Kholiq Anhar : Naluri Kampung Halaman

Kholiq Anhar : Naluri Kampung Halaman
Galaksi Banyak hal belum terungkap di semesta. (Foto: Thinkstock)




Oleh : Kholiq Anhar

Kholiq Anhar




Manusia, sebelum anda berada di bumi, dimanakah ‘Kampung Halaman’ anda sebelumnya? Apakah anda disana sendirian atau bersama keluarga? Seperti apa wajahmu, seperti apa kehidupanmu? Bila itu kamu punya keluarga, bagaimana canda dan tawamu bersama mereka? Tentu saja anda tak akan menjawabnya, karena ingatan memory itu tersembunyi jauh didalam sana dari pikiran sadarmu. Itulah ‘Kampung Surga, kampung asal Manusia.

Dikampung asalnya, Anda luar biasa. Anda bisa menyebut apa saja yang ada di alam semesta, bahkan Malaikat tak bisa menandingi. Begitulah awal cerita Leluhurmu memulai sejarah Manusia.

Lalu para Malaikat diperintahkan bersujud. Ah, ternyata ada satu Malaikat yang membangkang. Dan muncullah drama ‘Kutukan’ Malaikat yang berubah jadi Iblis. Itu Mitologi dari ‘Kampung Asal- usul Manusia’ kan?. Manusia itu tidak hanya luar biasa, tapi juga Istimewa diantara Makhluq Ciptaan yang pernah ada.

Sekarang kita ada ‘dikampung bumi’. Jadi mari kita periksa sisa- sisa memory Kampung Surga yang pernah kita miliki. Surga itu adalah Azasi Manusia yang hilang. Manusia hanya perlu menemukan kembali, bukan mencari.

Baik. Biarpun manusia melalang buana ke negeri yang jauh sekalipun, kenapa disaat-saat tertentu begitu rindu akan kampung halaman?. Itulah ingatan selulernya akan ‘Kampung Surga’ memory yang tersimpan di sel-sel tubuh anda jauh didalam sana. Memory itu tidak ada di otak anda. Karena itu otak hanya kebagian mengatur ‘hajatan pulang kampung’. Semacam EO (Even organizer), tapi CEOnya adalah bagian diri anda yang paling dalam.

Otak merencanakan jadwalnya, pakai kendaraan apa, pakai baju dan asesories yang mana, oleh- oleh yang akan dibawa apa. Itu adalah atribut2 yang akan menyertai hajatan pulang kampung. Itu sebenarnya tidak terlalu penting. Bagian pentingnya adalah anda Ketemu dan Kumpul Keluarga lagi. Itu adalah sesuatu yang sakral.

Bagaimana jika hajatan anda ‘Pulang Kampung’ itu ada yang menghalangi? Misalkan Pemerintah anda dengan alasan Pandemi. Tentu saja Otak anda akan mencari tahu kebenaran alasan Rasionalitasnya. Bisa saja Otak anda menyetujui alasan Rasional yang dikemukakan Pemerintah. Masalahnya kebutuhan ‘Pulang Kampung Halaman’ bukan kebutuhan Intelektual. Pulang Kampung adalah kebutuhan Emosi (Kebutuhan Rasa).

Seperti kebutuhan Perokok untuk merokok, biarpun disajikan informasi dan penelitian ‘Bahwa merokok merusak kesehatan, Rokok membunuhmu’ para perokok akan tetap merokok. Alasannya Merokok itu kebutuhan Emosi ( Rasa). Dalam hal ini Intelektual hanya bertindak sebagai penasehat. Penasehat tugasnya memberi pertimbangan, tapi Keputusan ada pada CEO. Kebutuhan ‘Pulang Kampung ‘ jauh lebih hebat Kekuatan Emosinya dari kebutuhan merokok, karena itu menyangkut kebutuhan dari Jiwa Manusia.

Rasa takut dan Rasa malu manusia muncul juga berasal dari cerita Pulang Kampung Halaman ini. Sebelum manusia diturunkan ke bumi, di Kampung Asalnya adalah Makhluk yang luar biasa hebatnya. Kemampuannya diatas kemampuan Malaikat. Begitu berada di Bumi, lupa segalanya. Ia mulai belajar dari nol. Belajar makan, belajar bicara, belajar berjalan, belajar mengenali lagi benda-benda yang ada di alam semesta. Itu sungguh aneh bukan? Bahkan cerita yang sulit dipercaya.

Bila ditarik garis dari Kampung Asalnya, itu seperti degradasi yang besar. Manusia ketika berada dibumi seperti anak rantau yang sedang dalam perjalanan Pulang Kampung Halamannya. Apa yang terjadi dengan seorang yang dulunya cerdas luar biasa, pada perjalanan pulang kampungnya berjalan dengan tertatih2? Rasa Malu dan Rasa Takut menyelimuti dirinya. Biarpun begitu ia tetap berjalan menuju Kampung Halamannya. Perjalanan Pulang Kampung adalah Perjalanan Suci.

Mari tengok sebentar. Sebelum larangan ‘Pulang Kampung’ ini mencuat, sebelumnya ada himbauan jaga jarak, hingga ekstremnya ‘jaga jarak dalam shaf sholat. Sekali lagi Otak Logika mungkin bisa menerima alasan ‘Kebenaran Rasionalnya’. Tapi naluri dasar manusia itu ingin selalu dekat dengan sesama. Ingat tentang ‘memory Keluarga, Ummat manusia sesungguhnya adalah umat yang satu. Kebutuhan naluri Jiwa bukanlah wilayah Intelektual. ‘Rapat barisan dalam sholat diubah jadi shaf berjarak, itu sama seperti anda merenggangkan jarak Atom Oksigen dan Hidrogen dalam H2O yang telah berikat selama bertahun-tahun. Itu berpotensi bisa terciptanya bom Hidrogen.

Pelarangan itu hanya akan menciptakan ‘Vortex Energi ‘ didalam tubuh negeri sendiri. Vortex Energi bisa muncul seperti gelembung kecil seperti protes dan demonstrasi, bisa berupa letupan2 Seperti yang ditunjukkan gunung berapi baru-baru ini. Bila vortexnya massal dalam skala besar, Itu pasti ledakan besar, mungkin miniaturnya mirip ledakan Balongan. Seru!

Sepertinya Pemerintah Indonesia dalam pengambilan keputusan politiknya lebih condong mengambil keputusan berbasis Rasional. Basis Matematika angka 10. Itu dapat dimengerti, karena selama ini fokus Pemerintah pada Investasi. Neraca Rugi Laba menjadi Kitab Panduan dan haluan pengambil kebijakan. Pemerintah seperti membangun ‘Bendungan Besar Investasi’. Bangunan bendungan itu diperkuat dengan dinding2 peraturan dan perundangan. Bahkan bila dinding2 itu terlihat ada yang rapuh atau kurang kokoh, tak segan2 ditambahkan semen. Kadang ditambal2 dengan tebal sana sini supaya terlihat kuat. Semua itu masuk akal dari sudut Pandang Rasional.

Hanya saja yang luput dari perhatian pemerintah, situasi global ini sedang mengalami pergeseran. Tidak hanya cuaca yang bergeser, tapi partikel batu dan semen yang menyusun dinding bendungan itu juga mengalami pergeseran. Bila saja ada yang bergeser dan retak sedikit saja, tentu saja itu bisa mengakibatkan bendungan itu jebol. Glegeer….seperti lagu gunung berapi.

Alaska, 7-4-2921







banner 468x60