Joni Hermana : In Memoriam Cak Adi Prasetya

Joni Hermana : In Memoriam Cak Adi Prasetya




Oleh: Joni Hermana

Guru Besar, Mantan Rektor ITS

 

Saya mengenal Cak Adi Prasetya sekitar pertengahan 2015 ketika saya baru menjadi Rektor ITS, dan diundang beliau yang saat itu menjabat sebagai Ketua IKA ITS Jakarta Raya, dalam acara Buka Puasa Bersama Anak Yatim yang diselenggarakan alumni ITS di Jakarta, sekitar pertengahan bulan Juni 2015.

Dari pertemuan singkat itu, saya langsung merasa sehati dan akrab dengan Cak Adi karena idealismenya yang selalu mengarah kepada eternalitas, artinya dia selalu ingin berbuat sesuatu yang berorientasi untuk kebermanfaatan umat dan itu pengabdiannya yang tulus sebagai hamba Allah SWT. Tidak ada motivasi lain.

Karena itu sepertinya dia enteng saja membantu siapapun, termasuk mengeluarkan dana pribadinya untuk pembangunan fisik terutama di Almamater yang dicintainya, ITS, dan beberapa kegiatan lain di luar, termasuk membangun beberapa mesjid.

Sejak perkenalan itu, beberapa kali dia bersama pengurus lainnya datang ke Rektorat menemui saya untuk tidak hanya sekedar menyapa, tetapi juga sambil membawa idea tentang apa yang ingin dia buat untuk ITS. Dan itu bukan sekedar usul, tetapi juga sambil membawa dana untuk merealisasikan usulannya itu!

Suatu saat dia datang menemui saya, bilang kalau dia punya dana Rp. 500 juta yang dia ingin sumbangkan ke ITS dalam bentuk barang yang bisa bermanfaat. Lalu dari diskusi, kami sepakat untuk menggunakan uangnya untuk mempermak tampilan Gedung Rektorat dan kolam air mancur di halaman Rektorat.

Lalu yang luar biasa, pekerjaan yang dilakukannya itu diawasi secara langsung oleh dirinya sendiri. Intinya beliau sangat total terhadap komitmennya. Hebatnya lagi adalah karena selama masa konstruksi itu, dia boyong keluarganya dari Jakarta untuk menemaninya di Surabaya. Putranya yang masih kecil, dia sekolahkan di TK DWP ITS sementara waktu. Sambil canda, Cak Adi bilang kalau anaknya itu part-timer, karena nomaden sekolahnya antara Jakarta dan Surabaya.

Yang membuat saya trenyuh adalah beliau harus bolak-balik Jakarta – Surabaya dengan menyupir sendiri mobilnya karena phobia naik pesawat. Itu pula sebabnya mengapa setiap mengadakan perjalanan ke Surabaya, dia akan tinggal beberapa saat di kota pahlawan ini karena terlalu melelahkan menempuh jalan darat setiap saat. Katanya, dia menempuh sekitar 2 hari naik mobil, sementara keluarganya menyusul naik pesawat, supaya mereka tidak lelah. Begitu total pembelaannya yang luar biasa bagi ITS maupun keluarga yang dicintainya.

Saat setahun kemudian beliau selesai tugasnya sebagai Ketua IKA Jakarta Raya, lalu kemudian menjadi Komjur IKA Teknik Sipil ITS, dia datang lagi ke saya. Lalu berkata “Pak, saya sekarang diminta teman-teman Teknik Sipil untuk membantu Departemen, karena itu mohon maaf kalau saya sekarang beralih konsentrasinya.”

Lalu saya menjawab:”Tidak apa Pak Adi, khan masih sama-sama untuk ITS juga. Tidak masalah konsentrasinya dimana. Saya mendukung saja, apa yang menurut Bapak terbaik dilakukan untuk ITS”.

Rupanya setelah beberapa lama berkonsentrasi mengumpulkan dana dan mesupport pembangunan Departemen Teknik Sipil, dia kembali lagi ke saya dan berkata:”Bapak, jika berkenan kami ingin menyumbang pembangunan Kolam air Mancur di Bundaran ITS yang semoga juga akan menjadi ikon kota Surabaya dari kami Alumni Teknik Sipil”.

“Saya juga sudah berkoordinasi dengan Walikota Surabaya agar desainnya sesuai dengan perkembangan kota.”

