang berkualitas. Toh, PTN selama ini hanya rajin mencetak sarjana nganggur. Intelektual pengangguran. Sarjana yang bermental keropos, tidak tahan banting.

Jadi, melihat sitiasu hari ini dan ke depan. Menyiapkan anak-anak dan cucu kita agar menjadi generasi yang kuat dan mandiri itu sangat penting.

Salah satu yang simpel itu hindari dari ketergantungan Game. Karena Game itu sejatinya program Yahudi untuk melemahkan umat dari tingkat terendah; Rumah tangga. Dan saya kira Yahudi sangat berhasil. Game boleh tapi hanya untuk melepas kebosanan. Akan menjadi masalah ketika game sudah jadi narkoba. Tergantung dan melenakan dalam segala hal.

Tidak ada orang kaya raya yang terasuki oleh Game. Karena org kaya raya itu sangat menghargai waktu, pekerja keras, bermental kuat, tidak suka leha-leha dan nyantai. Tapi siapa yang sudah kerasukan Game maka dia akan bermental lemah, tidak menghargai waktu, hidupnya santai, gagap dan bingung menghadapi ketidakpastian dan gemoi dan pasti tidak trengginas menghadapi tantangan hidup yang makin berat.

Tantangan ke depan akan semakin berat dan terus memberat. Ayo didik anak dan cucu kita di jalur yang benar. Agar kita tidak meninggalkan generasi yang lemah. Tapi kita akan mampu meninggalkan generasi yang kuat dan mandiri dalam segala hal.

(bersambung ….)

EDITOR: REYNA




http://www.zonasatunews.com/wp-content/uploads/2017/11/aka-printing-iklan-2.jpg></a>
</div>
<p><!--CusAds0--><!--CusAds0--></p>
<div style=