Koordinator BEM SI : Hentikan Dagelan Pemilu 2019

Koordinator BEM SI : Hentikan Dagelan Pemilu 2019

loading…


KPU berhenti untuk di dikte oleh tim pemenangan kedua belah pihak. Mahasiswa siap menjadi kubu ketiga dalam penyelenggaraan pesta demokrasi ditahun 2019

Oleh : Fajar Agung Pangestu (Koordinator Pusat BEM SI)

Kado awal tahun menarik yang diberikan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) menjelang babak akhir pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia yang sontak menimbulkan pro dan kontra terkait mekanisme debat capres – cawapres dengan memberikan kisi – kisi ke masing – masing pasangan calon (paslon).

Hal ini menyebabkan rakyat tidak bisa melihat kemampuan paslon dalam menjawab begitu kompleks nya permasalahan Indonesia. Rakyat ingin menguji setiap kata dari visi misi hingga program aksi yang akan diluncurkan, sehingga rakyat bisa mengambil kesimpulan mana calon yang layak mereka pilih pada 17 april 2019 mendatang.

Dagelan pemilu 2019 hanya sekedar mencari sensasi menaikkan elektabilitas bukan menjadi pasar gagasan yang bisa mencerdaskan demokrasi dan pemahaman politik rakyat. Karena capres dan cawapres kita hanya dijadikan seorang penghapal jawaban dari kisi – kisi yang diberikan.

Sangat disayangkan uang 24.8 trilliun rupiah dalam penyelenggaraan pemilu tidak bisa menjadi alat pencerdasan bagi rakyat dalam menakar kemampuan dari masing – masing paslon yang akan memimpin Indonesia 5 tahun kedepan.

KPU harus berani mengambil sikap, jangan mau didikte tim sukses dari kedua belah pihak. Mahasiswa siap mendukung KPU dalam menyukseskan pemilu asalkan bukan dagelan yang mencoreng akal sehat rakyat.

Saya yakin seluruh kampus baik itu dosen maupun mahasiswa bisa ikut mengkaji dan menguji gagasan calon pemimpin Indonesia, jika memang kampus dapat dijadikan arena debat kandidat atau bedah gagasan, karena kampus merupakan tempat berkumpulnya para intelektual hidup yang barangkali justru ikut mencerdaskan masyarakat dalam memilih paslon mana yang gagasannya sangat relevan dalam menjawab permasalahan – permasalahan akut di negara Indonesia.

Rakyat sekarang bingung dalam pemilu ini, karena media yang mereka lihat lebih sering menyoroti terkait hal sensasional seperti “ sontoloyo vs tampang boyolali” yang tempo lalu kerap dibicarakan. Namun miris ketika rakyat tidak memahami gagasan apa saja yang dimiliki oleh paslon yang sedang bertanding pada pemilu 2019. Demokrasi kita harus naik kelas dari sekedar mengadakan menjadi mencerdaskan.

Kampus siap memiliki peran ataupun menjadi fasilitator pasar gagasan (debat kandidat atau semacamnya) untuk ikut mencerdaskan demokrasi menuju pemilu 2019.

KPU berhenti untuk di dikte oleh tim pemenangan kedua belah pihak. Mahasiswa siap menjadi kubu ketiga dalam penyelenggaraan pesta demokrasi ditahun 2019.

loading…



banner 468x60