Kisah Arnoud Van Doorn (2): “Benarkah Islam itu Buruk?”

Kisah Arnoud Van Doorn (2): “Benarkah Islam itu Buruk?”

loading…


“Dalam kebingungannya setelah berkunjung ke Masjid, Doorn berkata kepada dirinya sendiri, ‘ini tidak bagus, mereka telah mengerjai saya, mereka telah memanipulasi pikiran saya, saya telah dicuci otak, sudahlah lupakan saja semua ini, saya tidak akan pernah kembali lagi ke sana.’”

Arnoud Van Doorn dibesarkan di lingkungan keluarga kebanyakan di Belanda. Dia merupakan anak tertua dari lima orang bersaudara. “Masa mudaku begitu indah dan hangat. Orang tuaku sangat terbuka pemikirannya, dan mereka tidak untuk disalahkan atas ide-ide yang saya miliki terhadap Islam. Karena saya dibesarkan dengan tradisi Kristen, yang mana mengajarkan bahwa anda harus menghormati agama-agama dan budaya-budaya lainnya,” kata Doorn.

Menurut Doorn, orang tuanya telah melakukan apa yang terbaik bagi pendidikan anaknya, meskipun mereka berpikiran terbuka dan menghormati agama dan budaya lain, namun mereka sendiri tidak sanggup membendung derasnya pemberitaan negatif tentang Islam. Sehingga mau tidak mau mereka pun terpengaruhi dan tentu saja anak-anak mereka pun turut terbawa.

Doorn mengisahkan, “sejujurnya, saya pikir ada perang dari dunia terhadap Islam. Saya pikir saya harus berbuat sesuatu terhadap ini, si agama setan. Itulah ide saya 10 tahun yang lalu. Saya memutuskan saya harus berbuat sesuatu untuk melindungi masyarakat dari setan ini, dari bahaya ini. Dan saya bergabung dengan PPV (Partij voor de Vrijheid/ Party for Freedom), sebuah partai yang sangat anti Islam, Islamophobia, di Belanda, yang dipimpin oleh Geert Wilders yang terkenal. Pada saat itu saya berpikir dia adalah teladan saya, pahlawan, karena dia berdiri menantang Islam, karena dia berdiri membela kebebasan kita, dan saya berpikir, inilah orang yang harus saya ikuti.”

GEERT WILDERS DALAM SALAH SATU POSTER KAMPANYE PVV DI TAHUN 2017.

Beberapa tahun kemudian Doorn menjadi salah satu orang penting di PVV, dia menjadi salah satu penasihat politik Geert Wilders. Selain itu, dia juga mendapat tugas untuk menjadi promotor film Fitna. “Saya bertanggungjawab untuk, bukan produksi sesungguhnya, tapi distribusi dan promosi film Fitna ke seluruh dunia. Saya malu untuk mengatakannya, tapi waktu itu saya merasa sangat bangga. Saya kira saya telah melakukan sesuatu yang baik, saya telah melawan ketidakadilan, dan saya sangat percaya bahwa itulah tujuan hidup saya. Dan saya mengajak orang-orang di sekitar saya, ‘kemari dan bergabung denganku’, partai ini akan menyelesaikan semua masalah, dan mereka memerangi Islam,” kata Doorn.

Doorn bercerita mengenai kisah perjalanan spiritualnya sehingga akhirnya dia memeluk Islam. “Ketika orang melihat postingan twitter saya yang isinya syahadat, orang-orang berpikir bahwa mustahil saya masuk Islam,” Doorn menambahkan, “orang tidak akan masuk Islam dalam waktu 24 jam, ini tidak seperti orang baru bangun tidur lalu tiba-tiba berkata, ‘Ok, mari menjadi Islam’. Saya telah melewati perjalanan sekitar 1,5 tahun. Ini terjadi beberapa tahun lalu ketika saya masih aktif di PVV. Dan saya mulai berpikir, bagaimana mungkin begitu banyak orang di dunia yang 1,2 milyarnya adalah muslim, dan mereka terlihat bahagia. Bagaimana itu mungkin? Apakah mereka benar-benar sesat? Saya benar-benar tidak mengerti. Dan saya mulai meragukan apa yang saya baca dan dengar sebelumnya tentang Islam. Dan saya mulai berpikir, ini tidak benar bahwa Islam itu buruk, setan, mungkin Islam berbahaya, mungkin salah, tapi pikiranku mulai bergeser.”

Kemudian beberapa teman Doorn memberitahunya bahwa dia kurang informasi tentang Islam dan menyarankan Doorn untuk mendatangi masjid dan berbicara dengan Imamnya. Waktu itu Doorn menjawab, “tidak, tidak, tidak, saya tidak akan pernah pergi ke tempat setan, saya tidak akan pernah berbicara dengan orang-orang mengerikan itu. Mungkin mereka akan membunuh saya.” Namun bagaimanapun pikiran itu tetap menghampirinya, dia mulai meragukan gerakan anti Islam. Dan itu terus semakin menguat dan menguat lagi, Doorn sendiri tidak mengerti kenapa bisa seperti itu.

Pada akhirnya Doorn tetap berangkat ke masjid atas ajakan kawannya yang muslim yang berjanji akan melindungi dia selama di masjid, “baiklah saya ikut denganmu, tapi hanya lima menit saja!” ujar Doorn dengan ketakutan. Tibalah akhirnya Doorn di masjid yang besar, di sana dia sangat terkejut, karena orang-orang menyambutnya dengan bersahabat. “Imam masjid datang kepadaku, dan memegang tanganku sambil berkata ‘selamat datang’.” Ketika melihat mata Imam tersebut Doorn tahu bahwa Imam tersebut tulus. Pada saat itu Doorn merasa bahwa kejadian itu adalah kejadian paling emosional, karena segala sesuatunya bertolak belakang dengan apa yang dia pikirkan selama ini. “Setelah begitu banyak apa yang saya dan partai saya perbuat, bagaimana mungkin mereka bisa begitu bersahabat?” Ujarnya kepada diri sendiri.

ARNOUD VAN DOORN DIBERI AL-QURAN TERJEMAHAN BAHASA BELANDA OLEH IMAM MASJID. PHOTO: RTLNIEUWS.NL

Nasib berkata lain, Doorn yang tadinya berniat hanya menghabiskan waktu selama 5 menit di masjid, malah menghabiskan waktu selama 2,5 jam bertanya-tanya tentang Islam. Mereka berbicara tentang Nabi Muhammad, Al-Quran, Hadist, Sunnah dan segala sesuatu tentang Islam. Pulang dari masjid Doorn tidak langsung ke rumah, dia menghabiskan waktu selama berjam-jam hanya untuk berjalan kaki seperti orang kebingungan. Kepalanya penuh sekali dengan ide-ide tentang Islam yang terus bersahutan. Sampai di rumah dia mulai berpikir, “ini tidak bagus, mereka telah mengerjai saya, mereka telah memanipulasi pikiran saya, saya telah dicuci otak, sudahlah lupakan saja semua ini, saya tidak akan pernah kembali lagi ke sana,” ujarnya kepada diri sendiri. Hasilnya, beberapa minggu kemudian Doorn kembali lagi ke masjid. (PH)

Sumber : ganaislamika.com, 

Bersambung ke  : Kisah Arnoud Van Doorn (3): Naik Haji dan Momen Penyesalan

Sebelumnya        : Kisah Arnoud Van Doorn (1): Pembuat Film ‘Fitna” yang Memutuskan Masuk Islam

 

loading…



Tags:
banner 468x60