John Perkins Dan Kerusakan Sistem Kelistrikan PLN di Indonesia

John Perkins Dan Kerusakan Sistem Kelistrikan PLN di Indonesia




Oleh : Ahmad Daryoko
Koordinator INVEST

Pada tahun 1975 CIA/AS menugaskan agen-agen perusak ekonomi ke Indonesia. Diantaranya John Perkins yang kemudian membuat buku berjudul “The Confession of an Economic Hitman” atau pertobatan dari sang perusak ekonomi (di Indonesia). Dia ditugaskan untuk memprovokasi dan menjerumuskan System PLN. Untuk itu dia berkantor di PLN Distribusi Jawa – Barat di Jl. Soedirman dan ditepi S.Cikapundung.

Dia memprovokasi pertumbuhan kelistrikan melalui Proyek Listrik Pedesaan (Prolisdes), perencanaan Transmision Line sepanjang Pulau Jawa, serta adanya listrik IPP (Independent Power Producer). Semuanya “in line” dengan strategi ekonomi dari Prof. Wijoyo Nitisastro (yang kemudian terkenal dengan sebutan Mafia Berkeley). “Forecasting” kelistrikan dibuat sekitar 15% sehingga Pemerintah gugup dan muncullah IPP.

Jaringan Transmisi pun dibuat 500 KV yang menerus (Transmission Line ) sepanjang P. Jawa.

Dimana tahun 2007 saat kami ikuti acara NGO Forum on ADB di Kyoto Jepang, kami sempat diskusi dengan teman-teman TEPCO (Tokyo Electric Power Company ) dan Kanshai.

Menurut mereka TEPCO ini didirikan oleh Jenderal MC. Arthur (panglima tentara AS yang mengebom Hiroshima dan Nagasaki tahun 1945). Saat itu Mc Arthur pun akan membuat Transmission Line antara Tokyo – Osaka sekitar 400 Km tetapi ditolak oleh para ahli System kelistrikan di Jepang. Dan akhirnya di P. Honzu tersebut didirikan dua perusahaan listrik di Utara TEPCO dan di Selatan KANSHAI. Dua-duanya terpisah dan mereka menyebutnya “Island System”. Tujuannya untuk menghindarkan Unbundling secara vertikal System transmisi, yang berakibat tidak terkontrolnya tarip listrik .

Bandingkan dengan PLN di Jawa-Bali yang saat ini saja sudah dipersiapkan Unbundling vertikal dalam 3 segmen transmisi yaitu TJBB (Transmisi Jawa Bagian Barat), TJBT (Transmisi Jawa Bagian Tengah), dan TJBTB (Transmisi Jawa Bagian Timur dan Bali) yang semuanya dipersiapkan untuk mekanisme pasar bebas (MBMS) dan memisahkan Pusat Pengatur Beban (P2B) untuk khusus sebagai instalasi Pengatur System dan Pengatur Pasar (menyambut era pasar bebas kelistrikan).

Dari gambaran diatas dapat dilihat bahwa Jepang mampu mengantisipasi “manuver” Mc. Arthur yang maunya bikin perusahaan listrik besar dengan Transmission secara menerus dari Utara ke Selatan. Tetapi para ahli Jepang menginginkan mendirikan TEPCO dan Kanshai yang terpisah secara “island System “.

Mestinya di Jawa-Bali pun bisa dibikin empat “island System” yaitu System Jawa-Barat, System Jateng ,System Jatim, dan System Bali, yang masing2 sebagai “island System “. Tetapi John Perkins sengaja men “setting” seperti sekarang, sehingga kedepan terjadi Unbundling Vertikal Transmisi dan berpotensi mengacaukan kelistrikan baik dari sisi tarip maupun system. Disinilah mengapa dia mengaku sebagai manusia perusak ekonomi itu.

Dari perhitungan Feasibility Study (FS) pun island System bisa mengikuti perhitungan layaknya hitungan ekonomi infrastruktur (mengikuti pasal 33 ayat 2 UUD 1945). Sedang dengan System Transmisi seperti sekarang FS nya harus mengikuti “mahzab” komersial !

Kesimpulan

Jepang itu Negara Kapitalis, tetapi dalam operasional kelistrikan bagi kebutuhan industrinya, mereka perlakukan sektor ketenagalistrikan itu sebagai Infrastruktur. Guna kemajuan industrinya !

Sedang di Indonesia, yang semula FS operasional kelistrikannya menggunakan Benifit Cost Ratio, tetapi oleh John Perkins dirubah menjadi Profit Oriented agar PLN bisa menjadi “bancakan” Asing, Aseng, LBP,JK, D.I, keluarga ET dan antek-anteknya !!

JAKARTA , 6 SEPTEMBER 2020.







banner 468x60