M Chirzin: Literasi Moderasi

M Chirzin: Literasi Moderasi
Ilustrasi menjaga moderasi




Catatan Muhammad Chirzin

Moderasi ialah perihal moderat dalam berbagai hal, yakni sikap menengah atau pertengahan antara dua kutub ekstrem.

Moderat dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Moderat dalam beragama, berbangsa, dan bernegara. Moderat dalam segala aspek kehidupan.

Sebaik-baik sikap dalam segala perkara adalah pertengahan. Makan dan minum sesuai aturan, dan tidak berlebih-lebihan.

Belanjakan uang dengan saksama, tidak boros tapi juga tidak pelit.

Cintailah siapa saja ala kadarnya, boleh jadi suatu saat engkau jadi membencinya, demikian pula sebaliknya.

Moderasi beragama ialah beragama secara menengah, tidak berlebihan dan tidak berkekurangan dalam mengamalkan agama; tidak lemah, tidak masa bodoh, dan tidak keras, serta tidak ekstrem dalam praktik beragama.

Moderasi beragama sebagai cara pandang dalam beragama layak dihayati, dan diamalkan dalam kehidupan bersama.

Moderasi beragama merupakan kebaikan moral bersama yang sesuai dengan perilaku dan perikehidupan individu, kelompok dan lembaga.

Memilih jalan tengah di antara dua kutub ekstrem dan berlebih-lebihan merupakan sikap beragama yang paling ideal.

Sikap moderat menekankan pada keadilan dan keseimbangan hidup, tanpa melihat afiliasi agamanya.

Moderasi beragama menjadi kunci untuk menciptakan kehidupan beragama yang rukun, damai, dan harmonis, serta kondusif bagi terwujudnya keseimbangan hidup, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, maupun kehidupan seluruh umat manusia.

Moderat dalam beragama bukan berarti mengompromikan prinsip-prinsip dasar atau pokok agama demi menyenangkan orang lain yang berbeda paham keagamaannya.

Moderat dalam beragama berarti percaya diri dengan esensi ajaran agama yang dipeluknya, yang mengajarkan prinsip keadilan, kejujuran, keseimbangan, dan kehormatan.

Moderasi beragama meniscayakan keterbukaan, penerimaan, dan kerjasama antarkelompok yang berbeda-beda agama.

Moderasi beragama meniscayakan untuk saling mendengarkan, saling belajar, dan melatih kemampuan mengelola, serta mengatasi perbedaan pemahamaan keagamaan, berdasarkan fatsun toleransi dan kerukunan hidup beragama universal: setuju dalam perbedaan (agree in disagreement).

Prinsip dasar dalam moderasi beragama adalah selalu menjaga keseimbangan di antara dua hal: akal dan wahyu, jasmani dan rohani, hak dan kewajiban, kepentingan individu dan kemaslahatan kelompok, keharusan dan kesukarelaan, gagasan ideal dan kenyataan.

Prasyarat sikap moderat dalam beragama ialah memiliki pengatahuan yang luas, mampu mengendalikan emosi untuk tidak melampaui batas, dan selalu berhati-hati dalam membawakan diri (berilmu, berbudi, berhati-hati).

Tiga pilar moderasi: moderasi pikiran, moderasi perkataan, moderasi perbuatan.

Peri bahasa Indonesia mengajarkan, “Bahasa menunjukkan bangsa.”

Perilaku seseorang menunjukkan karakter dan kepribadiannya yang terbentuk oleh berbagai pengalaman hidupnya.

Hal ini meneguhkan peribahasa lainnya, “berkarib dengan tukang besi, bau arang, berkarib dengan pedagang minyak wangi harum.”

Burung-burung berkumpul dengan yang sejenisnya. Mana mungkin burung pipit bersahabat dengan elang, ayam bersahabat dengan musang, dan serigala berteman dengan domba.

Kebaikan, kebenaran, kejujuran, keadilan, kasih sayang, persahabatan, dan kebahagiaan adalah ibarat mata uang yang laku di mana-mana, dan tidak mengenal afiliasi agama, kebangsaan, politik, dan partainya.

Orang bijak berkata, “Lihatlah ucapannya, dan jangan melihat siapa pengucapnya”, “Kita harus berani mengatakan yang benar adalah benar, dan yang salah adalah salah”,

“Suarakan kebenaran walaupun besar risikonya”, “Kesalahan tidak akan berubah menjadi kebenaran karena perjalanan waktu.”

Dinamika kehidupan sosial, ekonomi, politik, budaya, agama dan lain-lain membuahkan sejumlah peribahasa, yang boleh jadi relatif bagi setiap pembacanya. Dalam istilah penulis peribahasa masa pancaroba.

Bahasamu harimaumu.

Gajah mati meninggalkan gading, pejabat lengser meninggalkan utang.

Gunakan sosmedmu untuk akhiratmu.

Selamatkan negerimu dengan HP-mu.

Sepandai-pandai serigala berbulu domba, akhirnya ketahuan juga.

Prajurit mati di medan laga, komandan mati di istana.

Tikus mati di lumbung, kodok mati di kolam.

Air tenang menghanyutkan, minyak goreng menggelincirkan.

Teladan itu dari atasan kepada bawahan, bukan dari bawahan kepada atasan.

Ucapan bernas cendekiawan dahulu, masih benar sampai sekarang.

Tabiat katak memang melompat-lompat.

Gelap tak kunjung habis, terang tak kunjung datang.

Tegakkan hukum, walaupun seperti benang basah.

Tak mungkin menggoreng tahu dan isu tanpa minyak.

Hasrat hati memeluk IKN, apa daya masa tak sampai.

Semut di seberang lautan tampak, koruptor di depan mata tak tampak.

Oligarki di dalam negeri, bagaikan pagar makan tanaman.

Relawan bersatu, runtuhkan pencitraan.

Gula-gula bikin gila, tua dan muda.

Lain ladang lain pialang, lain lubuk lain predatornya.

Rambut sama hitam, isi kepala beda capresnya.

Kena aktornya, tetap tak turun harga minyaknya.

Besar utang daripada income.

Bersakit-sakit melulu, tak kunjung senang kemudian.

Tak akan lari gunung dihajar.

Dukung demo mahasiswa, supaya pilpres tidak ditunda.

Sungguh miskin sang pemimpin, burung punya sarang, dia tak punya.

Selama hayat Jenderal Sudirman tak berpunya, sepeninggalnya punya jalan di banyak kota.

Lebih baik kaya hati, syukur kaya harta pula.

Di sini sementara, di sana selamanya.

Belajar Untuk Apa?
Ilmu bukan untuk ilmu
Seni bukan untuk seni

Harta bukan untuk harta
Kekayaan bukan untuk kekayaan
Pangkat bukan untuk pangkat

Jabatan bukan untuk jabatan
Politik bukan untuk politik
Semua untuk mengabdi kepada-Nya.

Belajar giat, agar bila suatu saat diangkat menjadi Pejabat selamat: tidak digugat, tidak diumpat, tidak dihujat, serta tidak dilaknat umat dan Rakyat!

EDITOR: REYNA







banner 468x60