Menata Ulang Arah Perjuangan HMI di Tengah Konflik: Catatan 47 Tahun

Menata Ulang Arah Perjuangan HMI di Tengah Konflik: Catatan 47 Tahun




Oleh : Deni Iskandar
(Ketua Bidang Partisipasi Pembangunan Daerah HMI Cabang Ciputat, Periode 2019-2020)

Terhitung dari sejak didirikan pada 5 Februari 1947 sampai saat ini, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sudah berusia 47 tahun. Sebagai organisasi perjuangan, dari semenjak didirikan, kehadiran HMI tidak pernah sepi dan surut, dari yang namanya dinamika.

Dari waktu ke waktu, organisasi ini terus mengalami banyak dinamika ditingkat eksternal maupun internal, dan itu sifatnya berentet. Terlepas dari jenis dinamikanya besar atau kecil, yang pasti selalu ada. Sepanjang yang saya amati, dinamika sekencang dan sekereas apa pun dalam HMI, selalu berhasil dilalui.

Dari masa ke masa, dinamika yang menerpa Himpunan selalu berbeda. Namun yang jelas, muaranya selalu dua. Diantaranya yakni, dinamika internal dan eksternal. Termasuk dengan dinamika yang saat ini tengah berlangsung.

Apabila kita melihat kondisi HMI saat ini, kiranya sebagai kader yang baik dan bijak. Kita semua harus dan wajib memberikan kritik serta solusi kongkret, kenapa? Pertama, karena dengan memberikan kritik, menjadi bukti bahwa, kita peduli dan loyal terhadap Himpunan.

Kedua, dengan kita mengkritik, kita mempunyai rasa memiliki (Sense Of Belonging) yang kuat pada Himpunan, dan Ketiga, dengan kita mengkritik, kita juga ikut serta menjaga eksistensi HMI saat ini dan nanti. Itu semua penting, untuk dilakukan, demi keberlangsungan Himpunan,

Sebelum lebih jauh, ada baiknya kita melakukan refleksi secara ringkas terlebih dahulu. Tujuannya untuk, melihat bagaimana rentetan perjalan panjang Himpunan berkiprah di Republik ini. Dimana di dalamnya termuat banyak dinamika. Kemudian, HMI sebagai organisasi perjuangan, berhasil keluar dari pusaran dinamika tersebut.

Romantisme Masa Lalu

Seperti misalnya, pada saat terjadinya peristiwa agresi militer II tahun 1948. HMI sebagai organisasi yang baru saja berdiri, ikut terlibat aktif melawan penjajah, dalam peristiwa gencetan senjata. Kemudian pada saat peristiwa Gestapu 1965-1966, dimana di dalamnya ada peristiwa pembubaran PKI serta peralihan kekuasaan Orde Lama ke Orde Baru, HMI juga tampil di garda terdepan.

Selanjutnya, saat Presiden Soeharto, tahun 1969-1971 memberlakukan asas tunggal, dimana semua organisasi diharuskan menggunakan pancasila secara tekstual, sebagai pedoman dasar bagi organisasi. HMI berhasil keluar dari kemelut tersebut.

Meski pada prakteknya, di internal HMI sendiri, ada gejolak besar, ribut antara pro-kontra, menerima dan menolak. Karena sampai saat ini, sempalan organisasi yang juga mengatasnamakan HMI tersebut, masih ada. Namun disini, yang perlu dicatat dan digaris bawahi bahwa, HMI bisa keluar dari tekanan, dan HMI masih tetap eksis sampai sekarang.

Hingga puncaknya adalah pada saat peralihan kekuasaan Orde Baru ke Reformasi. HMI tampil sebagai pahlawan dengan bukti, keterlibatannya dalam merumuskan agenda-agenda reformasi. Bila melihat rentetan perjalanan ringkas ini, maka dari masa ke masa, HMI mampuh keluar dari pusaran dinamika.

