Kisah Arnoud Van Doorn (1): Pembuat Film ‘Fitna” yang Memutuskan Masuk Islam

Kisah Arnoud Van Doorn (1): Pembuat Film ‘Fitna” yang Memutuskan Masuk Islam
Arnauld Van Doorn

loading…


“Apabila Nabi Muhammad sekarang masih hidup, dia akan diburu sebagai teroris.”

Pada tahun 2008, sebuah film pendek dengan durasi 17 menit yang berjudul “Fitna” dipublikasikan di Internet. Film tersebut membahas hal-hal buruk tentang Islam. Di Film tersebut Islam digambarkan sebagai agama yang mempromosikan tentang kekerasan dan terorisme. Beberapa ayat di dalam Al-Quran sengaja dipilih untuk menghubung-hubungkan Islam dengan kekerasan.[1] Pada bagian lain bahkan Nabi Muhammad SAW digambarkan sedang menaruh bom di atas kepalanya.[2]

Film tersebut mengundang reaksi keras dari Muslim dan aktivis anti-rasialisme di berbagai belahan penjuru dunia. Di Belanda sendiri—yang merupakan tempat di mana film itu diproduksi—sekitar seribu orang turun ke jalan untuk memprotes. “Kami tidak bisa lagi diam. Ada iklim kebencian dan ketakutan di Belanda,” kata Rene Danen, juru bicara organisasi anti-rasisme Nederland Bekent Kleur, yang menyelenggarakan demonstrasi tersebut.[3]

Sementara itu di Paskitan, berdasarkan laporan kepolisian setempat, dilaporkan sekitar 25.000 orang turun ke jalan untuk memprotes. Sementara panitia penyelenggara demonstrasi mengklaim bahwa demonstran yang hadir lebih dari 100.000 orang. Sekitar 5.000 aktivis dari partai agama Jamaat-e-Islami (JI) juga turut ambil bagian.

Di dalam demonstrasi tersebut, pemimpin mereka, Munawar Hasan, memegang Al-Quran di satu tangan dan satu pedang di tangan lainnya, menirukan gambar dalam film tersebut. Dia mengatakan orang-orang yang menghina umat Islam harus dinyatakan sebagai teroris. “Ini kebebasan untuk memprovokasi, kebebasan untuk menghasut. Kebebasan ini bukan untuk menyakiti orang, bukan untuk menyakiti sentimen,” kata Hasan. Majelis tinggi parlemen Pakistan menyatakan mengecam film tersebut yang dianggap sebagai upaya untuk memfitnah Islam dan mempromosikan kebencian.[4]

Di Indonesia sendiri film tersebut mengundang berbagai gelombang protes yang sporadis di berbagai daerah. Pelaku demonstrasi di antaranya terdiri dari mahasiswa dan berbagai ormas Islam. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam Sumatra Utara dilaporkan mendatangi Kantor Konsulat Belanda di Jalan Mongonsidi, Medan, Sumut. Pengunjuk rasa datang dengan membawa poster yang berisi kecaman atas film Fitna yang dinilai telah melecehkan dan menghina Islam.[5] Sementara di Jakarta sekitar 50 orang anggota Front Pembela Islam melancarkan aksi demonstrasi di depan Kedutaan Besar Belanda.[6]

Pembuat Film

Film tersebut dibuat dan diproduseri oleh Arnoud Van Doorn, seorang politisi sayap kanan Belanda yang tergabung dalam Partai Kebebasan Belanda (Dutch Freedom Party/PVV) yang dipimpin oleh Geert Wilders. Wilders mengatatakan, “Ideologi Islam memiliki tujuan utama penghancuran apa yang paling kita sayangi, yaitu kebebasan kita,” tulisnya di De Volkskrant, sebuah media di Belanda.[7]

GEERT WILDERS, POLITISI SAYAP KANAN BELANDA. PHOTO: ASSOCIATED PRESS

 

Pada kesempatan lain, Wilders juga mengatakan bahwa tidak ada yang namanya “Islam Moderat”, bahkan apabila Nabi Muhammad sekarang masih hidup, dia akan diburu sebagai teroris. Dia juga menentang apa yang dia sebut dengan gerakan “Islamisasi Eropa” dan menyerukan untuk pelarangan Al-Quran di Eropa. Wilders menganggap bahwa Al-Quran sama dengan buku karangan Hitler yang berjudul ‘Mein Kampf’.[8]
Masuk Islam

Beberapa tahun kemudian setelah film tersebut dipublikasikan, tepatnya pada tanggal 27 Februari 2013, secara mengejutkan Arnoud Van Doorn melalui akun twitternya menyatakan bahwa dirinya telah masuk Islam.[9] Ia juga memposting tweet Kalimat Syahadat dalam Bahasa Arab. Pada awalnya, semua orang yang melihatnya, menganggapnya sebagai lelucon. Namun, Arnoud kemudian secara pribadi mengonfirmasi pilihannya menjadi muslim dalam surat resmi yang ditujukan pada walikota.[10]

“Saya bisa memahami orang-orang yang skeptis dengan pilihan saya, yang bagi sebagian orang tak diharapkan,” kata Arnoud pada Al Jazeera. “Ini adalah keputusan besar yang sama sekali tak bisa saya anggap enteng.” Dia mengaku, rekan-rekan di lingkaran dalam partainya sudah lama mengetahui ia secara aktif meneliti Alquran, Hadis, Sunnah, dan tulisan tentang Islam lainnya. “Sudah hampir setahun lamanya. Saya juga sering berdiskusi dengan umat muslim tentang agama mereka.” Arnoud mengaku, kerap mendengar begitu banyak cerita negatif tentang Islam. “Tapi saya bukan orang yang mengikuti pendapat orang lain tanpa melakukan kajian sendiri,” ujarnya.[11] (PH)

Sumber : ganaislamika.com, Published on 16 December, 2017

Bersambung ke :

 

loading…


loading…



Tags:
banner 468x60