Langsung saya setuju, setelah diyakinkan semua hal yang berkaitan dengan ketentuan dan peraturan sudah dipenuhi. Bahkan Cak Adi menjamin kalau pun Kolam Air Mancur yang waktu itu diperkirakan akan memerlukan biaya setidaknya 2,5 M itu kekurangan dana, dia bersedia mengeluarkan uang pribadi untuk menutupinya. Yang ternyata kemudian alhamdulillah bisa dipenuhi dengan solidaritas alumni Teknik Sipil yang luar biasa.

Saya mensyukuri itu karena kebayang kalau Cak Adi harus menutupi kekurangan dari uang pribadi, betapa tidak, saat proyek konstruksi di mulai justru beliau mulai terindikasi sakit CA. Walaupun saat itu belum pasti, apalagi dia waktu itu menolak untuk dibiopsi karena kekhawatirannya akan dampaknya, yaitu menyebar ke sel seluruh tubuhnya kalau benar-benar kanker.

Masih jelas dalam benak saya, saat menemaninya malam-malam mengawasi para pekerja menggali Kolam Air Mancur, dalam posisi ketidakpastian penyakitnya yang membuat drop fisik maupun mentalnya, beliau masih tetap memaksakan diri untuk mengawasi pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya. Saya bahkan tidak mampu untuk melarangnya. Apalagi lalu dia bercerita bahwa untuk membangun kembali mental-nya yang sempat down, ikhtiarnya:”Sekarang saya setiap hari membaca Al Quran 1-2 Juz”.

Sungguh semangat yang luar biasa dan tidak pernah putus asa. Termasuk ketika pada akhirnya dia harus memberanikan diri mengatasi phobianya naik pesawat karena harus menjalani pengobatan di Singapore dan terakhir di Jepang.

Ikhtiar Cak Adi sudah sangat maksimal, sebagai hamba Allah yang tidak mau menyerah pada takdir penyakit yang dialaminya. Namun Allah lebih menyayanginya, perjuangannya di dunia dianggapNYA sudah cukup dan bekal tabungan akheratnya juga sudah sangat berlimpah insyaallah. Kemarin, 31 Mei 2020, bertepatan dengan dua tahun saat diresmikannya Kolam Air Mancur di Bundaran ITS, yang diserahkan beliau kepada saya selaku REKTOR ITS saat itu, dan yang secara langsung disaksikan oleh Bu Risma selaku Walikota Surabaya, beliau dipanggil kembali ke haribaanNYA.
Innalillahi wainna ilaihi roji’uun…

Semoga dia termasuk orang-orang beruntung yang kembali ke alam akherat dalam keadaan husnul khotimah berbaris bersama orang-orang Soleh dan para Syuhada. Cak Adi, we are very proud of you!!!

Kalau saya harus menyebut, apa saja yang sudah disumbangkan Cak Adi untuk ITS, baik sebagai pribadi maupun organisasi, IKA Jakarta Raya maupun sebagai Komjur IKA Teknik Sipil ITS, setidaknya pada saat saya menjabat sebagai Rektor ITS antara 2015-2019, adalah:
1. Gedung Rektorat dan Kolam Air Mancur di Halamannya (2016)
2. Truk Penyiram Tanaman (2016)
3. Penghijauan pohon-pohon di sepanjang Jalan Kembar Selatan ITS (2017)
4. Plaza dan Lanscape PWK ITS (2017)
5. Memeriahkan berbagai agenda Dies Natalis ITS 2017, termasuk dalam mengundang Raisa
6. Plaza dan Kelas Internasional Teknik SIPIL ITS (2017-2018), dan puncaknya
7. Kolam dan Air Mancur Bundaran ITS (2018).

Mungkin masih banyak hal lain yang terlewat, namun setidaknya itulah hal-hal yang telah disumbangkan Cak Adi utk ITS. Cak Adi termasuk penerimaan Penghargaan sebagai Alumni ITS yang Berprestasi dan Berjasa yang diserahkan pada Dies Natalis ITS ke 58, 10 November 2018 di Graha ITS, Surabaya.

Mari kita tutup dengan mendoakan beliau. Al Fatihah 3x

31/05/2020, Kampus ITS Surabaya.

Editor : Setyanegara







Tags: ,
banner 468x60