Maaf Jenderal Kivlan, Kami Terjajah Dan Pengecut

Maaf Jenderal Kivlan, Kami Terjajah Dan Pengecut




Jenderal-jenderal  Sekaliber  Ini Pantasnya     
Memimpin Kami Di  Medan Gerilya Seperti
Pak  Dirman, Bukan Duduk Dibelakang 
Meja.. Anda  Salah Melangkah Komandan

Oleh : Anton Permana

(Kader KB FKPPI. Anak Prajurit TNI)

Siapa yang tak kenal sosok Kivlan Zen. Jendral bintang dua berdarah Minang yang tegas, berani, lugas, namun tetap hidup sederhana di hari tuanya.

Dalam karier militer. Pria kelahiran Langsa 24 Desember 1946 ini sudah tidak asing lagi. Khususnya bagi ‘korps Cakra’ Kostrad TNI AD. Bahkan beliau boleh dikatakan sebagai salah satu ‘Bapak Kostrad TNI AD’ karena pernah menjabat posisi orang nomor dua sebagai KasKostrad TNI AD pada tahun 2000. Dan selama berdinas didunia militer boleh dikatakan 90 persen menjabat berbagai posisi di kesatuan Kostrad TNI AD.

Kalau dilihat dari rekam jejak dan jam terbang di dunia militer. Jendral berdarah Minangkabau ini sangat monumental. Boleh dikatakan seorang Jendral tempur yang memang dominan banyak bertugas di pasukan dan medan perang.




Tak terhitung prestasi dan penglaman tempur Jendral ini. Mulai dari pembebasan sandera di Papua, Timor timur, dan Philipina. Sampai penangkapan dan juga tugas operasi pembebasan rekan sesama (Dan Yon) TNI yang ditawan pemberontak Fretellin masa darurat militer di Timor timur.

Penulis termasuk sering berdiskusi dengan Jendral KZ. Dimana dalam catatan penulis, aura patriotik, idealisme, dan kecintaannya terhadap NKRI ini sangat luar biasa. Dapat menjabat sebagai Dan Brigif 6/2 Solo, Kasdiv 1 Linud Cilodong, dan Panglima Divisi 2 Singosari Jawa Timur dalam pasukan elit TNI AD itu tidak mudah. Hanya orang terpilih yang bisa menduduki posisi bergengsi itu. Namun semua telah dilalui Jendral KZ dengan gemilang. Bahkan, Jendral KZ pun pernah satu pendidikan dengan SBY di pendidikan Suslapa Fort Benning USA (Amerika). Komandan kontingen pasukan Garuda ke Bosnia dan Philipina. Hebatnya lagi, Jendral KZ lah yang berhasil merayu pemberontak Nur Misuari untuk rembuk dengan presiden Philipina ketika itu Fidel Ramos.

Terakhir dalam catatan penulis, selain berhasil mengusir dan membersihkan gedung MPR/RI pada rusuh mei 1998, Jendral KZ AKABRI angkatan 71 ini dengan heroik berhasil membebaskan sandera anak bangsa yang ditawan kelompok bersenjata di Mindanao Philipina Selatan tanpa memuntahkan tembakan satu peluru pun sama sekali.

Namun sayang, deretan prestasi, pengabdian, dan jasa beliau seakan sirna tak berharga dihadapan rezim hari ini. Bahkan Jendral patriotik ini difitnah, dihinakan, dipenjara dengan tuduhan mau makar terhadap negeri yang justru selama ini beliau bela dengan nyawa dan air mata.

Sekarang justru, air mata Jendral kharismatik ini tertumpah. Kalau melihat kejadian ini, penulis langsung teringat juga tentang memorium catatan Buya Hamka dalam buku berjudul “ Ayah “ yang ditulis anaknya Rusdi Hamka. Bagaimana Buya Hamka ketika itu juga ditangkap rezim Soekarno atas fitnah tuduhan makar hasil hasutan PKI yang ketika itu sangat dekat dan jadi anak emas Soekarno. Buya Hamka yang seorang ulama, hampir silap mata dan kalau tak kuat iman di dadanya, mau mengambil pisau silet dan bunuh diri. Begitu sakit dan sedih hatinya dituduh makar terhadap negeri yang begitu sangat dia cintai. Untung iman dan logika didada ulama asal Maninjau ranah Minangkabau ini masih kokoh. Sehingga Buya Hamka mengurungkan niatnya untuk bunuh diri.

