Muhammad Najib : Memahami Wajib Khitan Bagi Penganut Agama Samawi

Muhammad Najib : Memahami Wajib Khitan Bagi Penganut Agama Samawi
Dr Muhammad Najib




Oleh Dr. Muhammad Najib

Sejarah khitan dimulai dari Nabi Ibrahim AS (Abraham). Ibrahim diperintahkan untuk berkhitan pada saat usianya sudah 80 tahun. Sebagai seorang yang sangat taat ia kemudian segera memotong kulit yang menutupi kepala burungnya dengan tangannya sendiri.

Ibrahim sebagai Bapak Monotheisme atau Agama Samawi yang melahirkan agama Yahudi, Nasrani, dan Islam, merupakan model sentral bagi penganut ketiga agama ini. Hal tersebut bukan hanya disebabkan karena Ibrahim yang di dalam Al Qur’an dijuluki sebagai Khalilullah (Kekasih Allah) yang merupakan kakek dari para Nabi yang membawa agama Yahudi, Nasarani, dan Islam.

Lebih dari semua itu, nilai-nilai Tauhid atau keyakinan dan ketatannya kepada perintah Allah dilakukan secara total atau absolut. Hal ini bisa dilihat dari kisah dirinya setelah menemukan Tuhan yang dicarinya sebagaimana dikisahkan dalam Al Qur’an surah Al An’am ayat 76-79, kemudian ia menghancurkan patung-patung yang disembah oleh penduduk Babylonia yang dipimpin oleh Raja Namrud (Nimrod) saat itu. Ia mengabaikan resiko yang harus ditanggungnya, terbukti dirinya kemudian dilemparkan ke tungku api yang menyala.

Berikutnya Ia membawa Istrinya Siti Hajar dan anaknya Ismail dari Palestina menuju Makkah, kemudian meninggalkan mereka berdua sesuai perintah Allah. Bisa dibayangkan, saat itu lembah Bakka (Makkah) adalah lembah kosong dan kering yang dikelilingi bukit batu tanpa pohon dan tanpa air.

Beberapa tahun kemudian Ibrahim kembali ke Makkah untuk menemui istri dan anaknya yang sangat dirindukannya. Ia mendapati Ismail sudah besar dan sangat membanggakan dirinya. Saat itulah perintah untuk menyemblih Ismail datang.

Ibrahim sempat ragu, hingga 3 kali perintah itu datang melalui mimpi. Ibrahim kemudian menunaikan perintah itu yang kemudian diikuti oleh para pengikutnya dalam bentuk menyemblih kurban sebagai bagian dari ibadah sebagaimana dikisahkan dalam Al Qur’an Surah As Shaffat ayat 102-107.

Kini tradisi khitan yang diwariskan Ibrahim dilanjutkan secara ketat oleh penganut Yahudi dan Islam, sementara di kalangan Nasrani hanya sebagian kecil saja yang masih memeliharnya.

Dalam Islam perintah khitan dikuatkan oleh setidaknya dua hadits sahih: Pertama, hadits yang diriwayatkan oleh H.R.Ahmad yang berbunyi:Khitan itu sunnah bagi lelaki dan diutamakan bagi perempuan.

Kedua, hadits yang diriwayatkan oleh H.R.Ahmad yang berbunyi: Dari Abu Hurairah Rasulullah s.a.w. bersabda, bahwa Nabi Ibrahim melakukan khitan ketika berumur 80 tahun, dg menggunakan kapak.

Kini sejalan dengan kemajuan sain dan teknologi khususnya di bidang medis atau kedokteran, telah membuktikan bahwa khitan merupakan cara sangat efektif dan alami untuk menjaga kesehatan, khusunya bagi laki-laki.

Karena itu, kini banyak penganut agama selain penganut agama Samawi dan mereka yang mengaku tidak beragama atau atheis melakukan hitan atau sunat bukan dengan alasan agama, akan tetapi dengan alasan kesehatan.

Akankah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, bagi penganut agama Samawi akan membuat mereka semakin taat menjalankan agamanya ? Wallahua’lam.

EDITOR : SETYANEGARA







banner 468x60