Kemenangan Habib vs McGroger : Kekalahan Si Mulut Besar Petahana

Kemenangan Habib vs McGroger : Kekalahan Si Mulut Besar Petahana

loading…


Kemenangan Habib vs McGroger : Kekalahan Si Mulut Besar

Oleh : Kharismafullah

Dunia maya dalam kurun waktu satu setengah hari ini dihiasi dengan berita kemenangan sang habib atas juara bertahan olah raga MMA McGroger. Diberbagai media online berita sang habib yang memutus tradisi dan logika publik, memberikan pelajaran bahwa usaha, latihan dan kesabaran menjadi kunci untuk membungkam mulut besar dan pikiran kerdil.

Kemenangan ini disambut dengan uforia oleh para pendukung, negara, dan bahkan penduduk dunia. Tidak ketinggalan pula penduduk indonesia. Ucapan selamat, sanjungan dan bahkan menghujat sang lawan Habib membuming dikolom status FB, WA, IG dan lain sebagainya. Bagaimana tidak, sosok sang Habib yang rendah hati, tidak arogan dan santun dalam berbicara sangat mewakili nalar publik. Ditambah lagi sang lawan yang tidak punya sopan santun dalam berkata-kata hingga melontarkan kata-kata rasis menjadi pijakan warganet dalam memberikan respon. Terlebih sang Habib merupakan muslim. Bagi penulis respon warganet lumrah dan tidak berlebihan.

Nalar publik dihipnotis oleh sang habib, hingga asumsi dan pikiran kerdil yang tidak memungkinkan sang penantang untuk menggusur petahana cukup membuktikan lewat kemenangan yang cukup telak.

Pelajaran yang luar biasa bisa dipetik oleh tiap kalangan, bahwa setiap yang dianggap tidak mungkin bisa dimungkinkan lewat kasabaran, ketenangan, kerja keras, dan tidak membalas asumsi orang yang tidak baik terhadap kita. Dan terbukti Habib dengan kesabarannya menuntaskan pekerjaannya dengan menghajar manusia sombong seperti McGroger.

Lalu apa kaitannya dengan dinamika perpolitikan kekinian? Tentu kalau ditarik bagaimana historis perjalanan sang habib dan McGroger sebelum bertanding, menggambarkan dinamika antara petahana dan penantang. Petahana dengan sombongnya menghujat dan menganggap remeh penantangnya. Dinamika pemukulan bus, rasis dengan mengatakan Islam sebagai agama teroris, dan mengatakan orang tua sang penantang tubuhnya bau cungkup. Itu menjadi bukti dan rekam jejak digital bagaiman sang petahana sangat sombong, percaya diri dan menganggap penantangnya tidak akan mampu melawannya. Karena  juara bertahan, menganggap kepercayaan dan dukungan memuncak untuknya. Ditambah lagi segala sumberdaya yang milikinya. Sekali lagi sang penantang tetap menerimanya dengan sabar dan tidak pernah sedikitpun pikiran untuk membalasnya. Hanya fokus untuk mempersiapkan diri sambil berharap dukungan juga mengalir untuknya.

Lalu mulut besar dan logika publik sontak terdiam dan ternganga melihat bagaimana hasil pertarungan yang berujung memalukan. Sang petahana terseok-seok karena pukulan demi pukulan lalu diakhiri dengan gerakan mengunci jalur pernafasan (leher) menjadi akhir cerita tragis dinamika pertarungan yang menggusur petahana dari kursi sang juara. Semoga cerita pertandingan Pilpres tidak berakhir seperti cerita sanga Habib yang mempecundangi sang juara bertahan McGroger.

Mulut besar McGroger mengingatkan kepada juru bicara petahana yang kembali ke ring pertandingan Pilpres 2019. ‘Ngabilin’ menjadi simbol dan kebesaran mulut petahana dalam mengkerdilkan sang lawan politik.

Mulut besar ‘Ngabalin’ menjadi sumber kepercayaan diri petahana untuk menyampaikan pikirannya terhadap penantang. Hingga pikiran meremehkan penantang keluar dimulut besar sang ‘Ngabalin’.

Penantang petahana sedikitpun tidak merespon apalagi membalas mulut besar ‘Ngabalin’. Penantang terus berlatih dan menyiapkan tenaga yang lebih untuk bertanding di—2019, begitulah yang penulis pantau selama ini. #2019 ganti presiden menjadi jualan penantang. Gerakan ini seiring berjalan waktu menjadi gerakan yang menasional. Petahana kocar kacir, lagi-lagi petahana memakai jurusnya dengan mengirim ‘Ngabalin’ untuk membungkam gerakan tersebut. Hingga pengkriminalisasian #2019 ganti presiden dan aktivis penggerakan ganti presiden terjadi dimana-mana. Tidak perlu penulis jabarkan lagi siapa yang dikriminalisasi dan dimana tempat kriminalisasinya.

Terbaru kasus Hoax Ratna Sarumpeat digoreng habis-habisan. Mempolitisir kasus Hoax RS dengan tembakannya Kubu penantang menjadi jualan kubu petahana untuk menggiring logika pemilih. Suara-suara lantang yang selama 4 tahun terdiam muncul. Bahkan sampai pada pelaporan sejumlah tokoh kubu penantang dengan tuduhan menyebarkan berita Hoax. Padahal mereka lupa, bagaimana kebohongan yang dibungkus rapi oleh petahana. Yang sampai bantuan untuk korba gempa lombok kini hanya bertebaran janji. Semoga kubu petahana mulai sadar dan bisa mengambil hikmah dari kekalahan telak McGroger atas sang Habib dipanggung MMA.

loading…


http://www.zonasatunews.com/wp-content/uploads/2018/12/pie-mbak-mia-e1544801707569.jpg

loading…



Tags: ,
banner 468x60