Menyelamatkan Bangsa, Siti Fadilah Dipenjara Mafia Farmasi Dunia

Menyelamatkan Bangsa, Siti Fadilah Dipenjara Mafia Farmasi Dunia
Siti Fadilah Supari, Mantan Menteri Kesehatan yang pernah kalahkan WHO : Siti menghentikan status pandemi flu burung oleh WHO. Banyak negara diuntungkan karena keberaniannya.




Oleh: Derek Manangka

Mantan Menteri Kesehatan, Siti Fadilah saat ini menjalani masa ‘hukuman’ atas perbuatan yang tidak pernah dilakukannya. Mengapa? Derek Manangka, Wartawan Senior mantan Harian Sore Sinar Harapan, kembali mengulas dalam CATATAN TENGAH, Sabtu 1 Juli 2017 dengan judul Siti Fadilah, ‘Penyelamat Bangsa’ Yang Diabaikan: ”The Braving Lady”, Musuh Mafia Farmasi Dunia. Tulisan ini diunggah dalam akun facebooknya dan dimuat Bergelora.com.

BIASANYA saya tak suka dan tidak berani berdebat soal hukum, termasuk sanksi hukum kepada seseorang yang terhukum. Selain bukan ahli hukum, sebuah persoalan bisa memiliki penafsiran yang multi tafsir jika sudah dibedah dari kacamata para ahli hukum.

Tapi entah mengapa dalam kasus terhukum Dr. Siti Fadilah, Menteri Kesehatan RI periode tahun 2004 – 2009, saya merasa resah jika tak menyuarakan keprihatinan atas hukuman yang dijatuhkan kepadanya.

Nenek Siti Fadilah bukan lah saudara saya. Kami juga tidak terikat oleh pertalian perkawinan saudara. Suku dan agama kami berbeda.

Tapi di dalam ketidak adaan keterkaitan dan banyaknya perbedaan itu, saya merasa tak punya beban untuk mengatakan apa yang saya tahu.

Sebagai sahabat, yah. Tapi pun bukan seperti sahabat yang sudah berpuluh-puluh tahun saling mengenal.

Saya menjadi merasa dekat dengan janda berusia 67 tahun ini, karena keterkaitan dengan profesi.

Saya tertarik menulis sosok Siti Fadilah, karena ada sisinya yang patut dijadikan panutan dan rujukan. Rakyat dan bangsa Indonesia perlu tahu hal itu.

Dia, saya kenal melalui laporan-laporan media internasional, sebagai seorang wanita pemberani.

Saya juga heran, koq justru media asing, jurnalis dunia yang lebih berani menilainya sebagai wanita pemberani – “the braving lady”.

Dia ditakuti atau diperhitungkan oleh para industriawan farmasi – karena keberaniannya membongkar bisnis mega milyar dolar yang sudah berlangsung cukup lama.

Siti Fadilah-lah yang menemukan fakta bahwa komersialisasi virus oleh perusahaan-perusahaan obat tertentu, telah memberikan keuntungan finansil yang luar biasa besarnya bagi para industriawan dan politisi dunia – sekalipun di satu sisi, manusia yang menjadi korban, juga tidak sedikit. .

Selama ini dunia hanya mengenal bahwa industriawan farmasi, merupakan orang-orang yang berahlak baik. Mereka memproduksi obat-obatan untuk mengobati penyakit yang diderita oleh manusia. Sehingga masyarakat yang demam akan hidup yang sehat, menganggap para fabrikan farmasi ini, sebagai manusia yang diutus Tuhan untuk ikut mengobati manusia manusia yang sakit.

Mereka menyelamatkan berjuta-juta nyawa manusia.

Tapi tunggu dulu, itu di era tahun berapa ?

Kenyataannya, pada tahun 2000-an awal itu, situasinya sudah berubah. Tidaklah lagi semua industriawan farmasi, berprilaku baik.

Sejumlah pabrik farmasi raksasa, mulai berbuat kejahatan. Mereka mengambil data dan sampel virus dari Indonesia misalnya, kemudian data itu diteliti. Hasil penelitian itu, membuahkan dua produk. Satu sebagai obat pembasmi, satunya lagi sebagai virus penyebab dan penyebar penyakit.

Mirip dengan konsep pembuat program computer. Selain memproduksi program atau aplikasi baru, tetapi pada saat yang bersamaan juga diproduksi program anti-virus. Sebab ada pihak yang memproduksi virus bagi computer.

Nah Indonesia, sudah lama menjadi negara lahan eksperimen dari para industriawan farmasi.

Yang mudah diingat mungkin penyakit flu burung. Penyakit jenis baru, memang sebuah ciptaan. Virusnyalah yang disebarkan melalui cara yang tak terlihat olah mata awam. Tiba-tiba saja di Indonesia sudah muncul penyakit flu burung.

