Muhammad Najib: Bagaimana Status Keimanan Mereka Yang Hidup Sebelum Al Qur’an Diturunkan?

Muhammad Najib: Bagaimana Status Keimanan Mereka Yang Hidup Sebelum Al Qur’an Diturunkan?
Dr.Muhammad Najib




Oleh Dr. Muhammad Najib

Akhir-akhir ini muncul banyak pertanyaan terkait dengan status keimanan ayah Rasulullah yang bernama Abdullah, ibu beliau yang bernama Aminah, atau kakeknya yang bernama Abdul Muttalib.

Mereka adalah orang-orang soleh, memiliki hubungan darah langsung dan sangat berjasa dalam kehidupan dan dakwah Rasulullah Muhammad SAW. Agar bisa menempatkannya secara benar marilah kita lihat ayat di bawah ini.

Al-Qur’an surah Al Baqarah ayat 62 berbunyi: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shabi’in, siapa saja (diantara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.”

Menurut berbagai sumber, Asbabun Nuzul ayat ini berkaitan dengan para sahabat Salman Al Farisi. Mereka masih memeluk agama Nasrani, sementara ajaran Al Qur’an yang dibawa Rasulullah SAW belum sampai kepada mereka.

Penyebutan pengikut agama Yahudi dan pengikut Nasrani sudah sangat jelas, lalu siapa yang dimaksud dengan “Shabi’in” ? Dalam al-Quran, kata “Shabi’in” paling tidak disebutkan 3 kali: Pertama pada surah Al Baqarah: 62, kedua pada surah Al-Maidah: 69, dan ketiga pada surah Al Hajj: 17.

Dalam berbagai kitab yang dikarang oleh para ulama terkemuka, istilah “Shabi’in” lazim digunakan untuk menyebutkan para penganut agama selain Yahudi, Nasrani, dan Islam, yang dikenal dengan kelpok agama samawi.

Dengan demikian dapat dikatakan, sebelum Risalah yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW sampai kepada seseorang, maka apapun agama atau keyakinannya, sepanjang yang bersangkutan beriman akan adanya Tuhan dan hari Kiamat, lalu melakukan kebajikan maka mereka dijanjikan Surga di akhirat kelak.

Apalagi mereka yang hidup di Makkah atau di sekitar Ka’bah, mereka boleh jadi memiliki hubungan darah atau keyakinan dengan Nabi Ibrahim yang meninggalkan istrinya Sarah beserta anaknya Nabi Ismail di kota ini sebelum ada satupun manusia lain di sana.

Apabila penafsirannya diperlebar, maka status keimanan yang sama juga dapat diberikan kepada mereka yang hidup sezaman atau sesudah Rasulullah, akan tetapi karena faktor geografis atau faktor lain yang menyebabkan Risalah Rasulullah belum sampai kepada mereka.

Untuk lebih mengintegrasikan pemahaman kita tentang Risalah yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW yang terkandung di dalam Al Qur’an, maka yang disebut agama Islam adalah ajaran yang dibawa oleh para utusan Allah sejak Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, sampai Nabi Muhammad.

Karena itu Nabi Muhammad dijuluki sebagai Khatamul Ambia atau penutup para Nabi. Di dalam Al Qur’an ada 25 Nabi yang secara eksplisit disebutkan namanya. Hanya saja ada yang secara panjang-lebar diceritakan kisahnya, namun ada yang hanya dikisahkan secara singkat, bahkan ada yang hanya disebut namanya saja.

Menurut Hadits (Sahih) Jumlah seluruh Rasul ada sekitar 300, sedangkan jumlah Nabi sebanyak sekitar 120.000. Karena itu bukan mustahil ada rasul atau nabi yang lahir di China, India, atau tempat lain di luar para rasul dan nabi yang kita kenal hidup di sekitar kawasan Timur Tengah.

EDITOR : SETYANEGARA







banner 468x60