Muhammad Najib : Mengenal Timur Leng Sebagai Penakluk Dari Asia Tengah

Muhammad Najib : Mengenal Timur Leng Sebagai Penakluk Dari Asia Tengah
Dr.Muhammad Najib




Oleh : Dr Muhammad Najib

NAMA aslinya “Timur” (baca: Taimur) yang dalam bahasa lokal berarti “besi”. Namun ia lebih dikenal dengan panggilan “Timur Leng” yang berarti: Timur si Pincang.

Sebutan: “si Pincang” disebabkan karena kaki kirinya pincang sejak lahir. Sebagian sejarawan menyebut kakinya pincang akibat terkena anak panah.

Di Uzbekistan, ia sangat dihormati sekaligus dibanggakan, serta ditempatkan sebagai pahlawan, karena itu ia dipanggil: “Amir Timur”. Kata “amir” berasal dari Bahasa Arab yang berarti “Pemimpin”.

Patungnya berdiri gagah dengan menunggang kuda di pusat ibukota Uzbekistan, Tashken. Selain itu, sebuah museum dibangun khusus yang didedikasikan untuk Amir Timur, juga berlokasi di pusat kota Tashken tidak jauh dari lokasi patungnya. Di musium ini dapat dilihat perjalanan hidup sang panglima, dan sejarah gemilang penaklukannya.

Ilustrasi : Timur Leng




Timur yang berdarah campuran Turki-Mongol diyakini lahir pada 9 April 1336 M di kota Kish, sekitar 80 km di Selatan kota Samarkand. Darah Mongolnya bila ditelusuri berujung pada Gengis Khan.

Amir Timur meninggal pada 1405 M karena sakit, dalam perjalanan ekspedisinya menuju China, sebagai bagian dari rencana perluasan wilayah kekuasaan. Ia berkuasa selama 35 tahun, dan dikenal sebagai penakluk Muslim yang tak terkalahkan di kawasan Asia Tengah.

Ia pernah mengalahkan Rusia, Turki Usmani, dan Persia, yang merupakan kerajaan-kerajaan besar di kawasan saat itu. Timur bahkan pernah menerobos sampai ke India. Salah seorang keturunannya yang bernama Babur kemudian mendirikan kerajaan Islam yang dikenal dengan Moghul atau Mughal yang mampu bertahan sampai datangnya penjajah Inggris.

Sejumlah sejarawan berpendapat, sekiranya tentaranya sampai menginjakkan kaki di wilayah negeri Tirai Bambu, maka China dipastikan akan mampu digenggamnya. Spikulasi seperti ini tentu bisa dipahami, mengingat selama petualangannya di medan perang, ia tidak pernah terkalahkan. Timur terus menjadi panglima dan berperang sampai usia 70-an.

Timur mengawali kariernya sebagai seorang begal. Keberanian dan kecerdasannya membuat semakin lama pengikutnya semakin banyak, sehingga membentuk gerombolan perampok di gurun atau stepa yang sangat ditakuti.

Gerombolan perampok ini kemudian bermetamorfose menjadi tentara bayaran, sejak sejumlah penguasa lokal menyewa jasanya, saat diperlukan untuk perluasan wilayah kekuasaan atau untuk keperluan menaklukan kerajaan lain.

Timur kemudian berpikir daripada terus-menerus menjadi tentara bayaran, mengapa dirinya tidak mendirikan kerajaan sendiri. Ia mengawali dengan mengambilalih keuasaan dari Amir Husayn yang sebelumnya menjadi sekutunya yang menjabat sebagai Gubernur di Transoxiana.

Husayn terbunuh dalam pertempuran mempertahankan kekuasaan. Timur kemudian menikahi jandanya yang bernama Saray Mulk Kahnum. Sejak itulah ia kemudian menaklukan satu-persatu kerajaan yang ada di kawasan Asia Tengah yang kini meliputi negara Kazakhstan, Uzbekistan, Kirghistan, Tajikistan, Turkmenistan, Xinjiang, dan Afghanistan.

Sayang kehebatannya ternoda oleh citranya yang bengis sebagai seorang penakluk. Hal ini disebabkan setiap kali menyerang wilayah yang taklukkan, pasukannya tidak segan untuk menghancur-leburkan kota-kota yang dilaluinya dan membantai penduduk yang mencoba melawannya.

Saat saya mengunjungi Museum Timur di Tashken, saya bertanya apakah informasi miring yang banyak diulas sejarahwan Barat seperti ini benar adanya? Sang guide penjaga museum tidak membantahnya. Hanya saja, ia menambahkan bahwa untuk mengendalikan wilayah taklukan yang sangat luas tidaklah mudah. Apalagi saat itu belum ada sarana transpotasi dan komunikasi seperti sekarang. Karena itu Amir Timur menggunakan management of fear katanya.

Wilayah Asia Tengah saat itu merupakan wilayah perdagangan sangat penting waktu itu, ekonominya maju, dan peradabannya tinggi, karena menjadi wilayah laluan para pedagang dari China di Timur sampai Eropa di Barat. Wilayah ini terhubung dengan kota-kota penting di Timur Tengah, seperti Bagdad, Aleppo, dan Damaskus. Lintasan ini dikenal dengan istilah “Jalur Sutra” atau Silk Road.

Sejak kapal laut menggantikan kuda dan onta sebagai sarana transportasi orang dan barang, wilayah ini mati secara perlahan. Kehadiran transpotasi udara membuat kematiannya menjadi sempurna.

Kemudian datang Rusia yang memasukkan wilayah ini sebagai bagian dari Uni Soviet, sehingga negara-negara yang berada di dalamnya tertutup rapat. Sejak 1991 wilayah ini terbuka kembali, setelah Uni Soviet bubar.

Kini China mengembangkan gagasan The New Silk Road yang diberi nama One Belt One Road (OBOR) atau Belt and Road Inisiative (BRI) yang akan menghubungkan wilayah ini melalui jalan TOL dan rel kereta api.

Akankah wilayah ini akan hidup kembali sebagaimana masa kejayaannya dahulu yang sampai kini masih dikenang dan menjadi legenda? Menarik untuk dicermati. Kemegahan wilayah ini pada masanya masih bisa dirasakan, bila kita mengunjungi kota Samarkand, Buchara, Tashken, dan Thermez, yang kini menjadi bagian dari negara Uzbekistan.

Penulis adalah Pengamat Politik Islam dan Demokrasi

EDITOR: SETYANEGARA







banner 468x60