Dalam hal ini, penting untuk dicatat bahwa, HMI sudah terbiasa dengan gejolak dan dinamika. Termasuk dengan dinamika internal yang sifatnya usang, adalah Dualisme kepemimpinan. Kita telah menyaksikan bahwa, asas tunggal telah mengajarkan tentang Dualisme Kepemimpinan.

Dengan hadirnya HMI faksi Dipo dan MPO (Majelis Perusak Organisasi). Setidaknya memberikan pesan bahwa, HMI sudah berpengalaman dengan yang namanya Dualisme. Lalu pertanyaan kemudian untuk saat ini adalah, apakah mampuh, HMI keluar dari Dualisme Kepemimpinan, seperti yang saat ini tengah berlangsung?

Dalam hal ini, saya sebagai kader HMI, dalam hal ini merasa optimis, dalam waktu dekat dualisme kepemimpinan yang saat ini berlangsung di HMI, bisa segera selesai.

Muasal Konflik

Pertemuan yang melibatkan senior-senior dan semua stakeholder terkait diacara Forum Silaturahmi Keluarga Besar HMI di Masjid Agung, Jl. Sunda Kelapa, Menteng Jakarta Pusat tahun 2020. Secara resmi telah melegitimasi bahwa Respiratori Saddam Al Jihad bukan lagi Ketua Umum PB HMI.

Pernyataan mundur yang terlontar dari mulut Saddam, dengan menyerahkan kekuasaan HMI pada Arya Kharisma Hardi, yang semula adalah Sekertaris Jenderal-nya, disaksikan banyak senior, seperti, Akbar Tanjung, Bahlil Lahadalia, Mahfud MD dan Presidium MN Kahmi lainnya.

Begitu juga dengan mekanisme penyelesaian konflik dualisme kepengurusan, akan diselesaikan lewat mekanisme Kongres Ke-31 di Kota Surabaya Jawa Timur. Maka dengan demikian, Arya Kharisma Hardi secara resmi mendapatkan legitimasi yang kuat untuk menyelesaikan polemik yang ada di Himpunan.

Sebab, Ketua Umum hasil mandataris Kongres Ke-30 secara resmi, telah mengundurkan diri dari jabatannya. Adapun soal kemudian, ada beberapa kelompok yang melakukan deklarasi Pejabat Ketua Umum selain Arya dikemudian hari. Inilah sebenarnya dinamika yang sedang terjadi dalam tubuh Himpunan.

Jauh sebelum itu, potensi dan percikan perpecahan di HMI, memang sudah terlihat secara terang. Ketika Kongres Ke-30 di Ambon selesai. Ada banyak indikator kenapa perpecahan tersebut bisa terjadi. Pertama, hasil kemenangan Saddam Al Jihad menjadi Ketua Umun, adalah produk koalisi besar dan gemuk.

Kedua, hajat Kongres Ke-30 di Kota Ambon pada saat itu, dilakukan dalam momentum menjelang politik nasional (Pilpres 2019) dimana semua pihak, ikut terlibat di dalam-nya. Ketiga, keputusan politik Saddam Al Jihad saat menjadi Ketua Umum, kurang Populis dan dinilai tidak “Fair” sehingga banyak kelompok yang tidak puas dalam hal ini.

Keempat, Saddam sebagai Ketua Umum HMI, terlihat lemah, dan tidak cerdas membaca peta. Oleh karena itu, konflik internal yang seharusnya membesarkan Saddam dan HMI, justru berbalik arah. Faktanya, Saddam tidak mampuh mengelola dan mengatur ritme konflik yang terjadi. Langkah pengunduran diri Saddam, sejatinya bukanlah langkah “Menyelamatkan” HMI dari perpecahan.

