Keluarga yakin gundukan dikaki gunung Wilis itu kuburan Tan Malaka

Keluarga yakin gundukan dikaki gunung Wilis itu kuburan Tan Malaka




ZONASATUNEWS.COM – Sutan Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka, tapi orang lebih mengenalnya sebagai Tan Malaka. Dia dijuluki Bapak Republik Indonesia. Bergelar pahlawan nasional, namun ternyata Tan Malaka hidup dan mati bak penjahat.

Tengok saja kuburan Tan Malaka di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, wilayah Kediri, Jawa Timur. Mirisnya lagi, makam tokoh kiri yang terkenal dengan slogan ‘Merdeka 100 persen’ itu ditemukan justru oleh seorang warga Belanda.

Adalah Harry A Poeze, seorang sejarawan Belanda yang menemukan dan berani memastikan gundukan tanah itu adalah makam Tan Malaka. Dalam bukunya ‘Tan Malaka Gerakan Kiri, dan

Revolusi Indonesia Jilid 4: September 1948-Desember 1949′, Poeze menyatakan Tan Malaka tewas ditembak oleh anggota Tentara Republik Indonesia. Lokasi penembakan itu di Desa Selopanggung, di kaki Gunung Wilis.

“Tan Malaka ditembak mati di Desa Selo Panggung. Dan ini terjadi pada 21 Februari 1949. Dan siapa yang bertanggung jawab? Adalah seorang letnan kedua dari Tentara Republik Indonesia bernama Sukotjo. Ia kemudian menjadi wali kota Surabaya. Itu adalah aksi pribadi dari Sukotjo. Tidak ada perintah tembak mati dari atasan Sukotjo atau pimpinan tentara Indonesia. Rangkaian peristiwa kematian Tan Malaka ada di buku saya yang baru,” ujar Poeze ketika bertandang ke redaksi merdeka.com beberapa waktu lalu.

Setelah riset dan wawancara dengan berbagai pihak, Poeze akhirnya menemukan Tan Malaka pada tahun 2009. Dia pun lalu mengajak keponakan Tan Malaka, Zulfikar Tan dan ahli forensik dr Djaja Surya Atmadja dari Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Dari data sejarah yang dia miliki, Poeze meyakini betul bahwa kerangka yang terkubur dalam kubur itu adalah Tan Malaka. Arsip dari Kepolisian Hindia Belanda, Tan Malaka memiliki ciri tinggi badan 163-165 Cm dan itu segaris dengan jenazah laki-laki ras Mongoloid yang ditemukan di makam itu. Saat ditemukan, kerangka Tan Malaka dalam kondisi tangan terikat ke belakang.

Dari data sejarah dan keterangan beberapa orang, Harry Poeze meyakini bahwa ditempat itu bersemayam penulis buku Madilog. Namun bagaimana dengan tes DNA?

Pemeriksaan DNA pertama kali dilakukan di Australia. Pada 8 Maret 2010, diumumkan bahwa dari 14 unsur yang diuji, 9 di antaranya positif sesuai dengan DNA keluarga Tan. Sebagai pembanding, DNA itu dicocokkan dengan keluarga Tan Malaka dari garis Bapak. Seperti diketahui, ayah Tan Malaka bernama Rasad. Rasad memiliki dua putra, Tan Malaka dan Kamarudin Rasad. Kamarudin kemudian menurunkan DNA yang sama kepada anak lelakinya, Zulfikar Kamarudin. Nah Zulfikar ini yang kemudian dijadikan pembanding dalam tes DNA.

Untuk mendapatkan yang kebenarannya mendekati atau bahkan 100 persen, tes DNA yang lebih mutakhir kembali dilakukan di laboratorium di Korea Selatan. Namun ternyata hasilnya juga tidak memuaskan.

“Sampai sekarang belum ada perkembangan. DNA dalam kerangka yang ditemukan (di Desa Selopanggung) sudah hilang karena sudah lama sekali dikuburkan,” ujar Djaja kepada merdeka.com, Rabu (11/1) lalu.

Meski demikian, Djaja menyatakan tidak ada tes yang bisa menyatakan bahwa kerangka itu juga bukan Tan Malaka. “Kalau dari pendekatan bentuk fisik dan sejarah dia Tan Malaka, sedang dari sisi ilmiah yakni DNA belum bisa diuji karena DNA nya sudah hilang,” ujarnya.

Wakil Bupati Limapuluh Kota Ferizal Ridwan menegaskan bahwa Pemda, adat dan keluarga sudah meyakini bahwa makam di kaki Gunung Wilis Kediri itu menyimpan kerangka datuk (Tan Malaka) mereka. Hasil tes DNA pertama dan kesaksian para keluarga sudah membuat mereka yakin.

“Pihak keluarga merasakan semacam komunikasi dengan pemilik jasad. Ini semakin memperkuat keyakinan kami. Keluarga yang mendatangi makam di sana (Selopanggung Kediri) sering didatangi lewat mimpi, beliau (Tan Malaka) minta dijemput. Waktu keluarga melakukan pembenahan di makam itu, mereka bisa merasakan hal itu,” ujar Ferizal Ridwan kepada merdeka.com lewat sambungan telepon.

Namun usaha untuk memastikan bahwa kerangka itu adalah Tan Malaka tidak akan berhenti dengan adanya kesaksian soal mimpi keluarga, Pemkab Lima Puluh Kota akan terus mengupayakannya.

“Nanti soal itu akan diambil alih oleh Pemda. Kita yang ambil alih setelah ada proses pemberian mandat dari adat atau keluarga. Perlu diketahui, Tan Malaka ini adalah datuk atau Raja Kelarasan yang membawahi 142 kaum atau niniak mamak di Kabupaten Limapuluh Kota,” terangnya.

Editor : Setyanegara







Tags: ,
banner 468x60