Muhammad Najib : Alaska Summit Dan Dunia Islam

Muhammad Najib : Alaska Summit Dan Dunia Islam
Dr Muhammad Najib




Oleh : Dr Muhammad Najib

AMERIKA Serikat sebagai super power lama dan China sebagai super power baru untuk pertama kalinya berbicara secara langsung dalam sebuah KTT (Summit) di Alaska yang dihadiri oleh pejabat-pejabat teras kedua belah pihak.

Delegasi Amerika dipimpin oleh Menteri Luar Negri Antony Blinken dan Penasehat Keamanan Nasional Jake Sullivan, sementara delegasi China dipimpin oleh Menlu Wang Yi dan Ketua Komisi Urusan Luar Negri Partai Komunis China. Amerika menyerang China dengan berbagai isu sensitif terkait demokrasi, HAM, dan tatanan dunia sebagai rumah bersama umat manusia.

China kemudian membalasnya dengan tidak kalah kerasnya dengan menunjukkan sejumlah bopeng wajah Amerika yang tidak mungkin lagi ditutupi. Bopeng wajah Amerika diperparah oleh Donald Trump selama menghuni Gedung Putih empat tahun terakhir.

Trump selama kepemimpinannya secara terbuka memperaktikkan pemerintahan yang anti demokrasi dan otoriter, anti meritokrasi dan nepotis, dan sampai sekarang masih menggunakan isu rasisme yang melanggar HAM untuk mengkonsolidasi para pendukungnya, seakan memberikan jastifikasi untuk menganiaya minoritas keturunan Asia yang terus menelan korban.

Walaupun kini Biden berusaha mengoreksi berbagai kebijakan keliru yang dilakukan Trump, akan tetapi borok Amerika terlanjur terbuka di panggung global yang membuat wibawa Amerika tidak mungkin kembali seperti sedia kala.

Karena itu wajar jika negara-negara Muslim kini mulai mencari kiblat baru. Jika Iran tidak punya pilihan karena sikap arogan Amerika yang terus-menerus menjepitnya, sehingga Rusia dan China menjadi tumpuan untuk menyelamatkan kepentingan bangsa dan negaranya. Akan tetapi Turki dan Pakistan yang semula menjadi sekutu Amerika, kini secara berangsur mengubah kiblatnya dari Washington ke arah Moscow dan Beijing.

Di Dunia Arab bukan hanya Irak dan Suriah yang melawan Amerika, kini Mesir yang semula menjadi sekutu terpenting Amerika sedikit demi mulai menggeser kiblatnya ke Tiongkok. Padahal Kairo masih menerima subsidi yang sangat besar dari Washington sejak berdamai dengan Tel Aviv.

Tampaknya Tiongkok kini mulai memetik keuntungan politik dari proyek ekonominya yang diberi nama One Belt One Road (OBOR) atau Belt and Road Inisiative (BRI). Sabuk ekonominya yang mengikat 69 negara di kawasan Asia, Eropa, dan Afrika kini bermetamorfose menjadi kekuatan politik.

Lebih dari itu kemampuan Presiden China XI Jinping merangkul Presiden Rusia Vladimir Putin baik karena menjadi musuh bersama Amerika, dua negara bertetangga ini juga berhasil mensinergikan kepentingan ekonominya di tingkat global.

Karena itu Amerika perlu segera menyadarinya bahwa dirinya tidak seperkasa dulu lagi, para politisi dan diplomat Amerika perlu lebih rendah hati jika tidak ingin ditinggalkan dan semakin jauh tertinggal dalam kompetisi di tingkat global.

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.
EDITOR: SETYANEGARA










banner 468x60