Nah yang menemukan modus sekaligus meminta dunia menghentikan cara-cara jahat ini, adalah Siti Fadilah saat dia menjadi Menteri Kesehatan RI pada periode 2004 – 2009.

Pada era Siti Fadilah menjabat Menteri, sebetulnya PBB sudah siap mengumumkan kepada dunia bahwa Indonesia merupakan negara darurat flu burung. Dampak dan resiko negatifnya, sangat besar bagi negara kita. Tapi di saat itulah Menteri Siti Fadilah mengajukan keberatan – melalui WHO, Badan Kesehatan PBB. Keberatan Menteri Siti, dengan alasan-alasan yang cukup kuat, membuat PBB membatalkan agenda yang berpotensi mengucilkan Indonesia.

Seandainya, tidak ada temuan Siti Fadilah, mungkin sampai saat ini, flu burung masih terus menular di seluruh Indonesia. Dan untuk mencegah penularannya, pemerintah harus mengeluarkan dana yang ratusan triliun rupiah. Dana itu untuk untuk membeli obat pencegah penyakit flu burung.

Padahal penyebaran virus flu burung ini, merupakan sebuah konspirasi global,yang berbasis bisnis.

Sebab sudah ada suara yang mengatakan bahwa Bank Dunia bisa membantu dana bagi pembelian obat anti-flu burung, jika kemampuan finansil Indonesia, tidak mencukupi.

Tapi Indonesia akhirnya tidak pernah memanfaatkan jasa Bank Dunia utuk pencegahan penulauaran penyakiut flu burung. Artinya, Indonesia, tidak jadi berhutang, meminta pinjaman dari lembaga keuangan internasional tersebut.

Jadi keberhasilan Siti Fadilah ini, menghentikan penularan flu burung, merupakan pukulan telak dan merugikan bagi industriawan farmasi tertentu. Dan mereka yang merasa dirugikan, melakukan pembalasan.

Di luar kasus flu burung, Menteri Siti Fadilah pula yang menghentikan beroperasinya kapal riset milik tentara Angkatan Laut Amerika yang dikenal dengan NAMRU (Naval Medical Research Unit).

NAMRU disebut-sebut sebagai proyek yang beranggaran Rp. 2,- triliunan per tahun. Ada juga yang menyebut NAMRU sebagai sebuah “proyek spionage”.

Nah, kalau penghentian beroperasinya NAMRU dikaitkan dengan proyek flu burung, akan bisa terlihat sebuah benang merah yang perlu dipelajari.

Bahwa penularan penyakit flu burung dan proyek NAMRU, dua-duanya harus dilihat sebagai sebuah ‘bisnis’.

Bila benar, Bank Dunia sudah bersiap-siap menyalurkan dana bantuan untuk obat penangkal flu burung, itu berarti di dalam persoalan penyakit itu, sesungguhnya yang ikut bicara soal duit atau bisnis.

Di sini ada pihak yang dirugikan. Dan pihak yang dirugikan inilah yang tidak mau berdiam diri. Melakukan pembalasan terhadap Siti Fadilah, sekalipun caranya tidak secara kasat mata.

Pembalasan itu dibungkus dengan rapih melalui isu korupsi, kesehatan dan sedikit yang beraroma politik.

Saya tidak bisa menyalahkan seratus prosen jaksa dan hakim Tipikor. Termasuk KPK sendiri.

Yang saya sesalkan, kalau cara menegakkan hukum dan keadilan, tanpa disertai oleh perspektif dan wawasan yang menyeluruh.

Bagi saya, kasus Siti Fadilah, pemenjaraan nenek ahli jantung ini, tidak berdiri sendiri. Tetapi terkait oleh kegiatan operasional dari apa yang disebut ‘kejahatan mafia global’.

Sayangnya kita terlalu lugu dan cenderung abai.

Saran saya, sangat patut kalau kepada nenek Siti Fadilah, KPK tetap menghukumnya. Tetapi hukumnya seringan-ringannya.

Misalnya mengubah vonisnya sebagai terpidana tahanan kota.

Berilah kesempatan Nenek Siti Fadilah menghirup hawa segar di rumahnya, di Kompleks Billy Moon, Pondok Kopi.

Jangan biarkan dia menderita selama 6 tahun di Rutan Wanita Pondok Bambu.

Sekecil apapun perannya, Siti Fadilah sudah melakukan tindakan penyelamatan bangsa !

Tidak pantas jika imbalannya jusru sebuah ruang kecil di dalam penjara.

Saya hanya bisa berdoa, semoga Ibu/Nenek Siti Fadilah mampu bertahan.

Editor : Setyanegara 

Sumber: Bergelora 

 

 







Tags:
banner 468x60