Kudeta Halus

Akan tetapi sebaliknya, Saddam Al Jihad justru mengamini adanya “Kudeta Halus” yang secara tidak langsung, dilakukan oleh kelompok-kelompok yang tidak puas dengan keputusan politiknya, saat masih menjadi Ketua Umum PB HMI. Bagi saya, acara Silaturahmi Forum Keluarga di Masjid Agung, Jl. Sunda Kelapa Menteng Jakarta Pusat, adalah serangkaian gerakan politik “Kudeta Halus”.

Gerakan politik semacam ini, bila kita runut dalam sejarah peradaban politik Indonesia kuno, sejatinya bukan-lah gaya “Kudeta” Ken Arok menggulingkan Tunggul Ametung di Tumapel. Sebaliknya, gerakan politik semacam ini lebih pada agenda Majapahit menaklukan kerajaan Sunda dalam tragedi “Perang Bubat” dalam sejarah kerajaan Nusantara.

Perang yang melibatkan dua Kerajaan besar, yakni Majapahit (Jawa) dan Pajajaran (Sunda). Dimana dalam perang tersebut, agenda penyerangan hanya dilakukan satu pihak secara mendadak, dengan motiv perkawinan dua anak Raja.

Pada konteks HMI, seharusnya pada saat Saddam Al Jihad menyatakan mundur dari jabatannya, konflik atau dualisme kepemimpinan HMI ditingkat Pengurus Besar, seharunya berakhir. Namun faktanya, Konflik masih tetap dilanjutkan. Adanya keputusan Majelis Pengawas dan Konsultasi (MPK) PB HMI, yang melakukan pengukuhan Pejabat Ketua Umum di luar Arya Kharisma Hardi.

Tentu ini menjadi pertanyaan besar. Kenapa hal ini bisa kembali terjadi? Bukankah sebelumnya, mekanisme rekonsiliasi sudah dilakukan? Lalu kemudian apa yang melatar belakang dan menjadi dasar MPK PB melakukan pengukuhan tersebut? Bukankah dengan dilakukannya pengukuhan tersebut, konflik HMI kembali berjalan secara “Sustainable,?”

Resolusi Damai

Pada akhirnya, kita hanya perlu menyaksikan bagaimana kelanjutan dari pada Dualisme Kepemimpinan yang tengah berlangsung tersebut. Karena secara prinsip, saya berkeyakinan bahwa, puncak dari pada Konflik kekuasaan adalah Kompromi.

Karena sejatinya, konflik terjadi disebabkan karena, tidak adanya titik temu. Begitu juga dalam setiap keputusan politik, tidak ada keputusan yang bisa membuat semua orang puas. Termasuk keputusan politik dalam organisasi di Himpunan ini.

Pada konteks dualisme HMI saat ini, sekalipun belum ada titik temu. Namun sifatnya, masih belum buntu. Artinya, masih ada peluang lebar untuk HMI kembali menjadi satu. Untuk dapat mewujudkan penyelesaian Dualisme Kepemimpinan yang terjadi untuk kedua kalinya tersebut.

Maka diperlukan peran semua piha terutama peran senior-senior yang tergabung dalam MN KAHMI. Kedua, peran senior-senior “Midle” yang saat ini menjadi MPK PB, agar kembali menyatu dan satu suara tentang pentingnya Rekonsiliasi, serta merumuskan agenda HMI kedepan.

Sebab pada umumnya, muara konflik dan penyelesaian konflik di HMI biasanya terjadi ditingkat elite. Begitu juga dengan mekanisme penyelesaian konflik di HMI juga bisa selesai di tingkatan elite.

Diusianya yang ke 47 tahun ini. HMI harus mampuh menjawab tantangan zamam dan memberikan solusi kongkret pada negara. Sesuai dengan mission HMI yang tertera dalam pasal 4:

“Terbinanya Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi, yang Bernafaskan Islam, dan Bertanggung Jawan Atas Terwujudnya Masyarakat Adil Makmur Yang Diridhoi Allah SWT,” Selamat Ulang Tahun. YAKUSA.

EDITOR :SETYANEGARA







banner 468x60