Begitu jugalah kiranya yang penulis tangkap dari denyutan hati dan dada Jendral KZ. Beliau menangis bukan karena apa, pasti karena begitu sakit dan sedih dituduh makar. Ini adalah penghinaan keji bagi seorang Patriot. Bagi Jendral KZ mati dalam bertempur, desingan peluru dan granat, tak akan membuatnya gentar sedikitpun. Sudah terlalu banyak fase kehidupan yang kritis beliau hadapi. Namun, perlakuan rezim hari ini kepada dirinya sungguh sangat sewenang-wenang. Di luar batas kemanusiaan.

OPM Papua yang jelas teriak merdeka, bawa bendera, dan membunuh aparat TNI/Polri bahkan rakyat tak berdosa, tak ada satu patah kata ‘ makar ‘ keluar dari mulut mereka. Padahal kurang apalagi tindakan makar OPM papua terhadap NKRI. Parahnya lagi, semua itu OPM lakukan di depan hidung istana, di ibu kota negara ??

Nah bandingkan dengan tuduhan kepada Jendral KZ. Dimana logika pemerintah hari ini ? Dimana hati nurani para pemangku jabatan yang selama ini mengaku saya Pancasila ? NKRI harga mati ? Tak adakah otak mereka berpikir bagaimana mungkin seorang Jendral Gaek yang sudah pensiun, sudah tak punya pasukan dan senjata lagi mau makar ? Mau kudeta ? Apalagi mau bunuh orang ?

Secara kasat mata mungkin hal ini akan dianggap biasa. Tetapi bagi yang melek sejarah, paham geopolitik negara, atau sedikit tahu tentang ilmu inteligent dan pertahanan, hal ini akan menjadi tanda tanya besar.

Kenapa Jendral patriot ini seenaknya di fitnah dan ditangkap ? Apa modus dan misi dibelakang penangkapan ini ? Apa tujuan dari penahanan ini ? Dan siapa aktor dibalik kejadian ini semua ?

Pada fase inilah, penulis atas permintaan beberapa sahabat, mencoba lagi untuk menulis dan menganalisis. Kenapa semua ini bisa terjadi ? Sebagai anak prajurit, sebagai bahagian tak terpisahkan dari keluarga besar TNI, penulis juga merasa geram bercampur sedih. Sudah tidak seberharga inikah seorang Jendral TNI dimata rezim hari ini ? Setelah para ulama di kriminalisasi, sekarang Jendral pensiun mereka masuk kan kedalam bui. Sebentar lagi, mungkin Jendral aktif TNI pun mereka bui atau kriminalisasi dengan banyak alibi. Siapa saat ini yang bisa menjamin hal ini tidak akan terjadi ? Mana tahu sekarang ini hanya test case dulu untuk mengkebiri TNI secara sistematis. Sambil mengukur seberapa besar dan kuat ikatan “ korsa “ keluarga besar TNI terhadap sesama rekannya. Sesama prajurit dan patriot bangsa.

Berikut beberapa hasil analisis penulis, terkait penahanan Jendral KZ yang kasusnya sekarang sudah dilimpahkan ke kejaksaan dan sidang di pengadilan.

1. Penahanan dan penangkapan terhadap Jendral KZ diduga adalah pesanan dari sebuah kekuatan besar yang bisa mendikte aparat di negeri ini. Karena pasal atau dalil yang gunakan dalam penahanan dan penangkapan ini sangat jauh dari panggang dan api. Apalagi kalau kita bandingkan dengan fakta kejadian OPM papua, beberapa hari yang lalu. Kalau tuduhan yang dilakukan adalah pasal makar.

2. Jendral KZ adalah pelaku sejarah ketika rusuh mei 1998. Beliau berhasil mengusir demonstran dari gedung senayan bersama Pam Swakarsa yang dibentuknya. Artinya, beliau tentu sangat paham siapa yang bermain ketika kejadian PKI 1965, rusuh mei 1998, dan yang mengitari rezim saat ini. Dan beliaulah saat ini seorang Jendral TNI yang lantang melawan, berani menyuarakan, perihal kebangkitan dan kekuasaan PKI yang hari ini sudah masuk kedalam pusaran inti kekuasaan (Istana).

