Mengenal Kitab-kitab Suci Agama Samawi dan Pembawanya Menurut Perspektif Al Qur’an

Mengenal Kitab-kitab Suci Agama Samawi dan Pembawanya Menurut Perspektif Al Qur’an
Dr.Muhammad Najib




Oleh Dr. Muhammad Najib

Mengimani kitab-kitab Allah merupakan Rukun Iman yang ke-3, sementara mengimani para Nabi pembawanya merupakan Rukun Iman ke-4 dari 6 Rukun Iman yang wajib diimani bagi setiap Muslim.

Menurut Al Qur’an ada 4 kitab suci yang harus diimani, diantaranya : Taurat (Torah) yang dibawa oleh Nabi Musa AS (Moses), Zabur (Mazmur) yang dibawa oleh Nabi Daud AS (David), Injil yang dibawa Nabi Isa AS (Yesus), dan Al Qur’an yang dibawa Nabi Muhammad SAW.

Pertama, Kitab Taurat disinggung pada Surah Ali Imran Ayat 3, dan Nabi Musa pembawanya disebutkan sebanyak 136 kali. Musa menjadi nama terbanyak yang disebutkan di dalam Al Qur’an, melebihi para Nabi lain termasuk Muhammad yang hanya disebut 25 kali.

Kedua, Kitab Zabur, paling tidak muncul pada tiga ayat dalam Alquran, yaitu surah Al Isra’ ayat 55, surah An Nisa’ ayat 163, dan surah Al Anbiya’ ayat 105. Sedangkan Nabi Daud yang membawanya disebutkan sebanyak 18 kali.

Ketiga, Kitab Injil disinggung pada surah Al Maidah ayat 6, sedangkan nama Nabi Isa yang membawanya disebut sebanyak 18 kali.

Keempat, Al Qur’an sebagai kitab suci ummat Islam yang diturunkan melalui Nabi Muhammad. Banyak sekali ayat dalam Al Qur’an yang menyebutkan Taurat, Zabur, dan Injil, serta berbagai kisah para Nabi pembawanya.

Dari sisi bahasa menurut Al Qur’an, kitab-kitab tersebut ditulis sesuai dengan bahasa yang digunakan oleh para Nabi dan pengikutnya sebagaimana tertera pada Surah Ibrahim ayat 44 yang berbunyi : “Tidaklah Aku mengutus seorang Rasulpun kecuali dengan bahasa kaumnya”.

Menurut penelusuran sejarah yang paling layak dipercaya, Nabi Musa hidup pada abad ke-12 SM, Nabi Daud hidup pada abad ke-10 SM, dan Nabi Isa pada abad ke-1 M, semuanya menggunakan bahasa Ibrani. Akan tetapi, sampai sekarang penulisan Taurat, Zabur, dan Injil yang tertua yang telah ditemukan masih mememunculkan berbagai versi, termasuk terkait dengan bahasa yang digunakan antara yang berbahasa Ibrani, Suryani, dan Qibti.

Hal ini mengindikasikan bahwa ada rentang waktu saat kitab-kitab ini ditulis dengan saat para Nabi tersebut hidup, disamping bukan mustahil tempat ditulisnya juga berbeda dengan tempat dimana para Nabi itu menghabiskan sebagian besar usianya. Nabi Musa sebagian besar hidupnya di wilayah Mesir dan sekitarnya, sedangkan Daud dan Isa hidup di Yerusalem (Al Quds) dan sekitarnya yang dikenal dengan Kanaan (Palestina).

Sementara untuk Al Qur’an hanya ada satu versi dan bahasa yang digunakannya adalah bahasa Arab, yang merupakan bahasa Nabi Muhammad dan para pengikutnya. Al Qur’an menggunakan Bahasa Arab dipertegas dalam Surah Yusuf ayat 2.

Selain itu, ia merupakan firman Allah yang didokumentasikan secara langsung saat ayat-ayat tersebut turun. Ayat-ayat Al qur’an ini pada awalnya ditulis di berbagai sarana tulisan pada waktu itu seperti batu dan tulang, selain dihafal oleh para pengikut Rasulullah.

Ayat-ayat Al Qur’an baru dikompilasi menjadi kitab pada masa Khalifah Umar bin Khattab yang merupakan Khalifah kedua yang merupakan salah satu sahabat dekat Rasulullah disamping sebagai murid langsung. Al Qur’an kemudian distandarisasi di era Usman bin Affan yang juga menjadi murid sekaligus sahabat Rasulullah Muhammad yang kemudian menjadi Khalifah ketiga.

Dibanding Kitab-kitab Samawi lainnya, Al Qur’an sebagai kitab suci merupakan kumpulan firman Allah yang secara langsung disampaikan kepada Rasulullah melalui malaikat Zibril. Sedangkan perkataan Rasulullah, tindakan, maupun sikapnya yang didokumentasikan disebut dengan Hadits.

Sementara kitab-kitab samawi lainnya tidak jelas atau bercampur antara firman Allah dengan perkataan atau ucapan atau tindakan para utusan Allah tersebut.

Karena itu, sejumlah ulama mensejajarkan kitab-kitab Samawi seperti Taurat, Zabur, dan Injil dengan Hadits, bahkan dari sisi otentitasnya atau keotentikannya lebih rendah. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya versi kitab-kitab tersebut yang satu dengan lainnya berbeda.

Keterkaitan kandungan dari empat kitab-kitab Samawi di atas dapat dijelaskan melalui banyak cara, diantaranya dari para pengikut ajarannya. Maryam (Maria) yang menjadi ibu Isa (Yesus) adalah pengikut ajaran Taurat yang taat. Begitu juga pamannya Nabi Zakaria yang mengasuhnya serta Nabi Yahya yang menjadi putranya.

Ketika turun Injil melalui Isa (Yesus), mereka yang mengimaninya kemudian disebut Nasrani, sedangkan yang menolaknya disebut dengan Yahudi. Bagi penganut Nasrani, kitab Taurat dan Zabur disebut sebagai Perjanjian Lama (Old Testament), sedangkan Injil disebut sebagai Perjanjian Baru (New Testament).

Begitu juga selanjutnya, saat Muhammad datang membawa Al Qur’an, maka baik dari pengikut Yahudi maupun Nasrani yang mengimaninya dikenal dengan sebutan Islam atau Muslim. Sedangkan yang menolaknya disebut Yahudi dan Nasrani.

Cara lain untuk melihat keterkaitan isi keempat kitab suci di atas dengan melihat keterkaitan dan kesesuaian isinya. Hal ini menegaskan empat kitab samawi bersumber dari Tuhan yang sama.

Menurut keyakinan Islam, baik dalam Taurat, Zabur, maupun Injil kehadiran Nabi Muhammad sebagai Nabi terakhir (Khatmul Ambia) yang hidup di abad ke-7 M, sudah disebutkan sebagaimana tercantum dalam Al Qur’an Surah Al Baqarah Ayat 146 dan Surah A’raf Ayat 157.

EDITOR : SETYANEGARA







banner 468x60