Muhammad Najib : Mengapa Manusia Tidak Bisa Melihat Jin Dan Malaikat?

Muhammad Najib : Mengapa Manusia Tidak Bisa Melihat Jin Dan Malaikat?
Dr.Muhammad Najib




Oleh Dr. Muhammad Najib

Menurut Al Qur’an manusia dibuat dari tanah (Surah Al Hijr ayat 26), jin dari api ( Surah Al Hijr 27), sedangkan malaikat diciptakan dari cahaya (Hadits Sahih yang diriwayatkan oleh Aisyah RA),

Ketika Adam sebagai manusia pertama diciptakan di alam “Sana” , yakni bukan alam dunia yang menjadi tempat tinggalnya. Kemudian, setelah Adam dan istrinya Hawa dikeluarkan dari surga, Adam dapat berkomunikasi dengan malaikat dan jin, bahkan kepada Al Khalik Allah SWT ( Surah Al Baqarah ayat 31-33).

Setelah menjalani kehidupan di dunia pasangan Adam dan Hawa serta anak-cucunya harus menjalani kehidupan di suatu tempat yang memiliki sunnatullah atau hukum alam yang berbeda dengan alam sebelumnya.

Di alam dunia, manusia tidak bisa melihat jin maupun malaikat, kecuali jika keduanya menampakkan diri dalam wujud manusia atau wujud lain, hal ini banyak sekali dikisahkan di dalam Al Qur’an. Akan tetapi malaikat maupun jin dapat melihat manusia.

Karena itu, dapat dikatakan bahwa sunnatullah atau hukum alam yang berlaku di alam dunia, asal kejadian atau bahan baku dari tiap mahluk ciptaan Tuhan mempengaruhi cara berkomunikasi diantara mereka.

Menurut ilmu fisika, api bukan materi, akan tetapi wujud dari reaksi kimia yang terjadi antara suatu benda dengan oksigen yang menghasilkan panas yang dapat dirasakan.

Sedangkan cahaya dikatakan sebagai energi berbentuk gelombang elektromagnetik. Hanya cahaya dengan panjang gelombang tertentu dapat dilihat oleh mata manusia.

Sementara itu, tanah masuk kategori benda padat dengan ciri: memiliki berat, dimana bentuk dan ukuran tidak berubah jika dipindah-pindah.

Dibanding api dan cahaya, tanah dapat disentuh atau dipegang, sementara api hanya dapat dilihat dan dirasakan panasnya, sedangkan cahaya dengan panjang gelombang tertentu hanya dapat dilihat keberadaannya.

Bila menggunakan pendekatan matematika terkait dengan teori ruang, maka keberadaan malaikat, jin, dan manusia lebih mudah dijelaskan.

Kumpulan titik disebut garis. Garis menempati ruangan berdimensi satu. Segala sesuatu di luar garis dianggap tidak ada. Gabungan banyak garis membentuk bidang. Bidang menepati ruangan berdimensi dua. Segala sesuatu yang berada di luar bidang dianggap tidak ada. Contoh benda yang berada di ruang berdimensi dua adalah foto atau lukisan. Lalu gabungan banyak bidang disebut ruang. Istilah ruang disini sejatinya adalah ruang berdimensi tiga. Segala sesuatu yang berada di luar ruang berdimensi tiga dianggap tidak ada.

Manusia, hewan, tumbuhan, dan berbagai macam benda padat, cair, maupun gas berada di dalam ruang berdimensi tiga ini. Sementara malaikat dan jin menempati ruang dengan dimensi yang lebih tinggi dari dimensi tiga, bisa empat, lima, atau lebih.

Sudah menjadi hukum matematika mahluk yang berada dalam dimensi yang lebih tinggi bisa turun ke dimensi yang berada di bawahnya, namun tidak sebaliknya. Dengan kata lain, mahluk yang berada atau hidup dalam ruangan dengan dimensi lebih tinggi bisa melihat mahluk yang hidup dalam ruangan dengan dimensi yang lebih rendah.

Sebagai contoh manusia bisa melihat lukisan akan tetapi lukisan tidak bisa melihat manusia. Analogi yang sama bisa digunakan, bahwa malaikat atau jin bisa melihat manusia, akan tetapi manusia tidak bisa melihat jin maupun malaikat.

Penjelasannya malaikat atau jin dapat melihat manusia dengan cara turun ke ruangan dimensi tiga, sehingga berubah wujud menyerupai manusia atau mahluk lain, sementara manusia tidak bisa naik ke ruang dengan dimensi di atas tiga. Dengan demikian manusia tidak bisa melihat jin maupun malaikat.

Allah berada di ruangan dengan dimensi yang lebih tinggi lagi dibanding ruangan dimana malaikat dan jin berada, itulah sebabnya Allah bisa melihat malaikat dan jin akan tetapi tidak sebaliknya, kecuali atas kehendakNya.

EDITOR : SETYANEGARA







banner 468x60