Sesama kita ketahui, siapa saja sekarang ini keras, tegas, frontal terhadap PKI maka akan ditindak tegas. Seperti contoh, HRS dan Ustad Alfian Tanjung. Ketika mereka keras terhadap hal lain, belum terlalu diperhatikan. Tetapi ketika HRS dan Ustad Alfian Tanjung frontal menyatakan bahaya PKI yang bangkit mencengkram saat ini, mereka berdua langsung diperkarakan dengan berbagai alibi dan skenario. HRS terpaksa mengungsi terisolasi di Saudi Arabia, Ustad Alfian Tanjung mendekam di penjara.

3. Jendral KZ adalah symbol perlawanan terhadap ketidakadilan yang dilakukan rezim hari ini. Jendral KZ adalah figur TNI yang patriotik dan idealis. Menangkap dan menahan Jendral KZ seakan salah satu bentuk ‘show of force’ rezim ini kepada seluruh kelompok yang coba-coba usik PKI dan melawan rezim hari ini, agar tidak macam-macam kalau tidak ingin bernasib sama seperti Jendral KZ. Setelah ‘macan asia’ sudah dijinakkan dengan naik MRT dan makan nasi goreng, sekarang ‘Macan Cakra’ yang mereka amankan tak berdaya di dalam tahanan.

4. Penangkapan terhadap Jendral KZ juga diduga sebagai bentuk kedigjayaan rezim hari ini walau kepada seorang Jendral TNI AD sekalipun. Yang selama ini dalam alam bawah sadar masyarakat Indonesia begitu disegani dan ditakuti. Kalau kita jujur menilai. Penangkapan dan fitnah terhadap Jendral KZ tak seberapa beda dengan kejadian G/30/S/PKI tahun 1965. Bedanya, kalau tahun 1965 yang eksekutornya pasukan Cakrabirawa (Paspampres ketika itu) dan membunuh fisik Jendral. Jendral KZ yang tangkap adalah Polisi (Brimob) bersenjata lengkap bersama POM AD, dan yang dibunuh adalah ‘karakter’ nya. Bukan fisiknya, melalui tuduhan makar. Kalau PKI 1965 dgn tuduhan makar dewan jendral dan bunuh orangnya, Jendral KZ dgn tuduhan makar tapi yang dibunuh karakter pribadinya. Miris bukan.

5. Suka tidak suka. Jendral KZ adalah symbol dari TNI AD. Meskipun sudah pensiun. Penangkapan dan penahanan terhadap beliau tidak bisa dianggap remeh. Penulis menduga, hal ini terjadi juga selaras dengan upaya pelemahan TNI saat ini yang masif terjadi secara sistematis. Menjatuhkan pamor TNI dimata publik. Bahwa TNI hari ini ibarat ‘macan ompong’ yang harus tunduk dibawah kekuasaan politik. Secara mata anggaran, peran dan fungsi TNI saat ini juga sedang di obok-obok dari dalam dan sangat menyedihkan.

Berbeda sekali dengan perlakuan rezim hari ini terhadap institusi Polri yang begitu banyak mendapatkan privilege khusus dari rezim hari ini. Dan penulis menduga, ada upaya sistematis untuk membenturkan antara TNI Vs Polri melalui politik belah bambu. Yang satu diangkat, tapi yang satu lagi diinjak dengan bahasa manis bernama policying democratic dan HAM. Yaitu menempatkan Polri terdepan dalam semua urusan negara, dan TNI cukup dalam barak dan jaga perbatasan saja.

Dan hal ini menurut penulis sangat berbahaya kalau terus berlanjut. Karena akan menimbulkan kecemburuan antar lembaga. Yang krusial lagi adalah, kalau dugaan ini benar, menurut penulis Indonesia sangat terancam akan sebuah perpecahan antar institusi yang menjadi tulang punggung negara. Dan ini sama saja menghancurkan sistem pertahanan negara dari dalam. Kalau ini rusak dan hancur, maka lenyaplah negara ini dibawah neo-kolonialisasi gaya baru.

6. Penangkapan dan penahanan terhadap Jendral KZ, adalah bentuk keluarga besar TNI hari ini pengecut. Keluarga besar TNI, baik yang aktif, pensiunan, anak atau menantu adalah pengecut. Tidak ada lagi jiwa korsa yang selama ini menjadi kebanggaan TNI. Semua takut untuk melakukan sebuah pembelaan nyata apalagi perlawanan. Padahal dengan mengerahkan dua pleton pasukan saja cukup untuk show membebaskan Jendral KZ. Masak kalah dengan OPM Papua.

