Indonesia harus ambil langkah nyata segera setelah turis China positif terinveksi virus corona, sepulang dari Bali

Indonesia harus ambil langkah nyata segera setelah turis China positif terinveksi virus corona, sepulang dari Bali
Wabah virus corona di China jadi krisis kesehatan global. FOTO/ Ist




Penulis : Budi Puryanto

Indonesia tidak boleh lengah. Lampu kuning telah menyala, menyusul pernyataan otoritas China, yang menyatakan seorang turis asal China positif terinveksi virus corona, delapan hari sepulangnya dari Bali.

Dilansir The Jakarta Post dan juga media ini sebelumnya, pihak berwenang di provinsi Anhui, Cina, telah melaporkan bahwa seorang warga negara Cina yang mengunjungi Bali akhir bulan lalu telah dinyatakan positif mengidap penyakit coronavirus baru (COVID-19), ketika pihak berwenang Indonesia berebut untuk memverifikasi informasi pada hari Rabu.

Administrasi mengumumkan melalui Weibo pada 6 Februari bahwa Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Huainan melaporkan pada 5 Februari bahwa seorang pasien, yang diidentifikasi hanya sebagai Jin, terbang dengan penerbangan Lion Air JT2618 dari Wuhan – pusat dari COVID- 19 wabah – ke Bali pada 22 Januari. Pasien tinggal di pulau itu selama sekitar seminggu sebelum terbang dengan penerbangan Garuda Indonesia GA858 dari Bali ke Shanghai pada 28 Januari.

Pasien ditemukan telah terinfeksi virus yang menyebabkan penyakit pada 5 Februari oleh Huainan CDC menurut pos Weibo.

Seperti kasus di Jerman

Kejadian di Bali ini mirip di Jerman. Para ilmuwan melaporkan seorang perempuan asal China yang tidak mengalami sakit dan menunjukkan gejala lainnya menyebarkan virus kepada seorang pria di Jerman, selama perjalanan bisnis di sana. Infeksi kemudian terjadi kepada 3 rekan kerja lainnya, sebelum menunjukkan gejala apapun.

Anehnya, 3 orang Jerman tersebut tidak pernah bertemu langsung dengan wanita asal China itu.

Respon Kemenkes mengecewakan

Dilansir The Jakarta Post, direktur jendral pengendalian penyakit dan kesehatan lingkungan Kementerian Kesehatan, Anung Sugihantono, mengatakan kantornya belum menerima informasi dan masih “mengkonfirmasi” tetapi dia dengan cepat mengatakan bahwa itu “sebuah rumor”.

Pernyataan Anung Sugiantono diatas, khususnya yang menyatakan hal itu “sebuah rumor”, tentu mengecewakan. Respon demikian mengingatkan kita pada dokter Li Wenliang, dokter mata di sebuah rumah sakit di Wuhan.

Li, yang berusia 34 tahun, mengatakan kepada sekelompok dokter di media sosial Cina dan grup WeChat bahwa tujuh kasus Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS) telah dikonfirmasi terkait dengan pasar makanan laut di Wuhan, yang diyakini sebagai sumber virus.

Sebuah surat kepada Li yang dikeluarkan oleh biro kepolisian Wuhan pada 3 Januari mengatakan bahwa dia telah mengganggu ketertiban sosial dengan pesan-pesan WeChat-nya. Dia ditahan dituduh menyebar berita hoaks.

Belakangan Li sendiri terinveksi virus corona dan meninggal dunia.

Apa yang harus dilakukan

Otoritas kesehatan Indonesia harus mengambil langkah segera untuk pencegahan dini. Crew pesawat Lion Air JT2618 dan Garuda Indonesia GA858 harus diperiksa kesehatannya. Bila ada indikasi terkena infeksi segera di karantina.

Kontak-kontak Jin selama seminggu di Bali harus diperiksa. Dengan siapa saja dia berhubungan langsung dalam aktivitasnya di Bali. Semua pihak dalam kontak Jin perlu diperiksa kesehatannya untuk memastikan ada tidaknya penularan inveksi. Mereka harus diawasi dan dipantau hingga benar-benar dinyatakan sehat dan tidak terinveksi.

Langkah ekstra keras harus diambil untuk memberikan perlindungan dan kepastian kepada pihak yang telah berhubungan dengan Jin. Masyarakat juga membutuhkan tindakan nyata bagi pencegahan dini.

Belajarlah, bagaimana otoritas Wuhan akhirnya menyesal karena salah melakukan respon dini atas peringatan dokter Li.

Editor : Setyanegara

 







Tags: , ,
banner 468x60