Semua ini bisa terjadi karena memang sudah ada pergeseran pemahaman dan ideologi seorang prajurit dan saptamargais. Yaitu, loyal kepada penguasa bukan loyal kepada negara. Jadi sangat mudah di obok-obok. Para Jendralnya takut tak dapat jabatan. Para Pamen nya takut tak dapat sekolah atau promosi. Para Pama, Bintara takut di hukum atau dipindah tugaskan kedaerah terisolir.

Telegram Rahasia atau Skep jabatan lebih mereka takuti dari pada menyuarakan kebenaran dan keadilan. Silahkan pundak bertabur bintang, dada bersematkan tanda jasa dan penghargaan, tetapi faktanya semua kalah oleh selembar kertas penugasan dan promosi jabatan. Miris bukan ?

Banyak lagi kalau penulis mau tuliskan terkait motif, modus penangkapan Jendral KZ ini. Apa yang penulis tulis diatas bisa benar bisa juga salah. Tetapi fakta yang tidak terbantahkan hari ini adalah, seorang Jendral TNI yang telah banyak berjasa atas negeri ini sedang difitnah dan diperlakukan semena-mena. Untung Penahanannya di Rutan POM Kodam Jaya. Kalau sempat dikantor Polisi akan lain ceritanya.

Tapi yang jelas penulis melihat, kesewenang-wenangan rezim ini terhadap Jendral KZ adalah gambaran umum bahwa bangsa ini sedang terjajah, sedang diintimidasi, dikendalikan, oleh sebuah kekuatan dari luar melalui para proxnya yaitu para pengkhianat komprador anak bangsa yang mau menjual dirinya, menjilat, demi uang dan jabatan.

Sudah tidak ada lagi rasa satu bangsa, satu jiwa, apalagi nilai Pancasila. Semuanya tunduk dibawah kekuasaan politik. Kolaborasi antara para opportunis, ideolog genetis PKI yang balas dendam, taipan, dan aparat korup yang sudah mereka bina sedemikian rupa.

Tapi penulis yakin. Roda kekuasaan itu akan berputar. Kebenaran itu akan selalu menang. Indonesia akan tetap jaya pada saatnya. Mari kita lihat sejarah. Nusantara ini pernah berjaya dibawah panji Majapahit, Sriwijaya dan kerajaan Islam. Walaupun sempat dijajah bangsa eropah dan Jepang, tapi akhirnya negara ini merdeka.

Begitu juga selanjutnya. Walaupun pernah di invansi China (tepatnya mongolia dimasa Khubilai Khan), kemudian tentara mongol tersebut berhasil di usir balik dengan hina. Begitu juga ketika zaman OrLa. Meskipun PKI sempat berkuasa dan banyak membunuh ulama, santri, pejabat, dan Jendral TNI, tetapi akhirnya berhasil ditumpas balik oleh gabungan TNI bersama rakyat (khususnya ummat Islam).

Jadi yakinlah. Roda kekuasaan pasti akan berputar. Kekuasaan itu akan dipergilirkan oleh Tuhan. Bagi Indonesia. Sejarah juga sudah mencatat. Indonesia akan jaya dan sejahtera, selagi setia kepada Pancasila dan UUD 1945. Yaitu negara berdasarkan Ke Tuhanan Yang Maha Esa. Dimana agama sebagai salah satu sumber nilai dari penyelenggaraan negara.

Ketidak adilan, kesewenang-wenangan, adu domba, opportunis, khianat, korupsi, anti agama, diskriminasi, tunduk pada asing-aseng, ketidak adilan hukum, adalah bentuk bentuk tindakan yang bertentangan dengan nilai Pancasila. Dan apa yang terjadi dengan Jendral KZ hari ini adalah bertentangan dengan Pancasila serta UUD 1945. Maka biarkan waktu yang menjawabnya. Siapa yang mengkhianati Pancasila (atau menjadikannya topeng kamuflase) makan akan jatuh dan hancur.

Mari kita jaga negeri ini, bangsa ini dengan rasa persatuan dan kebersamaan, serta keras dan berani melawan ketidak adilan. Sebagaimana kakek moyang kita berjuang dengan keberaniannya yang luar biasa mlelawan dan mengusir penjajah. Sehingga bangsa ini merdeka dari penjajahan. NKRI Harga Mati. InsyaAllah.

Batam, 12 September 2019.

Penulis adalah Alumni Lemhannas RI PPRA LVIII Tahun 2018. 

(Sumber : Medsos)

Editor : Setyanegara 

 

 







Tags: ,
banner 468x60